gW suka BANGET ketidakPASTIan

gW suka BANGET ketidakPASTIan

Minggu, 31 Mei 2009

Tren % Gain NAB MDS (09/03-05/09)



... lagi secara JANGKA PANJANG (hampir 6 tahun atawa 68 bulan atawa 2000 hari) Manulife Dana Saham masih memberikan GAIN lebih dari 300%... berarti rata2 pertaon 50% ... jauh di atas suku bunga deposito rupiah dong ... bahkan pada krisfinalo terdalam yaitu 28 Oktober 2008: gain +130% ... masih memberi gain rata2 p.a. : 26%, tetap JAUH DI ATAS RATA2 SUKU BUNGA DEPOSITO 1 tahun, bahkan saat krisfinalo sekali pun ... KALO ORANG TETAP BUTA BILANG REKSA DANA SAHAM TIDAK MENARIK SAMA SEKALI KARENA NAEK TURUN... he3... berarti yang buta ITU PINTAR SEKALI ... gw pasti bodoh sekali dah ... he3...

Tren % Gain NAB SDI (bottom 12 Januari 2007)



... schroder dana istimewa adalah produk reksa dana saham yang sudah lama ...namun gw baru mulai beli sejak 12 Januari 2007, jadi 11 bulan sebelum amrik MASUK RESESI resmi ... segera tercermin betapa IMBAS EKONOMI GLOBAL AMRIK pada reksa dana ini ... padahal pada penutupan TAHUN BURSA 2007: GAIN 68%... namun pada 28 Oktober 2008, ANJLOK s/d -25% ... namun segera membaik s/d -3% pada penutupan TAHUN BURSA 2008 ... LALU SEKARANG SUDAH PULIH DAN MEMBERI GAIN TERHADAP BOTTOM TGL 12 JANUARI 2007 SEBANYAK: 35% ... berarti dalam dua setengah tahun sudah memberi rata2 gain 14% (dibandingkan deposito rupiah 1 tahun, berarti memberi gain lebih tinggi untuk hampir keseluruhan tahun 2007-2008, dan mirip dengan bunga deposito akhir 2008-April 2009) ... ini menunjukkan betapa pada saat KRISFINALO pun SDI CUKUP RENTAN KOREKSI TAPI KUKUH MEMBERI GAIN POSITIF DALAM JANGKA PANJANG ...

... gw mo berkisah sedikit: ada seorang teman dokter yang bercerita tentang seorang temannya inves saham di amrik, dan disimpan saja seperti kaya tabungan gitu ... ternyata saat krisfinalo masa investasi sahamnya sudah lebih dari 3 tahun, dan harga sahamnya malah ANJLOK BERAT, sehingga kesimpulan dokter itu adalah INVESTASI JANGKA PANJANG TIDAK BISA DI SAHAM ... well, gw berkomentar 2 hal soal itu:
- sebaiknya dokter itu juga menanyakan kembali berapa harga saham yang dipunyai temannya SAAT INI, apakah sudah terjadi perubahan harga yang memberi GAIN POSITIF...
- sebenarnya dalam JANGKA PANJANG pun, investasi bisa bergerak turun naik, tapi KETIKA INVESTASI JANGKA PANJANG SUDAH MEMBERIKAN GAIN POSITIF DI ATAS RATA2 SUKU BUNGA DEPOSITO biasa, MAKA ITU ADALAH KESEMPATAN UNTUK MEREALISASIKAN SEBAGIAN LABA ... seperti yang gw lakukan beberapa hari lalu (bahkan sudah lebih dari 6 kali sejak Desember 2008 dalam jumlah perkalinya sekitar puluhan jt rupiah), karena IHSG dalam Mei 2009 naik sebanyak sekira 10% ... WAH n WOW HANYA DALAM 1 BULAN INDEKS BURSA SAHAM INDONESIA MEMBERI GAIN 10% (COBA BANDINGKAN DENGAN SAHAM BBRI MEI 2009, TERNYATA SEDIKIT DI BAWAH IHSG KOK, YAITU SEKITAR 8-9% GAIN ... lihat link ini:  http://sahambbri.wordpress.com/2009/05/29/bbri-cetak-gain-di-bawah-10-dalam-mei-09/)... BAHKAN DALAM 2 BULAN, SEJAK awal April 2009, GAIN SEKIRA 30%, berarti SASARAN LABA UNTUK REKSA DANA SAHAM GW SETAHUN 2009 INI SUDAH TERPENUHI DONG ... benar sekali ... nah SDI memberi GAIN MEI 2009 SEBANYAK 10% juga ... sejak awal April, SDI sudah memberi gain 28% ... ya berarti mirip gain yang terjadi pada ihsg ...

Kamis, 28 Mei 2009

buktikan: setiap jenis REKSA DANA punya kekuatan masing-masing

Saya berencana menginvestasikan dana yang saya miliki pada produk reksa dana. Tapi sebelumnya, bisakah MrEdu menjelaskan kepada saya secara lebih detil mengenai reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap. Terima kasih.

Rudy Nainggolan


Jawaban:


Halo Rudy

Sebelum berinvestasi ke dalam jenis investasi apapun, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa dan bagaimana instrument investasi tersebut, khususnya reksa dana sehingga dapat memahami karakteristiknya baik dari segi keuntungan maupun risikonya. Definisi reksa dana berdasarkan UU Pasar modal disebutkan "Reksadana merupakan kumpulan dana dari masyarakat pemodal (investor ) yang kemudian diinvestasikan lagi oleh Manajer Investasi dalam bentuk portofolio investasi, yang bisa berbentuk deposito, SBI, saham, obligasi, atau surat berharga lainnya".

Untuk lebih mudahnya, secara umum pengertian reksa dana adalah kumpulan dana dari masyarakat pemodal (investor) untuk kemudian dikelola oleh Manager Investasi dan selanjutnya diinvestasikan pada berbagai jenis produk keuangan.

Manager investasi yang mengelola reksa dana haruslah mendapat ijin dari Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal) . Selanjutnya dana yang terkumpul oleh manager investasi kemudian diatur penempatannya secara tersebar ke dalam berbagai macam instrumen surat berharga seperti saham, obligasi, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), Surat Utang Negara (SUN ), juga produk bank seperti tabungan dan deposito.

Pengaturan susunan penempatan dana inilah yang dimaksud dengan portofolio investasi. Namun, seperti telah diterangkan bahwa portofolio investasi reksa dana tidak terdiri dari satu produk investasi saja, namun disebar ke dalam berbagai produk investasi. Strategi penyebaran ini dikenal dengan istilah diversifikasi. Tujuannya adalah mengurangi kerugian dengan menyebar risiko investasi.

Berdasarkan portfolio investasi yang terdiversifikasi ini, maka reksa dana dibagi dalam empat jenis, yaitu :

Pertama, Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), di mana Manajer Investasi akan menginvestasikan sebagian besar atau kurang lebih hampir 80 persen uang investornya ke dalam produk-produk investasi yang memberikan pendapatan tetap seperti pembayaran bunga misalnya tabungan, deposito , dan SBI . Sisanya sebagian kecil ditempatkan ke dalam obligasi (surat utang) jangka pendek.

Tingkat potensi risiko RDPU paling rendah atau konservatif dibandingkan Reksa Dana lain. RDPU cocok untuk Anda yang belum berani mengambil risiko tinggi namun tetap ingin mendapatkan return yang lebih tinggi dari deposito bank. RDPT juga cocok jika Anda hanya ingin menempatkan dana ke reksa dana dalam jangka pendek kurang dari satu tahun.

Kedua, Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT), d imana Manajer Investasi akan menginvestasikan sebagian besar uang investornya (80 persen) ke dalam produk-produk investasi pendapatan tetap, terutama pada obligasi. Sisanya (20 persen) diinvestasikan pada instrumen pasar uang (SBI, SUN ) atau produk bank seperti tabungan dan deposito.

Tingkat potensi risiko RDPT termasuk kategori menengah cenderung konservatif. RDPT cocok untuk Anda yang mengharapkan pendapatan tetap yang cukup stabil dari investasinya, dan tidak terlalu fluktuatif. RDPT juga cocok jika penempatan dananya antara satu sampai tiga tahun. Sebab dalam jangka waktu tersebut RDPT berpotensi memberikan return lebih tinggi daripada RDPU. Namun dalam jangka panjang kenaikan, misalnya jangka watu 10 tahunan kenaikan RDPT tidak setinggi kenaikan Reksa Dana Campuran atau Reksa Dana Saham

Begitulah kurang lebih perbandingan karakteristik reksadana pasar uang dengan reksa dana pendapatan tetap. Sedangkan dua jenis reksa dana yang lain adalah , sebagai berikut:

Ketiga, Reksa Dana Campuran (RDC), dimana Manajer Investasi akan menginvestasikan uang investornya ke dalam saham dan instrument pendapatan tetap, masing–masing dengan komposisi alokasi investasi yang kurang lebih sama yaitu 50 persen:50 persen.

Keempat, Reksa Dana Saham, dimana Manajer Investasi akan menginvestasikan uang sebagian besar atau hampir 80 persennya ke dalam saham, dan sisanya dimasukkan ke dalam instrumen pendapatan tetap seperti obligasi atau ke instrumen pasar uang seperti tabungan, deposito atau SBI

Nah , sudah kebayang kan? Kalau RDC mempunyai risiko investasi menengah cenderung agresif. Sedangkan RDS mempunyai risiko investasi yang agresif. Kedua jenis reksa dana ini cocok jika dana yang ditempatkan dalam RDC dan RDS tidak akan dipakai dalam waktu lama.

Misalnya 10 tahunan, artinya harus berinvestasi untuk jangka panjang. Sebab saham harganya berfluktuasi dalam jangka pendek, walaupun demikian cenderung naik terus dalam jangka panjang. Kenaikan harga saham dalam jangka panjang berpotensi lebih tinggi daripada kenaikan harga instrumen pendapatn tetap. Namun hati-hati return tinggi juga sebanding dengan risikonya yang tinggi.

Salam

• VIVAnews

Selasa, 26 Mei 2009

yang ini... gw ga ikutan dah...

Selasa, 26 Mei 2009 | 08:34

REKSADANA BARU PNM

PNM Rilis Reksadana Penyertaan Terbatas


JAKARTA. Sebuah produk reksadana penyertaan terbatas bakal kembali meluncur ke pasar. Kali ini, PNM Investment Management yang akan merilis produk reksadana khusus itu di akhir semester pertama 2009.
Tjatur Heri Priyono, Direktur PNM Investment, menyatakan, kini PNM tengah menjajakan calon produk itu kepada sekitar 10 calon investor, institusi dan perorangan. "Kemungkinan penerbitannya berlangsung secara bertahap," tuturnya, pekan lalu.

PNM Investment berharap, produk reksadana tersebut mampu menjaring dana Rp 100 miliar-Rp 200 miliar. "Namun, semuanya tergantung minat investor," imbuh Tjatur.

Aset dasar reksadana ini adalah surat utang jangka menengah alias medium term notes (MTN) terbitan PT Permodalan Nasional Madani (PNM), induk usaha PNM Investment. Maklum, PNM butuh tambahan dana segar untuk mengembangkan pembiayaan sektor mikro.

Jadi, investor sebenarnya secara tidak langsung membeli MTN PNM melalui reksadana penyertaan terbatas itu.
Lantaran penempatannya di MTN, masa investasi reksadana ini hanya satu tahun. Namun, PNM Investment menjanjikan imbal hasil lumayan menggiurkan, yakni sekitar 15% setahun. "Ini masih kami diskusikan dengan investor," imbuhnya.

Direktur Utama PNM Parman Nataatmadja membenarkan tentang rencana penerbitan reksadana penyertaan terbatas itu yang akan menjadi alternatif sumber pendanaan PNM. Sebab, tahun ini PNM ingin menggenjot pengucuran kredit mikro menjadi sekitar Rp 1 triliun. "Nantinya, kami akan mengeluarkan commercial paper," ujarnya.

Parman mengungkapkan, hingga Mei ini, PNM baru mengucurkan kredit mikro Rp 100 miliar. Sekitar Rp 10 miliar berasal dari hasil penerbitan commercial paper.

Rudiyanto, analis lembaga riset reksadana PT Infovesta Utama menyarankan agar investor lebih mendalami reksadana yang akan diterbitkan PNM Investment tersebut. Maklum, produk reksadana ini memiliki afiliasi dengan induknya.

Jadi, investor harus mengetahui risiko dan seluk beluk proyek yang menjadi aset dasarnya. "Kalau kredibel sih tidak ada masalah," kata Rudi.



Abdul Wahid Fauzie KONTAN

obligasi dan reksa dana pendapatan tetap... kah...

Selasa, 26 Mei 2009 | 06:56

HARGA SURAT UTANG AMERIKA

Harga Obligasi Dolar Indonesia Meroket


JAKARTA. Sungguh beruntung para investor yang membeli obligasi global Pemerintah Indonesia yang terbit akhir Februari 2009. Kini, harga surat utang bermata uang dolar Amerika Serikat itu meroket.

Berdasarkan data Bloomberg kemarin (25/5), harga obligasi global bertenor lima tahun senilai US$ 1 miliar sudah mencapai 114,15. Adapun, harga obligasi senilai US$ 2 miliar yang bertenor 10 tahun bahkan mencapai 125,07.

Bayangkan bila Anda saat itu membeli obligasi global bertenor 10 tahun senilai US$ 100 juta. Saat ini, Anda sudah menikmati untung 25,07% plus diskon pembelian 0,7%. Jadi, dalam kurang dari tiga bulan, Anda sudah menikmati untung dari kenaikan harga sebesar US$ 25,77 juta atau sekitar Rp 263,4 miliar. Belum lagi, Anda sudah menikmati pembagian kupon pertama pada April lalu.

Tak heran apabila investor terus memburu obligasi global tersebut. Sebab, dengan tingkat kupon 10,375% untuk obligasi global bertenor lima tahuna dan 11,625% untuk tenor 10 tahun, obligasi global Indonesia ini kini menjadi instrumen terbitan pemerintah paling menguntungkan di dunia.

Meski harga sudah melonjak tinggi, yield kedua seri obligasi itu pun masih cukup tinggi, yakni 6,93% dan 7,89%. Bandingkan dengan yield US Treasury bertenor lima tahun yang kemarin hanya 2,21% dan US Treasury bertenor 10 tahun yang cuma 4,44%. "Yield obligasi global kita jelas masih lebih menarik," ujar Heru Helbianto, Head of Debt and Capital Market OSK Nusadana Securities, kemarin.

Ironisnya, saat investor memanen untung, pembayar pajak negeri ini justru paling dirugikan dengan penerbitan obligasi itu. Sejumlah pengamat menuding, pemerintah memberi yield terlalu tinggi. Padahal, dalam waktu yang nyaris sama, Filipina yang peringkat utangnya lebih rendah hanya memberikan yield 8% untuk obligasi globalnya.

Dihitung-hitung, kita mesti membayar bunga obligasi itu sebanyak US$ 10,375 juta atau Rp 106,04 miliar per tahun selama lima tahun, dan US$ 232,5 juta atau Rp 2,38 triliun per tahun selama 10 tahun.

Padahal, kita mencatat surplus fiskal sehingga tidak perlu meminjam dana dari badan multilateral lagi. "Ini kan kacau. Pemerintah salah mengestimasi penerimaan pajak dan kebanyakan berutang dengan biaya mahal. Ini blunder kebijakan fiskal yang ongkosnya sangat mahal," kritik Pengamat Ekonomi Adrian Panggabean.




Wahyu Tri Rahmawati, Asih Kirana, Ade Jun Firdaus, Sholla Taufiq KONTAN
Selasa, 26 Mei 2009 | 08:20

HARGA SUN

SUN Merangkak Naik, Investor pun Tersenyum


JAKARTA. Sungguh beruntung para pemegang Surat Utang Negara (SUN). Tidak hanya mendapatkan bunga tinggi, mereka juga meraih untung besar dari kenaikan harga SUN dalam tiga bulan terakhir. Yang paling kencang kenaikannya adalah harga SUN yang berjangka waktu panjang.

Ambil contoh harga SUN seri FR0036 yang berjangka waktu 10 tahun. Hingga kemarin (25/5), harga SUN seri ini sudah naik 14,74% sejak akhir Februari 2009 lalu menjadi 101,66. SUN seri FR0044 yang berjangka waktu 15 tahun naik lebih tinggi lagi. Harga SUN seri ini kemarin mencapai 86,63, atau naik 18,25% dari akhir Februari 2009.

SUN berjangka waktu 30 tahun, seri FR0050, juga naik cukup tinggi. Harga SUN seri ini sudah naik 17,19% sejak akhir Februari 2009 lalu menjadi 84,98. Meski tak setinggi SUN jangka panjang, harga jangka pendek juga meningkat.

Ujungnya, indeks obligasi pemerintah pun naik tajam. Kemarin, indeks obligasi pemerintah hasil hitungan Himpunan Pedagang Surat Utang Negara (Himdasun) berada di 90,29, naik 9,16% dari angka di akhir Februari lalu yang masih berada di posisi 82,71.

Direktur Mandiri Manajemen Investasi Andreas Gunawidjaja bilang, kenaikan harga SUN ini jelas menguntungkan investor. Contohnya, investor reksadana yang memiliki portofolio SUN. "Sekarang ini kami mendapatkan imbal hasil lebih banyak dari kenaikan harga SUN," katanya.

Menunggu data inflasi

Head of Debt Research Danareksa Sekuritas Budi Susanto melihat, sebelumnya harga SUN jangka pendek lebih cepat naiknya ketimbang SUN jangka panjang. Tapi, saat ini yang terjadi sebaliknya. Pergerakan harga SUN bertenor pendek kurang dari lima tahun justru terbatas.

Tapi, Vice President Head of Debt & Capital Market OSK Nusadana Securities Heru Helbianto memperkirakan, hingga akhir bulan ini, harga SUN mungkin tidak akan naik tinggi lagi. "Pasar masih akan menunggu data inflasi dan apakah ada penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) lagi," ujarnya.

Selain investor lokal, investor asing juga terus menambah dana mereka di SUN. Hingga 22 Mei 2009 lalu, total dana asing yang terparkir di SUN mencapai Rp 86,87 triliun. Dana asing ini sudah naik 3,77% ketimbang akhir April 2009 yang masih sebesar Rp 83,71 triliun.

Budi memprediksi, dana asing di SUN ini bisa kembali ke titik tertinggi Rp 106 triliun. "Tapi, mungkin baru tercapai tahun depan," ujarnya.




Wahyu Tri Rahmawati KONTAN

Senin, 25 Mei 2009

sanggup... ne... mosok seh... BUKTIKAN

Selasa, 19/05/2009 19:06 WIB

Schroder targetkan dana kelolaan Rp26 triliun

oleh : Irvin Avriano

JAKARTA (bisnis.com): PT Schroder Investment Management Indonesia menargetkan peningkatan dana kelolaan melebihi posisi pada 2007 dengan mencapai Rp26,01 triliun pada akhir tahun ini dari posisi akhir April Rp24,48 triliun.



Direktur & Head of Sales Schroder Indonesia Michael Tjandra Tjoajadi mengatakan target tersebut akan tergantung dari peningkatan nilai saham dan obligasi yang menjadi portofolio investasi reksa dana dan kontrak pengelolaan dana (KPD/discretionary fund) yang dikelola perusahaan.



"Kalau peningkatan yang sekarang terus terjadi dan tidak akan turun seperti tahun lalu, peningkatan dana kelolaan itu akan mungkin dan sangat kami harapkan," ujarnya belum lama ini.



Dia menjelaskan perusahaan mulai menawarkan produk reksa dana syariah Schroder Syariah Balanced Fud dyang akan didistribusikan melalui sedikitnya 10 bank penjual. Beberapa di antaranya yaitu Bank Commonwealth, Bank Danamon, BII, DBS Indonesia, The Royal Bank of Scotland, dan UOB Buana.



Reksa dana tersebut, lanjutnya, akan menggunakan jasa dari Deutsche Bank AG sebagai bank kustodian. Perusahaan juga berkeinginan membentuk satu reksa dana syariah baru tahun ini apabila dana kelolaan reksa dana yang diluncurkan tersebut mencapai Rp1 triliun sebelum akhir tahun.



Perusahaan, lanjutnya, juga berencana menerbitkan 2 hingga 5 reksa dana baru lain tahun ini, salah satunya reksa dana pendapatan tetap dan menutup kemungkinan akan dibuat reksa dana saham. "Kami sudah memiliki dua reksa dana saham, masing-masing memiliki kekhususan saham berkapitalisasi besar dan lainnya untuk saham berkapitalisasi menengah dan kecil". (tw)

bisnis.com

Sabtu, 23 Mei 2009

mandiri MENDIRIKAN semangat lage...

19/05/2009 - 12:54
MMI Bakal Terbitkan MPDP7 Rp 200 M
Susan Silaban
INILAH.COM, Jakarta - PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI) berencana menerbitkan Reksadana Mandiri Terproteksi Dana Bertahap 7 Atau MPDP7 senilai Rp 500 miliar.

Hal ini dijelaskan Direktur Mandiri Manajemen Investasi, Andreas Muljadi saat ditemui di lobi Bapepam, Selasa (19/5).

Ia menjelasakan, imbal hasil yang diberikan sebesar 11% dengan jangka waktu 1 tahun. Saat ini, Mandiri tengah menyelesaikan bookbuilding dan diharapkan selesai pekan ini. Adapun underlying aset reksadana MPDP7, yakni MTN FIF.

"Mengapa MTN, karena investor ada yang menyukai risiko tinggi. Dengan demikian yield yang diberikan pun tinggi. Untuk itu kita buat produk untuk investor," jelasnya.

Lebih jauh, ia menjelaskan saat ini sudah ada 3 produk yang sudah diterbitkan dan rencananya Mandiri akan menerbitkan produk reksadana terproteksi. "Minimal 1 tahun ada 1 produk," jelasnya.

Saat ini, dana kelolaan MMI sebesar Rp8,7 triliun dan ditargetkan tahun 2009 sebesar Rp 12 Triliun. [cms]