Minggu, 31 Mei 2009

Tren % Gain NAB MDS (09/03-05/09)



... lagi secara JANGKA PANJANG (hampir 6 tahun atawa 68 bulan atawa 2000 hari) Manulife Dana Saham masih memberikan GAIN lebih dari 300%... berarti rata2 pertaon 50% ... jauh di atas suku bunga deposito rupiah dong ... bahkan pada krisfinalo terdalam yaitu 28 Oktober 2008: gain +130% ... masih memberi gain rata2 p.a. : 26%, tetap JAUH DI ATAS RATA2 SUKU BUNGA DEPOSITO 1 tahun, bahkan saat krisfinalo sekali pun ... KALO ORANG TETAP BUTA BILANG REKSA DANA SAHAM TIDAK MENARIK SAMA SEKALI KARENA NAEK TURUN... he3... berarti yang buta ITU PINTAR SEKALI ... gw pasti bodoh sekali dah ... he3...

Tren % Gain NAB SDI (bottom 12 Januari 2007)



... schroder dana istimewa adalah produk reksa dana saham yang sudah lama ...namun gw baru mulai beli sejak 12 Januari 2007, jadi 11 bulan sebelum amrik MASUK RESESI resmi ... segera tercermin betapa IMBAS EKONOMI GLOBAL AMRIK pada reksa dana ini ... padahal pada penutupan TAHUN BURSA 2007: GAIN 68%... namun pada 28 Oktober 2008, ANJLOK s/d -25% ... namun segera membaik s/d -3% pada penutupan TAHUN BURSA 2008 ... LALU SEKARANG SUDAH PULIH DAN MEMBERI GAIN TERHADAP BOTTOM TGL 12 JANUARI 2007 SEBANYAK: 35% ... berarti dalam dua setengah tahun sudah memberi rata2 gain 14% (dibandingkan deposito rupiah 1 tahun, berarti memberi gain lebih tinggi untuk hampir keseluruhan tahun 2007-2008, dan mirip dengan bunga deposito akhir 2008-April 2009) ... ini menunjukkan betapa pada saat KRISFINALO pun SDI CUKUP RENTAN KOREKSI TAPI KUKUH MEMBERI GAIN POSITIF DALAM JANGKA PANJANG ...

... gw mo berkisah sedikit: ada seorang teman dokter yang bercerita tentang seorang temannya inves saham di amrik, dan disimpan saja seperti kaya tabungan gitu ... ternyata saat krisfinalo masa investasi sahamnya sudah lebih dari 3 tahun, dan harga sahamnya malah ANJLOK BERAT, sehingga kesimpulan dokter itu adalah INVESTASI JANGKA PANJANG TIDAK BISA DI SAHAM ... well, gw berkomentar 2 hal soal itu:
- sebaiknya dokter itu juga menanyakan kembali berapa harga saham yang dipunyai temannya SAAT INI, apakah sudah terjadi perubahan harga yang memberi GAIN POSITIF...
- sebenarnya dalam JANGKA PANJANG pun, investasi bisa bergerak turun naik, tapi KETIKA INVESTASI JANGKA PANJANG SUDAH MEMBERIKAN GAIN POSITIF DI ATAS RATA2 SUKU BUNGA DEPOSITO biasa, MAKA ITU ADALAH KESEMPATAN UNTUK MEREALISASIKAN SEBAGIAN LABA ... seperti yang gw lakukan beberapa hari lalu (bahkan sudah lebih dari 6 kali sejak Desember 2008 dalam jumlah perkalinya sekitar puluhan jt rupiah), karena IHSG dalam Mei 2009 naik sebanyak sekira 10% ... WAH n WOW HANYA DALAM 1 BULAN INDEKS BURSA SAHAM INDONESIA MEMBERI GAIN 10% (COBA BANDINGKAN DENGAN SAHAM BBRI MEI 2009, TERNYATA SEDIKIT DI BAWAH IHSG KOK, YAITU SEKITAR 8-9% GAIN ... lihat link ini:  http://sahambbri.wordpress.com/2009/05/29/bbri-cetak-gain-di-bawah-10-dalam-mei-09/)... BAHKAN DALAM 2 BULAN, SEJAK awal April 2009, GAIN SEKIRA 30%, berarti SASARAN LABA UNTUK REKSA DANA SAHAM GW SETAHUN 2009 INI SUDAH TERPENUHI DONG ... benar sekali ... nah SDI memberi GAIN MEI 2009 SEBANYAK 10% juga ... sejak awal April, SDI sudah memberi gain 28% ... ya berarti mirip gain yang terjadi pada ihsg ...

Kamis, 28 Mei 2009

buktikan: setiap jenis REKSA DANA punya kekuatan masing-masing

Saya berencana menginvestasikan dana yang saya miliki pada produk reksa dana. Tapi sebelumnya, bisakah MrEdu menjelaskan kepada saya secara lebih detil mengenai reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap. Terima kasih.

Rudy Nainggolan


Jawaban:


Halo Rudy

Sebelum berinvestasi ke dalam jenis investasi apapun, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa dan bagaimana instrument investasi tersebut, khususnya reksa dana sehingga dapat memahami karakteristiknya baik dari segi keuntungan maupun risikonya. Definisi reksa dana berdasarkan UU Pasar modal disebutkan "Reksadana merupakan kumpulan dana dari masyarakat pemodal (investor ) yang kemudian diinvestasikan lagi oleh Manajer Investasi dalam bentuk portofolio investasi, yang bisa berbentuk deposito, SBI, saham, obligasi, atau surat berharga lainnya".

Untuk lebih mudahnya, secara umum pengertian reksa dana adalah kumpulan dana dari masyarakat pemodal (investor) untuk kemudian dikelola oleh Manager Investasi dan selanjutnya diinvestasikan pada berbagai jenis produk keuangan.

Manager investasi yang mengelola reksa dana haruslah mendapat ijin dari Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal) . Selanjutnya dana yang terkumpul oleh manager investasi kemudian diatur penempatannya secara tersebar ke dalam berbagai macam instrumen surat berharga seperti saham, obligasi, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Utang Negara (SUN ), juga produk bank seperti tabungan dan deposito.

Pengaturan susunan penempatan dana inilah yang dimaksud dengan portofolio investasi. Namun, seperti telah diterangkan bahwa portofolio investasi reksa dana tidak terdiri dari satu produk investasi saja, namun disebar ke dalam berbagai produk investasi. Strategi penyebaran ini dikenal dengan istilah diversifikasi. Tujuannya adalah mengurangi kerugian dengan menyebar risiko investasi.

Berdasarkan portfolio investasi yang terdiversifikasi ini, maka reksa dana dibagi dalam empat jenis, yaitu :

Pertama, Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), di mana Manajer Investasi akan menginvestasikan sebagian besar atau kurang lebih hampir 80 persen uang investornya ke dalam produk-produk investasi yang memberikan pendapatan tetap seperti pembayaran bunga misalnya tabungan, deposito , dan SBI . Sisanya sebagian kecil ditempatkan ke dalam obligasi (surat utang) jangka pendek.

Tingkat potensi risiko RDPU paling rendah atau konservatif dibandingkan Reksa Dana lain. RDPU cocok untuk Anda yang belum berani mengambil risiko tinggi namun tetap ingin mendapatkan return yang lebih tinggi dari deposito bank. RDPT juga cocok jika Anda hanya ingin menempatkan dana ke reksa dana dalam jangka pendek kurang dari satu tahun.

Kedua, Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT), d imana Manajer Investasi akan menginvestasikan sebagian besar uang investornya (80 persen) ke dalam produk-produk investasi pendapatan tetap, terutama pada obligasi. Sisanya (20 persen) diinvestasikan pada instrumen pasar uang (SBI, SUN ) atau produk bank seperti tabungan dan deposito.

Tingkat potensi risiko RDPT termasuk kategori menengah cenderung konservatif. RDPT cocok untuk Anda yang mengharapkan pendapatan tetap yang cukup stabil dari investasinya, dan tidak terlalu fluktuatif. RDPT juga cocok jika penempatan dananya antara satu sampai tiga tahun. Sebab dalam jangka waktu tersebut RDPT berpotensi memberikan return lebih tinggi daripada RDPU. Namun dalam jangka panjang kenaikan, misalnya jangka watu 10 tahunan kenaikan RDPT tidak setinggi kenaikan Reksa Dana Campuran atau Reksa Dana Saham

Begitulah kurang lebih perbandingan karakteristik reksadana pasar uang dengan reksa dana pendapatan tetap. Sedangkan dua jenis reksa dana yang lain adalah , sebagai berikut:

Ketiga, Reksa Dana Campuran (RDC), dimana Manajer Investasi akan menginvestasikan uang investornya ke dalam saham dan instrument pendapatan tetap, masing–masing dengan komposisi alokasi investasi yang kurang lebih sama yaitu 50 persen:50 persen.

Keempat, Reksa Dana Saham, dimana Manajer Investasi akan menginvestasikan uang sebagian besar atau hampir 80 persennya ke dalam saham, dan sisanya dimasukkan ke dalam instrumen pendapatan tetap seperti obligasi atau ke instrumen pasar uang seperti tabungan, deposito atau SBI

Nah , sudah kebayang kan? Kalau RDC mempunyai risiko investasi menengah cenderung agresif. Sedangkan RDS mempunyai risiko investasi yang agresif. Kedua jenis reksa dana ini cocok jika dana yang ditempatkan dalam RDC dan RDS tidak akan dipakai dalam waktu lama.

Misalnya 10 tahunan, artinya harus berinvestasi untuk jangka panjang. Sebab saham harganya berfluktuasi dalam jangka pendek, walaupun demikian cenderung naik terus dalam jangka panjang. Kenaikan harga saham dalam jangka panjang berpotensi lebih tinggi daripada kenaikan harga instrumen pendapatn tetap. Namun hati-hati return tinggi juga sebanding dengan risikonya yang tinggi.

Salam

• VIVAnews

Selasa, 26 Mei 2009

yang ini... gw ga ikutan dah...

Selasa, 26 Mei 2009 | 08:34

REKSADANA BARU PNM

PNM Rilis Reksadana Penyertaan Terbatas


JAKARTA. Sebuah produk reksadana penyertaan terbatas bakal kembali meluncur ke pasar. Kali ini, PNM Investment Management yang akan merilis produk reksadana khusus itu di akhir semester pertama 2009.
Tjatur Heri Priyono, Direktur PNM Investment, menyatakan, kini PNM tengah menjajakan calon produk itu kepada sekitar 10 calon investor, institusi dan perorangan. "Kemungkinan penerbitannya berlangsung secara bertahap," tuturnya, pekan lalu.

PNM Investment berharap, produk reksadana tersebut mampu menjaring dana Rp 100 miliar-Rp 200 miliar. "Namun, semuanya tergantung minat investor," imbuh Tjatur.

Aset dasar reksadana ini adalah surat utang jangka menengah alias medium term notes (MTN) terbitan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), induk usaha PNM Investment. Maklum, PNM butuh tambahan dana segar untuk mengembangkan pembiayaan sektor mikro.

Jadi, investor sebenarnya secara tidak langsung membeli MTN PNM melalui reksadana penyertaan terbatas itu.
Lantaran penempatannya di MTN, masa investasi reksadana ini hanya satu tahun. Namun, PNM Investment menjanjikan imbal hasil lumayan menggiurkan, yakni sekitar 15% setahun. "Ini masih kami diskusikan dengan investor," imbuhnya.

Direktur Utama PNM Parman Nataatmadja membenarkan tentang rencana penerbitan reksadana penyertaan terbatas itu yang akan menjadi alternatif sumber pendanaan PNM. Sebab, tahun ini PNM ingin menggenjot pengucuran kredit mikro menjadi sekitar Rp 1 triliun. "Nantinya, kami akan mengeluarkan commercial paper," ujarnya.

Parman mengungkapkan, hingga Mei ini, PNM baru mengucurkan kredit mikro Rp 100 miliar. Sekitar Rp 10 miliar berasal dari hasil penerbitan commercial paper.

Rudiyanto, analis lembaga riset reksadana PT Infovesta Utama menyarankan agar investor lebih mendalami reksadana yang akan diterbitkan PNM Investment tersebut. Maklum, produk reksadana ini memiliki afiliasi dengan induknya.

Jadi, investor harus mengetahui risiko dan seluk beluk proyek yang menjadi aset dasarnya. "Kalau kredibel sih tidak ada masalah," kata Rudi.



Abdul Wahid Fauzie KONTAN

obligasi dan reksa dana pendapatan tetap... kah...

Selasa, 26 Mei 2009 | 06:56

HARGA SURAT UTANG AMERIKA

Harga Obligasi Dolar Indonesia Meroket


JAKARTA. Sungguh beruntung para investor yang membeli obligasi global Pemerintah Indonesia yang terbit akhir Februari 2009. Kini, harga surat utang bermata uang dolar Amerika Serikat itu meroket.

Berdasarkan data Bloomberg kemarin (25/5), harga obligasi global bertenor lima tahun senilai US$ 1 miliar sudah mencapai 114,15. Adapun, harga obligasi senilai US$ 2 miliar yang bertenor 10 tahun bahkan mencapai 125,07.

Bayangkan bila Anda saat itu membeli obligasi global bertenor 10 tahun senilai US$ 100 juta. Saat ini, Anda sudah menikmati untung 25,07% plus diskon pembelian 0,7%. Jadi, dalam kurang dari tiga bulan, Anda sudah menikmati untung dari kenaikan harga sebesar US$ 25,77 juta atau sekitar Rp 263,4 miliar. Belum lagi, Anda sudah menikmati pembagian kupon pertama pada April lalu.

Tak heran apabila investor terus memburu obligasi global tersebut. Sebab, dengan tingkat kupon 10,375% untuk obligasi global bertenor lima tahuna dan 11,625% untuk tenor 10 tahun, obligasi global Indonesia ini kini menjadi instrumen terbitan pemerintah paling menguntungkan di dunia.

Meski harga sudah melonjak tinggi, yield kedua seri obligasi itu pun masih cukup tinggi, yakni 6,93% dan 7,89%. Bandingkan dengan yield US Treasury bertenor lima tahun yang kemarin hanya 2,21% dan US Treasury bertenor 10 tahun yang cuma 4,44%. "Yield obligasi global kita jelas masih lebih menarik," ujar Heru Helbianto, Head of Debt and Capital Market OSK Nusadana Securities, kemarin.

Ironisnya, saat investor memanen untung, pembayar pajak negeri ini justru paling dirugikan dengan penerbitan obligasi itu. Sejumlah pengamat menuding, pemerintah memberi yield terlalu tinggi. Padahal, dalam waktu yang nyaris sama, Filipina yang peringkat utangnya lebih rendah hanya memberikan yield 8% untuk obligasi globalnya.

Dihitung-hitung, kita mesti membayar bunga obligasi itu sebanyak US$ 10,375 juta atau Rp 106,04 miliar per tahun selama lima tahun, dan US$ 232,5 juta atau Rp 2,38 triliun per tahun selama 10 tahun.

Padahal, kita mencatat surplus fiskal sehingga tidak perlu meminjam dana dari badan multilateral lagi. "Ini kan kacau. Pemerintah salah mengestimasi penerimaan pajak dan kebanyakan berutang dengan biaya mahal. Ini blunder kebijakan fiskal yang ongkosnya sangat mahal," kritik Pengamat Ekonomi Adrian Panggabean.




Wahyu Tri Rahmawati, Asih Kirana, Ade Jun Firdaus, Sholla Taufiq KONTAN
Selasa, 26 Mei 2009 | 08:20

HARGA SUN

SUN Merangkak Naik, Investor pun Tersenyum


JAKARTA. Sungguh beruntung para pemegang Surat Utang Negara (SUN). Tidak hanya mendapatkan bunga tinggi, mereka juga meraih untung besar dari kenaikan harga SUN dalam tiga bulan terakhir. Yang paling kencang kenaikannya adalah harga SUN yang berjangka waktu panjang.

Ambil contoh harga SUN seri FR0036 yang berjangka waktu 10 tahun. Hingga kemarin (25/5), harga SUN seri ini sudah naik 14,74% sejak akhir Februari 2009 lalu menjadi 101,66. SUN seri FR0044 yang berjangka waktu 15 tahun naik lebih tinggi lagi. Harga SUN seri ini kemarin mencapai 86,63, atau naik 18,25% dari akhir Februari 2009.

SUN berjangka waktu 30 tahun, seri FR0050, juga naik cukup tinggi. Harga SUN seri ini sudah naik 17,19% sejak akhir Februari 2009 lalu menjadi 84,98. Meski tak setinggi SUN jangka panjang, harga jangka pendek juga meningkat.

Ujungnya, indeks obligasi pemerintah pun naik tajam. Kemarin, indeks obligasi pemerintah hasil hitungan Himpunan Pedagang Surat Utang Negara (Himdasun) berada di 90,29, naik 9,16% dari angka di akhir Februari lalu yang masih berada di posisi 82,71.

Direktur Mandiri Manajemen Investasi Andreas Gunawidjaja bilang, kenaikan harga SUN ini jelas menguntungkan investor. Contohnya, investor reksadana yang memiliki portofolio SUN. "Sekarang ini kami mendapatkan imbal hasil lebih banyak dari kenaikan harga SUN," katanya.

Menunggu data inflasi

Head of Debt Research Danareksa Sekuritas Budi Susanto melihat, sebelumnya harga SUN jangka pendek lebih cepat naiknya ketimbang SUN jangka panjang. Tapi, saat ini yang terjadi sebaliknya. Pergerakan harga SUN bertenor pendek kurang dari lima tahun justru terbatas.

Tapi, Vice President Head of Debt & Capital Market OSK Nusadana Securities Heru Helbianto memperkirakan, hingga akhir bulan ini, harga SUN mungkin tidak akan naik tinggi lagi. "Pasar masih akan menunggu data inflasi dan apakah ada penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) lagi," ujarnya.

Selain investor lokal, investor asing juga terus menambah dana mereka di SUN. Hingga 22 Mei 2009 lalu, total dana asing yang terparkir di SUN mencapai Rp 86,87 triliun. Dana asing ini sudah naik 3,77% ketimbang akhir April 2009 yang masih sebesar Rp 83,71 triliun.

Budi memprediksi, dana asing di SUN ini bisa kembali ke titik tertinggi Rp 106 triliun. "Tapi, mungkin baru tercapai tahun depan," ujarnya.




Wahyu Tri Rahmawati KONTAN

Senin, 25 Mei 2009

sanggup... ne... mosok seh... BUKTIKAN

Selasa, 19/05/2009 19:06 WIB

Schroder targetkan dana kelolaan Rp26 triliun

oleh : Irvin Avriano

JAKARTA (bisnis.com): PT Schroder Investment Management Indonesia menargetkan peningkatan dana kelolaan melebihi posisi pada 2007 dengan mencapai Rp26,01 triliun pada akhir tahun ini dari posisi akhir April Rp24,48 triliun.



Direktur & Head of Sales Schroder Indonesia Michael Tjandra Tjoajadi mengatakan target tersebut akan tergantung dari peningkatan nilai saham dan obligasi yang menjadi portofolio investasi reksa dana dan kontrak pengelolaan dana (KPD/discretionary fund) yang dikelola perusahaan.



"Kalau peningkatan yang sekarang terus terjadi dan tidak akan turun seperti tahun lalu, peningkatan dana kelolaan itu akan mungkin dan sangat kami harapkan," ujarnya belum lama ini.



Dia menjelaskan perusahaan mulai menawarkan produk reksa dana syariah Schroder Syariah Balanced Fud dyang akan didistribusikan melalui sedikitnya 10 bank penjual. Beberapa di antaranya yaitu Bank Commonwealth, Bank Danamon, BII, DBS Indonesia, The Royal Bank of Scotland, dan UOB Buana.



Reksa dana tersebut, lanjutnya, akan menggunakan jasa dari Deutsche Bank AG sebagai bank kustodian. Perusahaan juga berkeinginan membentuk satu reksa dana syariah baru tahun ini apabila dana kelolaan reksa dana yang diluncurkan tersebut mencapai Rp1 triliun sebelum akhir tahun.



Perusahaan, lanjutnya, juga berencana menerbitkan 2 hingga 5 reksa dana baru lain tahun ini, salah satunya reksa dana pendapatan tetap dan menutup kemungkinan akan dibuat reksa dana saham. "Kami sudah memiliki dua reksa dana saham, masing-masing memiliki kekhususan saham berkapitalisasi besar dan lainnya untuk saham berkapitalisasi menengah dan kecil". (tw)

bisnis.com

Sabtu, 23 Mei 2009

mandiri MENDIRIKAN semangat lage...

19/05/2009 - 12:54
MMI Bakal Terbitkan MPDP7 Rp 200 M
Susan Silaban
INILAH.COM, Jakarta - PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) berencana menerbitkan Reksadana Mandiri Terproteksi Dana Bertahap 7 Atau MPDP7 senilai Rp 500 miliar.

Hal ini dijelaskan Direktur Mandiri Manajemen Investasi, Andreas Muljadi saat ditemui di lobi Bapepam, Selasa (19/5).

Ia menjelasakan, imbal hasil yang diberikan sebesar 11% dengan jangka waktu 1 tahun. Saat ini, Mandiri tengah menyelesaikan bookbuilding dan diharapkan selesai pekan ini. Adapun underlying aset reksadana MPDP7, yakni MTN FIF.

"Mengapa MTN, karena investor ada yang menyukai risiko tinggi. Dengan demikian yield yang diberikan pun tinggi. Untuk itu kita buat produk untuk investor," jelasnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan saat ini sudah ada 3 produk yang sudah diterbitkan dan rencananya Mandiri akan menerbitkan produk reksadana terproteksi. "Minimal 1 tahun ada 1 produk," jelasnya.

Saat ini, dana kelolaan MMI sebesar Rp8,7 triliun dan ditargetkan tahun 2009 sebesar Rp 12 Triliun. [cms]

kapan semua produk reksa dana diperingkatkan...

23/05/2009 - 11:10
Peringkat Reksadana Batavia 'idAA+f'
Susan Silaban


(inilah.com/Bayu Suta)
INILAH.COM, Jakarta - Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) mempertahankan peringkat kualitas kredit untuk reksadana pasar uang 'Si DanaKas Maxima' (reksadana) yang dikelola Batavia Prosperindo Asset Management tetap di idAA+f.

Peringkat tersebut ditetapkan berdasarkan portofolio reksadana per 30 April 2009. Peringkat tersebut mencerminkan underlying asset dari reksadana yang memberikan proteksi yang kuat terhadap kerugian yang terjadi dari kemungkinan gagal bayar aset-aset tersebut.

Aset dengan peringkat AA dan A tetap menjadi bagian terbesar pada portofolio Reksadana dengan porsi masing-masing 33,1% dan 30% dari total portofolio.

Porsi penempatan kas pada bank dengan peringkat di bawah kategori A berdasarkan penilaian PEFINDO sedikit menurun 12,7% di Maret 2009 menjadi 11,8% di April 2009. Sementara itu penempatan pada obligasi pemerintah meningkat dari 9,2% menjadi 18,8% pada periode yang sama.

“Walaupun PEFINDO tidak memberikan peringkat terhadap obligasi pemerintah, PEFINDO yakin bahwa obligasi pemerintah memberikan kualitas kredit paling kuat di antara instrumen obligasi yang diterbitkan di Indonesia,” jelas analis PEFINDO Julius Teddy dalam siaran pers yang diterima INILAH.COM, Sabtu (23/5). [cms]

setelah 19 bulan, SDT2 akan membuat teman gw tersenyum..



... schroder dana terpadu II ini salah satu reksa dana campuran yang kebetulan diinves oleh seorang teman gw .... nah, jelas sekali teman ini (dan termasuk gw) akan mengalami fase yang berbeda sekali setelah break even tercapai ... diharapkan setelah masuk pada 1 Nov 2007 di 1566, maka saat ini di 1517, maka ekspektasi akan melampaui titik awal sudah semakin dekat, dan semoga pada akhir 2009, GAIN yang positif dapat dicapai dan dalam jumlah persentase yang cukup bagus lah ...

% Gain NAB SDI (28 Okt 2008-20 Mei 2009)



pasca KRISFINALO TERDALAM, yaitu bottom: 28 Oktober 2008, maka 7 bulan kemudian, Schroder Dana Istimewa berhasil mencapai % Gain sebanyak nyaris 77% ... mungkinkah itu buah kesabaran? rasanya sih ngga lah ... itu BUAH KENEKATAN ... tidak ada cerita KEPASTIAN dalam dunia investasi, yang ada DONGENG KEBETULAN, yaitu investor NEKAT menahan diri untuk menabung secara canggih dalam reksa dana saham ... begitu aja kok repot seh ...

Jumat, 22 Mei 2009

dolar diobligasikan direksadanakan terproteksi pula

Jum'at, 22 Mei 2009 | 10:40

REKSADANA TERPROTEKSI DOLAR

Manulife dan Fortis Luncurkan Reksadana Terproteksi Dolar


JAKARTA. Reksadana terproteksi masih menjadi wahana investasi favorit di masa sekarang. Para manajer investasi (MI) pun masih gencar menawarkan produk ini. Kini dua MI, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) dan PT Fortis Investment, berniat meluncurkan reksadana terproteksi dalam dolar Amerika Serikat (AS).

Presiden Direktur MAMI Denny Thaher mengklaim telah mengantongi pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) bagi produk reksadana dolarnya. "Mungkin kami mulai memasarkan awal bulan depan," imbuhnya, Rabu (20/5).

Reksadana yang bernama Manulife Dana Tetap Harapan US$ itu bertenor lima tahun dan akan menempatkan 100% dana kelolaannya di obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS. "Imbal hasilnya baru akan ditentukan saat peluncuran, tapi indikasinya akan di bawah 7%," jelas Denny.

Jika ingin memiliki produk tersebut, investor harus menyiapkan minimal US$ 1.000. MAMI menargetkan, reksadana baru ini bisa menjaring dana masyarakat antara US$ 10 juta-US$ 15 juta.

MAMI optimistis bisa memenuhi target ini tanpa harus menggandeng bank sebagai agen penjual. "Kami sudah menjajaki sekitar sepuluh investor," imbuh Denny.

Di samping reksadana terproteksi dolar AS, MAMI menargetkan hingga akhir tahun ini akan meluncurkan dua lagi reksadana baru, yakni reksadana campuran dan terproteksi. "Tapi, masih terlalu dini membahasnya," kilah Denny.

Yang jelas, dengan penerbitan reksadana-reksadana baru tersebut, MAMI berharap bisa mencapai target dana kelolaan tahun ini sebesar Rp 20 triliun. Hingga pekan kedua Mei, dana kelolaan MAMI sudah mencapai Rp 19 triliun, naik dari Rp 16,5 triliun pada akhir tahun lalu.

Nyaris bersamaan, Fortis Investment pun sudah siap meluncurkan reksadana terproteksi dolar AS. "Kami sudah mendapatkan pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk Terproteksi Fortis Kapital USD 1, awal bulan ini," ungkap Eko Pratomo, Direktur Utama Fortis Investment.

Mirip dengan produk MAMI, reksadana terproteksi dari Fortis ini juga akan menempatkan mayoritas dana kelolaannya di obligasi pemerintah.

Bedanya, Fortis tidak mematok minimal investasi reksadana ini. "Tergantung agen penjual," imbuh Eko.
Kini, Fortis tengah menunggu kesiapan agen penjual untuk memasarkan produk itu. "Masih harus izin Bank Indonesia (BI)," tandas Eko.



Abdul Wahid Fauzie KONTAN
... well liat aja dah, apa mampu menarik minat investor lokal yang MAYORITAS KESENGSEM VALAS karena faktor risk averses

Selasa, 19 Mei 2009

membara setelah TINGGI.... he3... telmi ... seh...

Selasa, 19 Mei 2009 | 08:51

INVESTASI REKSADANA

Gairah Investasi di Reksadana Membara Lagi

JAKARTA. Gairah investor untuk berinvestasi di reksadana mulai membara lagi. Hingga April 2009, total dana kelolaan industri reksadana telah mencapai Rp 87 triliun, naik sekitar 15% dari posisi akhir tahun lalu.
Sebagai perbandingan, di akhir Desember 2008, total dana kelolaan reksadana sekitar Rp 74 triliun. Per Desember 2007, total dana kelolaan reksadana Rp 97 triliun.
Direktur Schroder Investment Management Michael Tjoajadi meyakini, prospek industri reksadana sangat cerah tahun ini. Dia meramal, hingga akhir 2009, dana kelolaan reksadana bisa mencapai angka Rp 100 triliun.
Itu sebabnya, Schroder pun optimistis dana kelolaannya tahun ini bisa menyamai pencapaian 2007. Dua tahun lalu, total dana kelolaan Schroder mencapai Rp 26,02 triliun. Tapi, tahun lalu, total dana kelolaan Schroder turun 21% menjadi Rp 20,54 triliun. "Saya berharap keadaan membaik," ujar Michael, Senin (18/5).
Michael berani memasang target seoptimistis itu karena hingga April 2009 Schroder sudah berhasil mengumpulkan Rp 24,48 triliun. Empat bulan pertama tahun ini, Schroder Indonesia sudah merilis 13 reksadana terbuka dan 10 reksadana terproteksi.
Reksadana terbaru Schroder adalah reksadana campuran berbasis syariah bernama Schroder Syariah Balanced Fund. Reksadana syariah pertama Schroder ini telah mendapatkan pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal pada 22 April 2009. Reksadana ini menempatkan 5%-79% dana investasi di obligasi syariah dan 5%-79% lainnya pada saham halal.
Michael melihat, pasar reksadana syariah di Indonesia sebenarnya masih terbuka lebar. Schroder bahkan berani mematok target dana kelolaan Rp 1 triliun dari reksadana syariah tersebut selama dua hingga tiga tahun mendatang.
Sedangkan sepanjang tahun ini, Schroder menargetkan mampu meraup Rp 300 miliar lewat produk ini. "Jadi, selama enam bulan, kami berharap bisa menjual sepertiga dari target," ujar Michael.
Guna memasarkan produk reksadana syariah terbaru ini, Schroder akan menggandeng beberapa bank seperti Bank Commonwealth, Bank Danamon, Bank BII, DBS, RBS, Standard Chartered Bank dan UOB Buana sebagai agen penjual.


Fitri Nur Arifenie KONTAN

Senin, 18 Mei 2009

return on indonesia mutual fund = roimf...

Senin, 18/05/2009 00:00 WIB

Return reksa dana saham 34,24%

oleh :

JAKARTA: Return reksa dana saham sejak awal tahun membukukan rerata sebesar 34,24%, yang ditopang oleh saham sektor pertambangan dan infrastruktur yang masih menunjukkan peningkatan tinggi.



Indeks harga saham sektor pertambangan dan infrastruktur sejak awal tahun membukukan pertumbuhan masing-masing sebesar 64,548% dan 20,09% hingga akhir April.



Namun, hingga pada akhir pekan lalu pertumbuhan indeks pertambangan kembali meningkat hingga 78,59%, sedangkan indeks saham infrastruktur justru melemah hingga 12,38%.



Data PT Infovesta Utama menunjukkan return reksa dana saham menjadi yang tertinggi di antara reksa dana campuran yang mencapai 16,87% dan pendapatan tetap sebesar 3,3%.



Apabila dibandingkan dengan rerata return tahun lalu, reksa dana saham juga meningkat pesat sebesar 291,39% dari minus 17,88%.



Dirut PT Pratama Capital Asset Management Djoni Gunawan menilai performa bagus reksa dana yang dikelolanya yaitu Pratama Saham dan Dana Pratama Ekuitas disebabkan pengalihan portofolio investasi dari sektor perbankan dan properti ke pertambangan dan infrastruktur.



Dia meyakini indeks saham akan terus bergerak hingga level 2.000 hingga akhir tahun ini.



"Pasti ada penurunan [indeks], tidak mungkin harga saham menguat terus, dan itu yang selalu kami ingatkan kepada investor agar tidak perlu panik," ujarnya kepada Bisnis belum lama ini.



Dia menjelaskan perusahaan mematok minimal investasi pada reksa dananya sebesar Rp50 juta supaya pengelolaannya lebih mudah dan tidak banyak arus dana keluar masuk terlalu besar.



Direktur PT Fortis Investments Tino Moorrees mengatakan saat ini return reksa dana yang dikelolanya, Fortis Solaris, bergerak lebih lincah daripada IHSG. Pertumbuhan itu disebabkan pilihan saham dari sektor infrastruktur dan komoditas yang dipilihnya berasal dari saham berkapitalisasi menengah dan kecil.



"Hal itu dapat mendiversifikasikan portofolio investor, sehingga sebaiknya menjadi pilihan untuk mengalokasikan 10% - 20% dari dana investasinya, tidak perlu banyak- banyak."



Dia menilai alokasi tersebut dapat membantu menaikkan return investasi nasabah yang lebih besar daripada pergerakan IHSG.



Portofolio Manajer Aset PT Danareksa Investment Management Ernawan R. Salimsyah mengatakan return 37,41% sejak awal tahun Danareksa Mawar Agresif yang dikelolanya, sebanyak 32% didapatkan dalam sebulan terakhir.



Reksa dana dengan dana kelolaan sebesar Rp200 miliar tersebut, tuturnya, tidak menerima banyak pembelian aset baru sehingga secara umum pertumbuhannya hanya berasal dari pertumbuhan nilai aset.



"Pertumbuhan harga saham kedua sektor itu itu disebabkan momen perbaikan ekonomi, dan beberapa manajer investasi ikut-ikutan membeli sehingga harganya semakin melambung."



Menurut dia, manajer investasi harus aktif dalam memilih sektor yang sedang murah dan diperkirakan menguat tidak lama lagi.



Manajer Investasi PT BNI Securities Harris Dalimunthe mengatakan perusahaan belum berniat mengalihkan sektor saham yang akan dijadikan target investasi.



Hal itu, tuturnya, karena masih melihat potensi kenaikan harga saham sektor pertambangan dan infrastruktur dalam jangka waktu 2 bulan bagi reksa dana BNI Dana Berkembang yang dikelolanya. (21)



Bisnis Indonesia

bisnis.com

Sabtu, 16 Mei 2009

buktikan: catatan klasik soal reksa dana

Jangka Waktu Investasi di Reksa Dana
Jangka waktu investasi di bank dan reksa dana berbeda. Jangka waktu di RD bisa panjang.
SENIN, 6 APRIL 2009, 15:20 WIB

ilustrasi wealth management
BERITA TERKAIT
Mari Memahami Peraturan Produk Reksa Dana
Menimbang Investasi di Bank dan Reksa Dana
Mana yang Menarik, Reksa Dana atau Deposito
Diversifikasi Investasi Lewat ORI
Keuntungan Membeli ORI
Web Tools

Rubrik Konsultasi Wealth Management diasuh oleh sejumlah konsultan seperti konsultan dari Certified Wealth Managers Association (CWMA) dan Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI). Pembaca dapat mengirimkan pertanyaan atau berkonsultasi seputar masalah wealth management dan reksa dana. Pertanyaan dapat dikirim lewat email: redaksi@vivanews.com, surat dialamatkan ke redaksi Vivanews.com di Menara Standard Chartered Lt. 31, Jl. Prof. Dr. Satrio No. 164, Casablanca, Jakarta atau Fax. 62-21 2553 2563.

-----------------------------------------------

JANGKA waktu investasi di perbankan dan reksa dana berbeda. Di perbankan, umumnya jangka waktu penempatan dana untuk jangka pendek.

Produk tabungan dapat ditarik kapan saja, sedangkan deposito berjangka waktu satu bulan hingga dua tahun. Biasanya, makin pendek jangka waktu investasinya, bunga yang akan diterima akan lebih rendah.

Sementara itu, dalam berinvestasi di reksa dana, Anda dapat mengatur jangka waktu investasi sesuai dengan kebutuhan dan tujuan investasi. Nasabah dapat berinvestasi mulai dari jangka pendek hingga panjang.

Meskipun secara umum, semakin panjang jangka waktu berinvestasi di reksa dana, semakin tinggi hasil investasinya. Namun, nasabah tetap terbuka kemungkinan untuk memperoleh hasil investasi yang tinggi dalam jangka pendek.

Terkait biaya, bank akan mengenakan biaya administrasi bulanan, khususnya pada produk tabungan. Namun, pada reksa dana, Anda akan menanggung biaya pembelian dan biaya penjualan kembali unit penyertaan sesuai dengan kebijakan yang tercantum dalam prospektus.

Lalu, bagaimana caranya Anda dapat menyiasati untuk memperoleh potensi imbal hasil semaksimal mungkin dengan berinvestasi di reksa dana?

Setiap reksa dana mempunyai kebijakan investasi untuk mengalokasikan dana di instrumen investasi tertentu. Dana yang dikelola secara profesional oleh manajer investasi dalam sebuah portofolio diatur sedemikian rupa sehingga memberikan imbal hasil yang maksimal.

Pertama, tentukan tujuan investasi dan jangka waktu yang diperlukan dalam memenuhi kebutuhan hidup yang sudah Anda rencanakan. Kemudian, kenali karakter investasi, khususnya tingkat risiko yang mampu Anda terima.

Selanjutnya, tentukan reksa dana mana yang paling tepat untuk kebutuhan investasi. Bila Anda termasuk konservatif, yaitu hanya mampu menerima risiko yang rendah dengan jangka waktu investasi yang pendek, yaitu 1-2 tahun, Anda cocok untuk berinvestasi di reksa dana pasar uang.

Namun, bila Anda tipe yang moderat dengan tingkat risiko yang sedang, Anda cocok berinvestasi di reksa dana pendapatan tetap dengan jangka waktu menengah, yaitu 3-5 tahun.

Dan bila Anda adalah tipe agresif, memahami adanya risiko high risk high return, dan mempunyai jangka waktu investasi yang panjang, yaitu 5-10 tahun, berinvestasilah di reksa dana saham.

Anda sudah menabung. Berinvestasi di reksa dana adalah langkah tepat selanjutnya. Sudahkah Anda berinvestasi di reksa dana?

Andreas M Gunawidjaja dan Soca Lukitasari
PT Mandiri Manajemen Investasi
Corporate Strategic Partner CWMA

Selasa, 12 Mei 2009

obligasi menggiurkan, RDPT menantikan sang kembang...

Selasa, 12 Mei 2009 | 07:58
SUN JANGKA PANJANG
SUN Jangka Panjang Mulai Diminati Investor

... akan kah berimbas ke REKSA DANA PENDAPATAN TETAP juga ... well ditunggu dah ...
JAKARTA. Perdagangan Surat Utang Negara (SUN) memang belum seramai tahun lalu. Tapi, investor sudah mulai berani masuk ke SUN dengan tenor lebih panjang. "Belakangan ini, memang perdagangan SUN berjangka waktu lebih dari tujuh tahun mulai ramai," kata Budi Susanto, Head of Debt Research Danareksa Sekuritas, Senin (11/5).

Data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang memperlihatkan, selama empat bulan pertama 2009, nilai transaksi SUN bertenor lebih dari tujuh tahun di pasar sekunder mencapai Rp 116,93 triliun atau 45,76% dari total transaksi.

Adapun, pada April saja, nilai transaksinya mencapai Rp 32,79 triliun yang mencerminkan 46,36% dari total transaksi. Padahal, selama Januari 2009, nilai transaksinya hanya Rp 16,49 triliun atau 38,18% dari total transaksi.

Ada dua faktor utama yang mendorong peningkatan nilai transaksi obligasi berjangka waktu panjang. Pertama, persepsi investor terhadap prospek perekonomian membaik. Dengan kata lain, ada ekspektasi pemulihan ekonomi. Kedua, "Jika likuiditas global sudah bertambah, investor cenderung masuk ke surat utang dengan tenor yang lebih panjang," ungkap Budi.

Biasanya, investor membeli surat utang bertenor panjang karena ingin memegang obligasi tersebut hingga masa jatuh temponya tiba. Sebaliknya, jika ingin mendapat keuntungan cepat, investor akan cenderung membeli surat utang bertenor pendek.

Transaksi makin marak

Budi memperkirakan, transaksi SUN bertenor panjang akan lebih ramai lagi. Alasannya, imbal hasil atau yield obligasi ini jauh lebih menarik daripada bunga simpanan di bank. Untuk menangkap peluang tersebut, pemerintah akan menambah keramaian pasar SUN dengan melelang SUN bertenor panjang.

Dalam lelang hari ini, pemerintah akan menjual SUN seri FR0030 bertenor tujuh tahun, seri FR0044 bertenor 15 tahun, dan seri FR0050 bertenor 19 tahun. Selain itu, pemerintah juga melelang Surat Perbendaharaan Negara (SPN) yang berumur cuma setahun. Dari penjualan empat seri surat utang tersebut, pemerintah mematok target perolehan dana sebanyak Rp 2 triliun.

Analis Obligasi Trimegah Securities Ariawan meramalkan, pemerintah akan lebih banyak menjual seri FR0050 agar transaksinya kian likuid. "Karena total nilai obligasi seri ini baru sekitar Rp 2 triliun," jelas Ariawan. Sekadar pembanding, nilai SUN seri FR0030 saat ini Rp 9,51 triliun dan FR0044 Rp 7,99 triliun.

Budi meramalkan, pemerintah akan terus menawarkan SUN jangka panjang. "Mungkin nanti lelang SPN akan berhenti," imbuhnya.

Wahyu Tri Rahmawati KONTAN

MDS silakan menuju rekor lage dah...



... MDS sedang menuju ke tingkat REKOR TERTINGGI SEPANJANG SEJARAH yaitu pada 09 Januari 2008: 7.064,07 ... sementara saat ini NAB Manulife Dana Saham = 4.852,72 (tgl 08 Mei 2009) ... berarti masih ada GAP sebesar -31% ... well, the name of the game is the art of possibility ...

TOTAL ASET reksa dana saham BERKIBARlah di ujung tiang...

Selasa, 12 Mei 2009 | 07:04
KINERJA REKSADANA
Awal Tahun, Kinerja Reksadana Saham Mulai Cemerlang


JAKARTA. Meski sempat longsor tahun lalu, kinerja reksadana saham mulai cemerlang sejak awal tahun ini. Data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) per Maret 2009 menunjukkan, dana kelolaan reksadana saham bertambah 5,13% menjadi Rp 20,91 triliun. Jumlah ini menyumbang 27,02% dari total dana kelolaan reksadana yang berjumlah Rp 77,39 triliun.

Bahkan, total dana kelolaan reksadana saham naik 19,08% jika dibandingkan dengan posisinya pada Oktober 2008. Sedikit kilas balik, sepanjang tahun 2008 itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 50%. Penurunan ini menyebabkan dana kelolaan reksadana saham anjlok hingga tinggal Rp 17,56 triliun, Oktober 2008. Sementara, pada awal 2008, dana kelolaan reksadana saham masih sebesar Rp 37,53 triliun.

Fajar R Hidayat, Asset Management Division Head Trimegah Securities memprediksi, kondisi pasar saham di semester kedua 2009 akan lebih stabil. "Stabilnya pergerakan IHSG memberikan kepastian dan peluang bagi meningkatnya dana kelolaan reksadana saham," tutur Fajar.

Hingga kini, Trimegah Securities memiliki dana kelolaan reksadana saham Rp 1,5 triliun. Trimegah mematok target, sampai akhir 2009 Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksadana saham mereka tumbuh 25% .

Sedangkan Direktur Mandiri Manajemen Investasi (MMI) Andreas Gunawidjaja berkata, dana kelolaan reksadana saham MMI naik 38,5% dari Desember 2008. Saat ini, total dana kelolaan dua reksadana saham MMI mencapai Rp 1,2 triliun. Akhir tahun lalu, jumlahnya masih Rp 866 miliar.

Sandy Baskoro, Wahyu Tri Rahmawati KONTAN
Selasa, 12 Mei 2009 | 08:12
REKSADANA SAHAM
Hasil Reksadana Saham Mulai Menggiurkan


JAKARTA. Mimpi buruk para investor reksadana saham mulai sirna. Jika tahun lalu reksadana saham jeblok karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) merosot 50,36%, kini hasil reksadana saham kembali menggoda. Nilai aktiva bersih (NAB) beberapa reksadana saham bahkan sudah naik di atas 30% dalam sebulan terakhir.

Misalnya, Si Dana Saham terbitan Batavia Prosperindo yang NAB-nya naik hingga 49,2%. Siapa yang tak tergiur dan berpikir: inikah saat yang tepat untuk kembali membeli reksadana saham?

Para analis ternyata menyarankan investor sebaiknya tetap berhati-hati memanfaatkan momentum ini. "Saat ini, kenaikan IHSG cukup mengejutkan. Tapi, kita belum tahu apakah kondisi ini benar-benar berlanjut atau tidak," ujar Andreas Gunawidjaja, Direktur Mandiri Manajemen Investasi, kemarin (11/5).

Menurut Andreas, prospek reksadana saham ke depan sangat tergantung pada kelangsungan pasar saham domestik dan regional. Maklum saja, pasar saham domestik kerap bergerak mengikuti sentimen pasar regional dan global. Sayangnya, hingga kini belum ada pengamat pasar modal yang berani memastikan pasar saham global telah kembali ke tren bullish.

Terlepas dari kondisi itu, sejatinya investor reksadana saham yang berorientasi jangka panjang bisa masuk kapan pun. Sekarang pun boleh dibilang saat yang tepat untuk berbelanja reksadana saham.

Apalagi, IHSG mungkin akan terus naik hingga menjelang pemilihan umum presiden nanti. "Koreksi pasti ada tapi trennya naik terus," prediksi Wawan Hendrayana, Analis Infovesta Utama, lembaga riset reksadana.

Bagi mereka yang tidak berorientasi jangka panjang sebaiknya menetapkan target tertentu. "Misalnya, setelah naik 20%, tarik dulu keuntungannya dan sisakan pokoknya saja," saran Wawan. Kemudian, saat IHSG turun, mereka bisa berbelanja lagi.

Investor sebaiknya juga mencermati isi portofolio saham reksadana incarannya. Reksadana yang lebih dominan menempatkan dana pada saham-saham komoditas, kemungkinan akan mempunyai kinerja yang lebih baik. "Karena kenaikannya cukup agresif," ungkap Andreas.

Wahyu Tri Rahmawati, Sandy Baskoro KONTAN

Selasa, 05 Mei 2009

% Gain NAB PMN ASy (6 bulan sejak krisfinalo)

... pmn amanat syariah memberi gain +5% lebih ... 

% Gain NAB MONI II (6 bulan sejak krisfinalo)

... manulife obligasi negara indonesia II memberi gain +4% ...

% Gain NAB MSA (6 bulan sejak krisfinalo)

... manulife saham andalan memberi gain +80% lebih ... 

% Gain NAB SDPP (6 bulan sejak bottom krisfinalo)

... schroder dana prestasi plus memberi gain +70% ... 

% Gain NAB FE dalam 6 bulan dari bottom krisfinalo

... Fortis Ekuitas sebagai reksa dana saham sejak bottom 28 Oktober 2008 (saat KECEMASAN TERDALAM INVESTOR SEGALA JENIS YANG BERBAU RUPIAH ... saat juga gw tetap NEKAT membeli unit reksa dana ini dan TIDAK MELAKUKAN CUT LOSS pada saat itu) telah memberikan gain : +80% lebih ... berarti dalam 6 bulan memberikan gain 80% yang kalau dianualisasikan akan menjadi 160% ... 

% Gain NAB FRP (6 bulan dalam krisfinalo)

... emang sih Fortis Rupiah Plus adalah reksa dana berbasis obligasi negara/surat utang negara aka reksa dana pendapatan tetap (fixed income) ... nama inilah yang menjadi inti kekeliruan awal para deposan yang beralih ke jenis investasi ini ... FRP ternyata memberi gain di atas 8% dari akhir Oktober 08 ke awal Mei 09 (sekira 6 bulan) ... jika dianualisasikan menjadi 16% p.a. ... bedanya dengan deposito, pajaknya kecil yaitu 0% untuk 2009 ...