Jumat, 15/10/2010 05:00:32 WIB
Penetrasi reksa dana di Kalsel masih kecil
Oleh: Irvin Avriano A.
JAKARTA: Pangsa pasar reksa dana di wilayah Kalimantan Selatan, masih prospektif untuk dikembangkan karena penetrasi pasar reksa dana di wilayah itu masih kecil.
"Kalsel, seperti provinsi-provinsi di luar Jawa lainnya dengan penetrasi yang masih rendah untuk produk reksa dana, berpotensi pasar yang sangat besar untuk produk-produk reksa dana berisiko moderat seperti reksa dana terproteksi," ujar Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) Andreas Gunawidjaja, tadi malam.
Andreas menjelaskan dengan alokasi investasi pada obligasi pemerintah, produk reksa dana terproteksi menawarkan kepada investor adanya proteksi atas nilai investasi awal mereka. Meskipun produk ini memiliki tingkat risiko yang relatif rendah, reksa dana jenis itu tetap memiliki potensi tingkat pengembalian yang relatif tinggi.
Menurut dia potensi masyarakat daerah Kalsel itu didukung oleh kondisi perekonomian di daerah itu yang meningkat karena adanya sumbangan komoditas hasil alam daerah itu yang sedang diminati investor. Asumsi itu terbukti dari pertumbuhan ekonomi di kuartal I dan II 2010 yang mencapai 5,5%–6%.
"Pertumbuhan positif itu disebabkan oleh beberapa hal a.l. membaiknya harga komoditas di pasar internasional dari beberapa hasil alam yang diekspor oleh Kalsel seperti kelapa sawit dan batubara. Selain itu meningkatnya konsumsi masyarakat," ujarnya. (yus) kontan
KEEP BUYING, jangka panjang LEBE BAGU$, pindah ke http://investasireksadanaindonesiagw.blogspot.com/ aka INVESTASI REKSA DANA INDONESIA gw
gW suka BANGET ketidakPASTIan
Jumat, 15 Oktober 2010
window dressing November, RDS ngebut ... 151010
Memanfaatkan Window Dressing Reksa Dana Saham
Anda seorang investor reksa dana saham? Jika ya, saya yakin sekali bahwa anda saat ini sedang bingung. Saatnya take profit, atau malah nambah lagi ya?
Didukung dengan terus masuknya dana asing, harga saham di Indonesia menguat secara signifikan. Per tanggal artikel ini dibuat, IHSG sudah beberapa kali mencoba menembus level 3500 namun tidak berhasil. Mungkin saja pada saat artikel ini dimuat, IHSG bahkan sudah menguat ke level yang lebih tinggi.
Hal ini tentu saja menjadi berita gembira bagi investor reksa dana saham karena investasinya sudah menguntungkan. Namun bagi sebagian investor yang belum sempat atau ingin menambah investasinya di reksa dana saham menimbulkan kekhawatiran. Tancap gas atau rem dulu?
Sebagian beranggapan dengan kondisi indeks sekarang, valuasi saham sudah sangat mahal. Oleh karena itu sebaiknya investor menahan diri. Sebagian lagi beranggapan meski mahal, dana asing yang akan terus masuk akan menjadi penopang utama pertumbuhan saham. Sepanjang asing tidak keluar, masuk dulu tidak apa-apa. Toh, kondisi makro ekonomi kita sangat kondusif bagi investor asing saat ini.
Pendapat yang pertama tidak salah, namun jika mengikuti hal tersebut mungkin investor sudah keluar saat indeks berada di level 3000 sehingga sudah jauh ketinggalan. Pendapat yang kedua juga tidak salah, tapi investor tentu masih ingat pengalaman pahit pada saat tahun 2008 dulu. Bagi yang lupa, kami ingatkan lagi bahwa pada tahun tersebut IHSG minus 50%. Sebagian reksa dana saham bahkan ada yang lebih parah karena kerugiannya mencapai minus 60% – 70%. Padahal pada tahun 2006 dan 2007 IHSG juga bullish seperti sekarang ini dengan membukukan return positif lebih dari 50% dalam 1 tahun.
Sangat sulit untuk menentukan pendapat mana yang benar karena masing-masing punya poin dan asumsi yang masuk akal. Di tengah kebingungan tersebut kami mencoba mencari solusi bagi investor dengan melakukan riset terhadap kinerja historis saham selama 9 tahun terakhir dari 2001 – 2009. Solusi ini mungkin tidak cocok bagi investor reksa dana saham yang ingin berinvestasi dalam jangka waktu yang panjang. Tapi mungkin saja cocok bagi investor yang ingin memanfaatkan fenomena yang selalu terjadi di bursa saham untuk mendapatkan keuntungan dalam jangka pendek.
Fenomena Window Dressing
Dari hasil riset terhadap kinerja IHSG historis, kami menemukan ada satu fenomena menarik yaitu adanya fenomena window dressing selama 9 tahun terakhir dari 2001 – 2009. Di bursa saham, istilah window dressing biasanya diartikan sebagai kondisi di mana IHSG akan cenderung menguat menjelang penutupan akhir tahun.
Dari hasil riset terhadap kinerja IHSG historis, kami menemukan ada satu fenomena menarik yaitu adanya fenomena window dressing selama 9 tahun terakhir dari 2001 – 2009. Di bursa saham, istilah window dressing biasanya diartikan sebagai kondisi di mana IHSG akan cenderung menguat menjelang penutupan akhir tahun.
Penyebab terjadinya window dressing berasal dari beberapa hal, seperti spekulasi pada kinerja dari emiten (perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa) di akhir tahun ini yang diperkirakan lebih baik dibanding tahun sebelumnya, positifnya data-data ekonomi menjelang akhir tahun, hingga pola anomali pasar saham yang secara historis sering terulang dan menjadi sebuah kebiasaan.
Selain itu, terjadinya window dressing juga dipicu oleh usaha dari para emiten dan Manajer Investasi yang ingin mempercantik kinerjanya selama setahun penuh. Faktor self-fulfilling prophecy (kebiasaan umum yang selalu dipercaya terjadi) pun juga menambah kuatnya peluang window dressing di akhir tahun.
Dengan memanfaatkan fenomena tersebut investor bisa mendapatkan keuntungan investasi dalam jangka pendek karena biasanya window dressing terjadi pada bulan desember. Dengan kata lain, jika investor berinvestasi pada akhir November 2010 dan menjualnya pada Akhir Desember 2010, besar kemungkinan investor akan memperoleh keuntungan.
Dalam riset yang kami buat, kami mencoba 2 periode, periode pertama adalah investasi pada akhir November dan menjualnya akhir Desember. Periode yang kedua adalah investasi pada akhir Oktober dan menjualnya pada akhir Desember. Penggunaan 2 periode ini untuk melihat apakah dengan melakukan hal tersebut potensi return investor dapat ditingkatkan. Hasil riset yang kami lakukan adalah sebagai berikut:
Hasil tabel di atas menunjukkan selama 9 tahun terakhir, IHSG selalu membukukan keuntungan baik investor melakukan investasi pada periode November – Desember ataupun investasi pada Desember saja. Padahal dalam periode ini IHSG mengalami berbagai siklus naik turun seperti bullish pada tahun 2004, 2006 dan 2007 serta periode bearish seperti pada tahun 2008.
Dari sisi keuntungan memang tingkat returnnya bervariasi, misalnya untuk periode November-Desember berkisar antara 2.16% hingga 16.24% lebih tinggi dibandingkan periode Desember berkisar antara 2.14% hingga 12.12%. Jadi, apabila anda percaya bahwa fenomena window dressing masih akan kembali terjadi pada tahun 2010 dan asumsi return di atas sudah cukup menarik bagi anda, investor yang ingin memanfaatkan potensi return jangka pendek dapat mencoba peruntungannya melalui reksa dana saham.
Untuk memanfaatkan fenomena window dressing, investor harus memilih reksa dana saham yang memiliki portofolio saham-saham yang menggerakkan indeks. Patokannya adalah saham-saham bluechips atau perusahaan berkapitalisasi besar dan tergabung dalam LQ-45. Sebab meski window dressing terjadi di IHSG, bukan berarti hal itu terjadi pula di SEMUA saham. Pemilihan portofolio saham yang salah juga dapat menyebabkan kerugian. Kriteria lainnya adalah coba dilihat juga bagaimana kinerja reksa dana saham dalam periode yang disebutkan di atas. Apakah mereka selalu membukukan keuntungan seperti IHSG dan apakah (yang lebih penting) keuntungannya lebih besar dibandingkan IHSG itu sendiri.
Asumsi bahwa kinerja masa lalu belum tentu akan selalu terulang di masa depan tetap tidak bisa investor lupakan. Oleh karena itu, bagi investor yang ingin berspekulasi kami menyarankan agar cukup menggunakan alokasi dana yang memang untuk spekulasi, jangan sampai dana investasi yang utama juga anda gunakan. Selamat berinvestasi..
Kamis, 07 Oktober 2010
izin MI dicabut, tiga doank : 071010
Badan Peng awas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Ba pepam-LK) akhirnya mencabut tiga izin perusahaan manajer investasi (MI) seiring dengan pengetatan dan penert iban industri pengelo laan investasi. Kewajiban modal disetor Rp10 miliar harus dipenuhi akhir tahun ini
Ketiga manajer investasi itu adalah PT Majapahit Securities Tbk (dahulu bernama PT Asia Kapitalindo Sekuritas Tbk), PT Masindo Artha Securities, dan PT AmCapital Indonesia.

Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK Djoko Hendratto ketika dikonfirmasi membenarkan ketiga izin MI itu sudah dicabut, tetapi MI itu masih tetap dapat melakukan usahanya seperti biasa.
“Ketiganya dicabut. Pencabutan itu tidak ada hubungannya dengan peningkatan modal, hanya karena pembenahan MI,“ ujarnya kepada Bisnis kemarin.
Menurut dia, salah satu kesalahan yang menyebabkan ketiga perusahaan dicabut izinnya adalah kurangnya komitmen dari manajemen dan pemilik perusahaan untuk melanjutkan usaha sebagai MI.
Sementara itu, Direktur Utama Majapahit Securities Wim Al Fatih yang dikonfirmasi masalah itu mengemukakan sekuritas itu sudah mengembalikan izin manajer investasinya karena ingin memfokuskan diri pada divisi pialang (brokerrage) dan penja minan emisi (underwriting), bukan karena dicabut.
“Kami mengembalikan izin bukan akibat dicabut, tetapi kami kembalikan karena kami ingin memfokuskan diri pada pialang dan p
Sumber : BISNIS.COM
Ketiga manajer investasi itu adalah PT Majapahit Securities Tbk (dahulu bernama PT Asia Kapitalindo Sekuritas Tbk), PT Masindo Artha Securities, dan PT AmCapital Indonesia.
Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK Djoko Hendratto ketika dikonfirmasi membenarkan ketiga izin MI itu sudah dicabut, tetapi MI itu masih tetap dapat melakukan usahanya seperti biasa.
“Ketiganya dicabut. Pencabutan itu tidak ada hubungannya dengan peningkatan modal, hanya karena pembenahan MI,“ ujarnya kepada Bisnis kemarin.
Menurut dia, salah satu kesalahan yang menyebabkan ketiga perusahaan dicabut izinnya adalah kurangnya komitmen dari manajemen dan pemilik perusahaan untuk melanjutkan usaha sebagai MI.
Sementara itu, Direktur Utama Majapahit Securities Wim Al Fatih yang dikonfirmasi masalah itu mengemukakan sekuritas itu sudah mengembalikan izin manajer investasinya karena ingin memfokuskan diri pada divisi pialang (brokerrage) dan penja minan emisi (underwriting), bukan karena dicabut.
“Kami mengembalikan izin bukan akibat dicabut, tetapi kami kembalikan karena kami ingin memfokuskan diri pada pialang dan p
Sumber : BISNIS.COM
Senin, 04 Oktober 2010
RD (status : AWAS) @ Rekor Lage bo : 041010
Senin, 04 Oktober 2010 | 14:48 oleh Abdul Wahid Fauzie
DANA KELOLAAN REKSADANA
September, dana kelolaan reksadana capai Rp 128,58 T
JAKARTA. Para Manajer Investasi (MI) memang sedang giat menaikkan dana kelolaan reksadana. Hal ini terbukti dari menanjaknya dana kelolaan reksadana pada September 2010.
Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), dana kelolaan reksadana hingga September mencapai Rp 128,58 triliun. Dana kelolaan ini meningkat sekitar 16,5% dari posisi Januari 2010 yang berada di posisi Rp 110,38 triliun.
Kenaikan dana kelolaan ini selain karena kenaikan aset antara lain berupa saham juga ditopang oleh karena jumlah unit reksadana. Pada September 2010, jumlah unit reksadana sudah sebanyak 77,37 miliar alias naik dari Januari 2010 yang masih 69,77 miliar.
DANA KELOLAAN REKSADANA
September, dana kelolaan reksadana capai Rp 128,58 T
JAKARTA. Para Manajer Investasi (MI) memang sedang giat menaikkan dana kelolaan reksadana. Hal ini terbukti dari menanjaknya dana kelolaan reksadana pada September 2010.
Berdasarkan data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), dana kelolaan reksadana hingga September mencapai Rp 128,58 triliun. Dana kelolaan ini meningkat sekitar 16,5% dari posisi Januari 2010 yang berada di posisi Rp 110,38 triliun.
Kenaikan dana kelolaan ini selain karena kenaikan aset antara lain berupa saham juga ditopang oleh karena jumlah unit reksadana. Pada September 2010, jumlah unit reksadana sudah sebanyak 77,37 miliar alias naik dari Januari 2010 yang masih 69,77 miliar.
Minggu, 03 Oktober 2010
BNP PARIBAS ya, fortis ENGGA LAGE : 031010
Ekonomi
03/10/2010 - 12:05
BNP Paribas Sesuaikan Nama Reksa Dana
Agustina Melani
(ist)
INILAH.COM, Jakarta - PT BNP Paribas Investment Partners (PT. BNPP IP) telah menyesuaikan nama reksa dana yang dikelola, dari Fortis menjadi BNP Paribas, yang efektif per Jumat (1/10).
Demikian seperti dikutip INILAH.COM dari siaran pers yang diterima Minggu (3/10). Penyesuaian nama reksa dana ini sebagai kelanjutan dari proses integrasi antara Fortis Investments dengan BNP Paribas Investment Partners, yang diawali dengan perubahan nama perusahaan di Indonesia dari PT Fortis Investmenst menjadi PT BNP Paribas Investment Partners pada awal April 2010. Perusahaan pun melakukan perubahan nama atas seluruh reksa dana yang dikelolanya supaya sesuai dengan nama barunya.
"Inti dari perubahan ini hanyalah penyesuaian nama saja dan selebihnya tetap sama," ujar Presiden Direktur PT BNP Paribas Investment Partners Tino Moorrees, Minggu (3/10).
Adapun perubahan nama reksa dana dari PT. BNP Paribas Investments Partners adalah sebagai berikut:
1. Reksa Dana BNP Paribas Rupiah plus
2. Reksa Dana BNP Paribas Rupiah Plus II (kemungkinan ini FORTIS RUPIAH PLUS II)
3. Reksa Dana BNP Paribas Prima II
4. Reksa Dana BNP Paribas Prima USD
5. Reksa Dana BNP Paribas Equitra (kemungkinan ini FORTIS EQUITRA)
6. Reksa Dana BNP Paribas Equitra Amanah
7. Reksa Dana BNP Paribas Komoditas Plus
8. Reksa Dana BNP Paribas Spektra
9. Reksa Dana BNP Paribas Pesona (kemungkinan ini FORTIS PESONA)
10.Reksa Dana BNP Paribas Pesona Amanah
11.Reksa Dana BNP Paribas Ekuitas (kemungkinan ini FORTIS EKUITAS)
12.Reksa Dana BNP Paribas Infrastruktur Plus (kemungkinan ini FORTIS INFRASTRUKTUR PLUS)
13.Reksa Dana BNP Paribas Solaris.(kemungkinan ini FORTIS SOLARIS)
Seperti diketahui, PT BNP Paribas Investment Partners mencatatkan dana kelolaan sebesar Rp22 triliun per 31 Agustus 2010.
[ast]
PT BNP Paribas Investment Partners, salah satu manajer investasi terbesar di Indonesia, menyesuaikan nama seluruh reksa dana yang dikelolanya dari Reksa Dana Fortis menjadi Reksa Dana BNP Paribas yang efektif berlaku mulai 1 Oktober 2010.
Presiden Direktur PT BNP Paribas Investment Partners Tino Moorrees dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (4/10), mengatakan, inti dari perubahan ini hanyalah penyesuaian nama. "Tim investasi kami selama ini telah bekerja dengan solid dan juga proses investasi tetap sama," katanya.
Menurut dia, penyesuaian nama reksa dana itu sebagai kelanjutan dari proses integrasi antara Fortis Investments dengan BNP Paribas Investment Partners yang diawali dengan perubahan nama perusahaan di Indonesia dari PT Fortis Investment menjadi PT BNP Paribas Investment Partnes di awal 2010. Untuk melengkapi proses integrasi tersebut, perusahaan melakukan perubahan nama atas seluruh reksa dana yang dikelolanya supaya sesuai dengan nama barunya.
BNP Paribas Investment Partners adalah bisnis dari BNP Paribas Group yang khusus bergerak di bidang manajemen investasi yang menawarkan spektrum servis manajemen investasi menyeluruh kepada nasabah institusi maupun ritel di dunia. "Cara kerja perusahaan berdasarkan konsep kemitraan," ujar Tino Moorrees.
Per 1 April 2010, unit usaha Fortis Invesment telah bergabung dengan BNP Paribas Invesment Partners. PT BNP Paribas Investment Partners adalah perusahaan manajemen investasi terkemuka di Indonesia telah berdiri sejak 19992 dengan total dana kelolaan sebesar Rp22 triliun per 31 Agustus 2010.
Sumber : MEDIA INDONESIA
03/10/2010 - 12:05
BNP Paribas Sesuaikan Nama Reksa Dana
Agustina Melani
(ist)
INILAH.COM, Jakarta - PT BNP Paribas Investment Partners (PT. BNPP IP) telah menyesuaikan nama reksa dana yang dikelola, dari Fortis menjadi BNP Paribas, yang efektif per Jumat (1/10).
Demikian seperti dikutip INILAH.COM dari siaran pers yang diterima Minggu (3/10). Penyesuaian nama reksa dana ini sebagai kelanjutan dari proses integrasi antara Fortis Investments dengan BNP Paribas Investment Partners, yang diawali dengan perubahan nama perusahaan di Indonesia dari PT Fortis Investmenst menjadi PT BNP Paribas Investment Partners pada awal April 2010. Perusahaan pun melakukan perubahan nama atas seluruh reksa dana yang dikelolanya supaya sesuai dengan nama barunya.
"Inti dari perubahan ini hanyalah penyesuaian nama saja dan selebihnya tetap sama," ujar Presiden Direktur PT BNP Paribas Investment Partners Tino Moorrees, Minggu (3/10).
Adapun perubahan nama reksa dana dari PT. BNP Paribas Investments Partners adalah sebagai berikut:
1. Reksa Dana BNP Paribas Rupiah plus
2. Reksa Dana BNP Paribas Rupiah Plus II (kemungkinan ini FORTIS RUPIAH PLUS II)
3. Reksa Dana BNP Paribas Prima II
4. Reksa Dana BNP Paribas Prima USD
5. Reksa Dana BNP Paribas Equitra (kemungkinan ini FORTIS EQUITRA)
6. Reksa Dana BNP Paribas Equitra Amanah
7. Reksa Dana BNP Paribas Komoditas Plus
8. Reksa Dana BNP Paribas Spektra
9. Reksa Dana BNP Paribas Pesona (kemungkinan ini FORTIS PESONA)
10.Reksa Dana BNP Paribas Pesona Amanah
11.Reksa Dana BNP Paribas Ekuitas (kemungkinan ini FORTIS EKUITAS)
12.Reksa Dana BNP Paribas Infrastruktur Plus (kemungkinan ini FORTIS INFRASTRUKTUR PLUS)
13.Reksa Dana BNP Paribas Solaris.(kemungkinan ini FORTIS SOLARIS)
Seperti diketahui, PT BNP Paribas Investment Partners mencatatkan dana kelolaan sebesar Rp22 triliun per 31 Agustus 2010.
[ast]
PT BNP Paribas Investment Partners, salah satu manajer investasi terbesar di Indonesia, menyesuaikan nama seluruh reksa dana yang dikelolanya dari Reksa Dana Fortis menjadi Reksa Dana BNP Paribas yang efektif berlaku mulai 1 Oktober 2010.
Presiden Direktur PT BNP Paribas Investment Partners Tino Moorrees dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (4/10), mengatakan, inti dari perubahan ini hanyalah penyesuaian nama. "Tim investasi kami selama ini telah bekerja dengan solid dan juga proses investasi tetap sama," katanya.
Menurut dia, penyesuaian nama reksa dana itu sebagai kelanjutan dari proses integrasi antara Fortis Investments dengan BNP Paribas Investment Partners yang diawali dengan perubahan nama perusahaan di Indonesia dari PT Fortis Investment menjadi PT BNP Paribas Investment Partnes di awal 2010. Untuk melengkapi proses integrasi tersebut, perusahaan melakukan perubahan nama atas seluruh reksa dana yang dikelolanya supaya sesuai dengan nama barunya.
BNP Paribas Investment Partners adalah bisnis dari BNP Paribas Group yang khusus bergerak di bidang manajemen investasi yang menawarkan spektrum servis manajemen investasi menyeluruh kepada nasabah institusi maupun ritel di dunia. "Cara kerja perusahaan berdasarkan konsep kemitraan," ujar Tino Moorrees.
Per 1 April 2010, unit usaha Fortis Invesment telah bergabung dengan BNP Paribas Invesment Partners. PT BNP Paribas Investment Partners adalah perusahaan manajemen investasi terkemuka di Indonesia telah berdiri sejak 19992 dengan total dana kelolaan sebesar Rp22 triliun per 31 Agustus 2010.
Sumber : MEDIA INDONESIA
Sabtu, 02 Oktober 2010
modal di$3+0R(p) HARUS NAEK ... 021010
Peningkatan modal MI hingga 2012
OLEH IRVIN AVRIANO A.
& ARIF GUNAWAN S.
Bisnis Indonesia

Pemerintah akhirnya menetapkan jadwal akhir peningkatan modal disetor manajer investasi dan perusahaan efek pada 2012 atau setahun lebih lama dari kepu pada 2012 atau set tusan semula 2011.
Merger jadi opsi perusahaan bermodal cekak
JAKARTA: Pemerintah ak hirnya menetapkan jadwal akhir peningkatan modal disetor manajer investasi dan perusahaan efek pada 2012 atau setahun lebih lama da ri keputusan semula 2011. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Ahmad Fuad Rahmany mengatakan perusahaan efek dan manajer investasi tetap wajib melakukan penguatan modal yang diterapkan secara bertahap dan di bawah pengawasan Kementerian Keuangan.
“Tadinya memang inginnya 2011 sudah naik semua modalnya, tetapi karena ada beberapa usulan dari beberapa asosiasi maka kami memundurkannya,“ ujarnya kepada pers kemarin.
Peningkatan modal itu menjadi isi dari Peraturan Menteri Keuangan No.153/PMK.010/2010 tentang Kepemilikan Saham dan Permodalan Perusahaan Efek. Peraturan itu merevisi Keputusan Menteri Keuangan No.
179/KMK.010/2003.
Kepala Biro Transaksi dan Lembaga Efek Bapepam-LK Nurhaida mengatakan modal disetor perusahaan penjamin emisi efek sekaligus perantara pedagang efek sebesar Rp50 miliar.
“Kalau perusahaan berizin penjamin emisi itu biasanya punya izin perantara pedagang efek juga, perinciannya dari perantara Rp35 miliar dan penjamin emisi Rp15 miliar.“
Peraturan itu juga mengindikasikan Kementerian Keuangan dan otoritas pasar modal berniat membuka izin baru bagi perusahaan efek untuk mendaftarkan dirinya, terutama bagi perusahaan berizin manajer investasi.
Izin manajer investasi yang kini berjumlah 99 perusahaan, masih dibekukan sejak akhir 2007 dalam rangka restrukturisasi pelaku industri pasar modal.
Pada medio Juni, Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK Djoko Hendratto menyatakan merger merupakan salah satu opsi yang bisa ditempuh MI bermodal kurang dari Rp25 miliar.
Bapepam-LK, ujar Djoko, mendapatkan laporan enam MI tengah bersiap melakukan merger. Opsi menjual izin tidak bisa dilakukan karena Bapepam-LK melarang hal tersebut.
Wakil Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Bowo Witjaksono Suhardjo mengatakan hal itu sejalan dengan rencana asosiasi itu untuk mengusulkan adanya jen jang modal disetor di tingkat manajer investasi sendiri.
“Kami ingin mengusulkan agar nantinya manajer investasi punya jenjang sendiri, misalnya ada untuk produk publik dan produk tertutup, bisa saja nanti modal disetor yang manajer investasi produk tertutup bisa lebih besar.“
Kepala Divisi Kepatuhan PT Erdikha Elit Sekuritas Dedy Hendrawan menilai semestinya Bapepam LK meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan sekuritas daripada menerbitkan aturan baru tentang peningkatan modal disetor perusahaan efek. (09/FAHMI ACHMAD) (irvin.avriano @bisnis.co.id/arif.gunawan@bisnis.co.id)
OLEH IRVIN AVRIANO A.
& ARIF GUNAWAN S.
Bisnis Indonesia
Pemerintah akhirnya menetapkan jadwal akhir peningkatan modal disetor manajer investasi dan perusahaan efek pada 2012 atau setahun lebih lama dari kepu pada 2012 atau set tusan semula 2011.
Merger jadi opsi perusahaan bermodal cekak
JAKARTA: Pemerintah ak hirnya menetapkan jadwal akhir peningkatan modal disetor manajer investasi dan perusahaan efek pada 2012 atau setahun lebih lama da ri keputusan semula 2011. Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Ahmad Fuad Rahmany mengatakan perusahaan efek dan manajer investasi tetap wajib melakukan penguatan modal yang diterapkan secara bertahap dan di bawah pengawasan Kementerian Keuangan.
“Tadinya memang inginnya 2011 sudah naik semua modalnya, tetapi karena ada beberapa usulan dari beberapa asosiasi maka kami memundurkannya,“ ujarnya kepada pers kemarin.
Peningkatan modal itu menjadi isi dari Peraturan Menteri Keuangan No.153/PMK.010/2010 tentang Kepemilikan Saham dan Permodalan Perusahaan Efek. Peraturan itu merevisi Keputusan Menteri Keuangan No.
179/KMK.010/2003.
Kepala Biro Transaksi dan Lembaga Efek Bapepam-LK Nurhaida mengatakan modal disetor perusahaan penjamin emisi efek sekaligus perantara pedagang efek sebesar Rp50 miliar.
“Kalau perusahaan berizin penjamin emisi itu biasanya punya izin perantara pedagang efek juga, perinciannya dari perantara Rp35 miliar dan penjamin emisi Rp15 miliar.“
Peraturan itu juga mengindikasikan Kementerian Keuangan dan otoritas pasar modal berniat membuka izin baru bagi perusahaan efek untuk mendaftarkan dirinya, terutama bagi perusahaan berizin manajer investasi.
Izin manajer investasi yang kini berjumlah 99 perusahaan, masih dibekukan sejak akhir 2007 dalam rangka restrukturisasi pelaku industri pasar modal.
Pada medio Juni, Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK Djoko Hendratto menyatakan merger merupakan salah satu opsi yang bisa ditempuh MI bermodal kurang dari Rp25 miliar.
Bapepam-LK, ujar Djoko, mendapatkan laporan enam MI tengah bersiap melakukan merger. Opsi menjual izin tidak bisa dilakukan karena Bapepam-LK melarang hal tersebut.
Wakil Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) Bowo Witjaksono Suhardjo mengatakan hal itu sejalan dengan rencana asosiasi itu untuk mengusulkan adanya jen jang modal disetor di tingkat manajer investasi sendiri.
“Kami ingin mengusulkan agar nantinya manajer investasi punya jenjang sendiri, misalnya ada untuk produk publik dan produk tertutup, bisa saja nanti modal disetor yang manajer investasi produk tertutup bisa lebih besar.“
Kepala Divisi Kepatuhan PT Erdikha Elit Sekuritas Dedy Hendrawan menilai semestinya Bapepam LK meningkatkan pengawasan terhadap perusahaan sekuritas daripada menerbitkan aturan baru tentang peningkatan modal disetor perusahaan efek. (09/FAHMI ACHMAD) (irvin.avriano @bisnis.co.id/arif.gunawan@bisnis.co.id)
Jumat, 01 Oktober 2010
sekedar informasi: OBLIGASI, dasar RD pendapatan tetap : 011010
Kapan Saat Yang Tepat Berburu Obligasi?
Sesaknya pasar diakibatkan oleh korporasi yang menerbitkan surat utang guna refinancing.
KAMIS, 30 SEPTEMBER 2010, 13:44 WIB Arinto Tri Wibowo, Purborini
VIVAnews - Kuartal IV-2010 merupakan waktu yang tepat bagi korporasi untuk mengeluarkan obligasi.
"Pasarnya tidak terlalu crowded dan government bonds juga yield-nya sudah jauh lebih rendah. Jadi masih menarik bagi investor," kata Direktur Utama Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), Ignatius Girendroheru, di Jakarta, Kamis 30 September 2010.
Sesaknya pasar obligasi diakibatkan oleh korporasi yang menerbitkan
surat utang guna pembiayaan kembali (refinancing) obligasi yang jatuh tempo 2012. "Mereka mulai mengantisipasi hal ini," ujar dia.
Pada 2012, jumlah obligasi yang jatuh tempo senilai Rp20-22 triliun dan 2011 sebesar Rp10-14 triliun. "Ini belum termasuk dengan penerbitan baru," tuturnya. Dia juga mengingatkan adanya rencana pemerintah yang akan menerbitkan obligasi.
Peluang bagi korporasi untuk menerbitkan obligasi, dia melanjutkan, juga didorong oleh kupon yang masih rendah dibanding bunga pinjaman bank.
Girendroheru menjelaskan, suku bunga pinjaman bank bagi korporasi untuk
modal kerja berkisar 12,5-14,5 persen. "Bandingkan dengan (kupon) obligasi pemerintah sebagai benchmark yang masih rendah," kata dia.
Ia memperkirakan kupon untuk obligasi korporasi berkisar 9-10 persen.
Sementara itu, data PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan obligasi yang berada dalam daftar tunggu untuk diterbitkan hingga akhir tahun sebesar Rp10,4 triliun.
Mengenai tingkat permintaan, dia mengakui, pasar obligasi korporasi
memiliki likuiditas yang rendah dibandingkan surat utang pemerintah. Meski yield obligasi pemerintah turun 200 poin dari awal tahun, transaksi per hari mencapai Rp4,6 triliun.
Sementara itu, transaksi obligasi korporasi per hari hanya Rp300-350 miliar. "Masih sedikit sekali likuiditasnya," ujar dia.
Kondisi tersebut, dia menambahkan, diperkirakan dapat memicu investor untuk mengubah portofolio investasinya. "Untuk yang (obligasi) long term mereka (investor) sudah mature (jatuh tempo), sehingga akan bergeser ke obligasi yang jatuh temponya lebih pendek," katanya.
Head of Debt Capital Markets DBS, Wiwit Chaidir, mengatakan obligasi korporasi rupiah akan menarik dalam 12 bulan ke depan. Kondisi itu didorong oleh peringkat risiko Indonesia yang membaik, yield obligasi pemerintah yang rendah, dan faktor ketahanan Indonesia terhadap krisis global.
Data DBS menunjukkan hingga September 2010, investor asing yang
menguasai obligasi domestik senilai Rp172,22 triliun. Sedangkan nilai
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang dimiliki asing mencapai Rp42,24
triliun.
• VIVAnews
Obligasi Rp25 Triliun Akan Banjiri Pasar 2010
Obligasi berasal dari sektor infrastruktur, multifinance, dan perbankan.
SELASA, 6 JULI 2010, 14:30 WIB Hadi Suprapto, Purborini
VIVAnews - PT Pemeringkat Efek Indonesia memperkirakan, penerbitan
obligasi korporasi hingga akhir tahun ini mencapai Rp20 - 25 triliun.
"Saat ini di pipeline (daftar pencatatan) kita sebesar Rp 7 triliun," kata Direktur Utama Pefindo, Ronald Tauviek Andi Kasim, di Jakarta, Selasa 6 Juli 2010.
Menurut dia, obligasi tersebut akan diterbitkan pada semester kedua
tahun ini. "Obligasi yang akan keluar berasal dari sektor infrastruktur,
multifinance, dan perbankan," kata dia.
Beberapa perusahaan itu di antaranya PT Jasa Marga Tbk dan
PT Bank DKI Jakarta.
Ia mengatakan sampai akhir tahun, perusahaan multifinance dan perbankan cenderung lebih banyak mengeluarkan obligasi ketimbang sektor usaha lainnya.
"Mereka kan memang rajin mengeluarkan obligasi karena butuh pembiayaan kredit," jelas Tauviek.
• VIVAnews
Sesaknya pasar diakibatkan oleh korporasi yang menerbitkan surat utang guna refinancing.
KAMIS, 30 SEPTEMBER 2010, 13:44 WIB Arinto Tri Wibowo, Purborini
VIVAnews - Kuartal IV-2010 merupakan waktu yang tepat bagi korporasi untuk mengeluarkan obligasi.
"Pasarnya tidak terlalu crowded dan government bonds juga yield-nya sudah jauh lebih rendah. Jadi masih menarik bagi investor," kata Direktur Utama Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), Ignatius Girendroheru, di Jakarta, Kamis 30 September 2010.
Sesaknya pasar obligasi diakibatkan oleh korporasi yang menerbitkan
surat utang guna pembiayaan kembali (refinancing) obligasi yang jatuh tempo 2012. "Mereka mulai mengantisipasi hal ini," ujar dia.
Pada 2012, jumlah obligasi yang jatuh tempo senilai Rp20-22 triliun dan 2011 sebesar Rp10-14 triliun. "Ini belum termasuk dengan penerbitan baru," tuturnya. Dia juga mengingatkan adanya rencana pemerintah yang akan menerbitkan obligasi.
Peluang bagi korporasi untuk menerbitkan obligasi, dia melanjutkan, juga didorong oleh kupon yang masih rendah dibanding bunga pinjaman bank.
Girendroheru menjelaskan, suku bunga pinjaman bank bagi korporasi untuk
modal kerja berkisar 12,5-14,5 persen. "Bandingkan dengan (kupon) obligasi pemerintah sebagai benchmark yang masih rendah," kata dia.
Ia memperkirakan kupon untuk obligasi korporasi berkisar 9-10 persen.
Sementara itu, data PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan obligasi yang berada dalam daftar tunggu untuk diterbitkan hingga akhir tahun sebesar Rp10,4 triliun.
Mengenai tingkat permintaan, dia mengakui, pasar obligasi korporasi
memiliki likuiditas yang rendah dibandingkan surat utang pemerintah. Meski yield obligasi pemerintah turun 200 poin dari awal tahun, transaksi per hari mencapai Rp4,6 triliun.
Sementara itu, transaksi obligasi korporasi per hari hanya Rp300-350 miliar. "Masih sedikit sekali likuiditasnya," ujar dia.
Kondisi tersebut, dia menambahkan, diperkirakan dapat memicu investor untuk mengubah portofolio investasinya. "Untuk yang (obligasi) long term mereka (investor) sudah mature (jatuh tempo), sehingga akan bergeser ke obligasi yang jatuh temponya lebih pendek," katanya.
Head of Debt Capital Markets DBS, Wiwit Chaidir, mengatakan obligasi korporasi rupiah akan menarik dalam 12 bulan ke depan. Kondisi itu didorong oleh peringkat risiko Indonesia yang membaik, yield obligasi pemerintah yang rendah, dan faktor ketahanan Indonesia terhadap krisis global.
Data DBS menunjukkan hingga September 2010, investor asing yang
menguasai obligasi domestik senilai Rp172,22 triliun. Sedangkan nilai
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang dimiliki asing mencapai Rp42,24
triliun.
• VIVAnews
Obligasi Rp25 Triliun Akan Banjiri Pasar 2010
Obligasi berasal dari sektor infrastruktur, multifinance, dan perbankan.
SELASA, 6 JULI 2010, 14:30 WIB Hadi Suprapto, Purborini
VIVAnews - PT Pemeringkat Efek Indonesia memperkirakan, penerbitan
obligasi korporasi hingga akhir tahun ini mencapai Rp20 - 25 triliun.
"Saat ini di pipeline (daftar pencatatan) kita sebesar Rp 7 triliun," kata Direktur Utama Pefindo, Ronald Tauviek Andi Kasim, di Jakarta, Selasa 6 Juli 2010.
Menurut dia, obligasi tersebut akan diterbitkan pada semester kedua
tahun ini. "Obligasi yang akan keluar berasal dari sektor infrastruktur,
multifinance, dan perbankan," kata dia.
Beberapa perusahaan itu di antaranya PT Jasa Marga Tbk dan
PT Bank DKI Jakarta.
Ia mengatakan sampai akhir tahun, perusahaan multifinance dan perbankan cenderung lebih banyak mengeluarkan obligasi ketimbang sektor usaha lainnya.
"Mereka kan memang rajin mengeluarkan obligasi karena butuh pembiayaan kredit," jelas Tauviek.
• VIVAnews
Langganan:
Postingan (Atom)