Danareksa Targetkan Rp100 Miliar untuk RDPT
Selasa, 30 November 2010 - 18:09 wib
Martin Bagya Kertiyasa - Okezone
JAKARTA - PT Danareksa (Persero) menargetkan Rp100 miliar untuk Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) yang diinvestasikan pada surat utang yang diterbitkan oleh PNM akhir tahun ini.
"Rp100 miliar hanya awal. Pada tahun 2011 akan mungkin bertambah," ungkap Direktur Utama PT Danareksa Investment Management John D Item, di Jakarta, Selasa (30/11/2010).
Penerbitan surat utang ini rencananya akan digunakan untuk membiayai usaha mikro kecil melalui ULaMM-PNM. "Rp100 miliar ini digunakan untuk memberikan modal bagi sekira 1.100 pengusaha mikro," katanya.
Dia pun mengharapkan bila pada tahun 2011 mendatang akan ada tambahan kantor sebanyak 100 unit, di mana total kantor unit dan cluster mencapai 400 lebih, serta non-performing loan (NPL) tetap di bawah dua persen.
Dengan RDPT, minimal sebesar Rp5 miliar dari reksa dana di mana bunganya sebesar 10,5 persen akan diberikan ke investor. Sementara untuk peminjaman di bawah Rp50 juta jaminan akan diberikan Jampindo. Sedangkan di atas itu diperlukan jaminan.
Diharapkan, produk ini dapat menarik para investor. Hingga Oktober 2010, PNM telah berhasil menghimpun fasilitas pinjaman dari perbankan dan investor pasar modal dengan total fasilitas mencapai Rp2 triliun.(ade)
PT Danareksa Investment Management (DIM) berencana mengeluarkan 5 produk reksadana investasi. DIM akan meluncurkan produk tersebut di kuartal IV-2010 ini.
Satu diantaranya DIM meluncurkan reksa dana Dollar AS berjenis pendapatan tetap bernama Danareksa Melati Platinum Dollar AS.
DIM menangkap potensi imbal hasil yang menarik dengan menempatkan maksimal 20% portofolionya pada efek saham di pasar saham Indonesia dan global.
"Dengan terbitnya Danareksa Melati Platinum Dollar AS, investor makin mempunyai pilihan yang beragam untuk berinvestasi di Reksa Dana Dollar yang sesuai dengan profil risikonya," ujar Direktur Danareksa Investment Management Prihatmo dalam Siaran Persnya di Jakarta, Selasa (30/11/2010).
Ia mengungkapkan, dengan kisaran target kinerja 6-8% net per tahun, DIM yakin Danareksa Melati Platinum Dollar AS pada tahun pertama mampu meraih dana kelolaan hingga US$ 25 juta.
Lebih jauh Prihatmo mengatakan, 4 reksadana dari 5 yang diluncurkan tersebut diantaranya telah menghimpun dana kelolaan hingga Rp 570 miliar.
Kelima reksa dana yang diluncurkan DIM tersebut terdiri dari 4 reksadana proteksi dan 1 reksa dana pendapatan tetap denominasi Dollar AS. Dengan berbasis pada obligasi berperingkat minimal AA-, reksa dana terproteksi yang diterbitkan DIM menetapkan imbal hasil 7,5-8 persen.
Sumber: detikcom
KEEP BUYING, jangka panjang LEBE BAGU$, pindah ke http://investasireksadanaindonesiagw.blogspot.com/ aka INVESTASI REKSA DANA INDONESIA gw
gW suka BANGET ketidakPASTIan
Selasa, 30 November 2010
Minggu, 28 November 2010
RD Schroders 2011
Schroders Incar AUM Rp57 T di 2011
Headline
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Minggu, 28 November 2010 | 13:45 WIB
INILAH.COM, Jakarta - PT Schroders Investment Management Indonesia mengharapkan total Asset Under Management (AUM) sebesar Rp57 triliun dengan komposisi dana kelolaan reksa dana mencapai Rp40 triliun pada 2011.
Hal itu disampaikan Direktur PT Schroders Investment Management Indonesia Michael Tjoajadi saat dihubungi INILAH.COM, Minggu (28/11). Michael menuturkan, kenaikan dana kelolaan reksa dana menjadi Rp40 triliun pada 2011 didukung dari reksadana saham, reksadana terproteksi, dan campuran.
"Kita berharap ada pertumbuhan di reksadana terproteksi sebesar Rp1 triliun. Schroders berencana akan meluncurkan reksa dana balance satu lagi pada 2011," kata Michael.
Michael pun optimis, pihaknya dapat meraih dana kelolaan mencapai Rp37 triliun pada 2011. Hingga Oktober 2010, dana kelolaan reksa dana PT Schroders Investment Management Indonesia mencapai Rp36,12 triliun. Total AUM PT Schroders Investment Management Indonesia sebesar Rp52,33 triliun per 31 Oktober 2010. Komposisi reksa dana tersebut didominasi oleh reksadana saham sebesar 70%.
"Dari dana kelolaan sebesar Rp36 triliun itu, reksa dana saham mencatatkan dana kelolaan sebesar Rp16 triliun per Oktober 2010 kemudian disusul reksa dana balance, pasar uang, dan pendapatan tetap," tambah Michael. [hid]
Headline
Oleh: Agustina Melani
Pasar Modal - Minggu, 28 November 2010 | 13:45 WIB
INILAH.COM, Jakarta - PT Schroders Investment Management Indonesia mengharapkan total Asset Under Management (AUM) sebesar Rp57 triliun dengan komposisi dana kelolaan reksa dana mencapai Rp40 triliun pada 2011.
Hal itu disampaikan Direktur PT Schroders Investment Management Indonesia Michael Tjoajadi saat dihubungi INILAH.COM, Minggu (28/11). Michael menuturkan, kenaikan dana kelolaan reksa dana menjadi Rp40 triliun pada 2011 didukung dari reksadana saham, reksadana terproteksi, dan campuran.
"Kita berharap ada pertumbuhan di reksadana terproteksi sebesar Rp1 triliun. Schroders berencana akan meluncurkan reksa dana balance satu lagi pada 2011," kata Michael.
Michael pun optimis, pihaknya dapat meraih dana kelolaan mencapai Rp37 triliun pada 2011. Hingga Oktober 2010, dana kelolaan reksa dana PT Schroders Investment Management Indonesia mencapai Rp36,12 triliun. Total AUM PT Schroders Investment Management Indonesia sebesar Rp52,33 triliun per 31 Oktober 2010. Komposisi reksa dana tersebut didominasi oleh reksadana saham sebesar 70%.
"Dari dana kelolaan sebesar Rp36 triliun itu, reksa dana saham mencatatkan dana kelolaan sebesar Rp16 triliun per Oktober 2010 kemudian disusul reksa dana balance, pasar uang, dan pendapatan tetap," tambah Michael. [hid]
Senin, 22 November 2010
TRIM buang MI ... 221110
Senin, 22/11/2010 20:00:51 WIB
Trimegah bersiap lepas unit manajer investasi
Oleh: Irvin Avriano A.
JAKARTA: PT Trimegah Securities Tbk berencana memisahkan divisi manajer investasinya menjadi PT Trimegah Asset Management dan memprediksi dapat meningkatkan laba per saham perseroan menjadi Rp11,5 dari Rp5,8 pada 2009.
Direksi Trimegah Securities dalam keterbukaan informasi kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini juga memprediksi laba per saham perseroan akan mencapai Rp56,3 per saham pada 2015.
Proyeksi lain yang juga ditetapkan perseroan adalah nilai buku ekuitas yang diprediksi meningkat dari Rp99,1 per saham pada 2009 menjadi Rp110 per saham pada 2011 dan menjadi Rp198,3 per saham pada 2015.
Manajemen perseroan juga mengatakan rencana pemisahan divisi perseroan itu telah dinyatakan layak oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Felix Sutandar & Rekan.
Dalam perusahaan baru itu, Trimegah Securities akan memiliki sebanyak 99,9% saham Trimegah Asset Management. Perseroan juga akan meminta persetujuan pemegang sahamnya dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk melancarkan rencana itu. RUPSLB itu direncanakan digelar pada 21 Desember.
Pemisahan perusahaan itu juga dilakukan akibat adanya peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) No.V.A.3 tentang Perizinan Perusahaan Efek yang Melakukan Kegiatan Usaha sebagai Manajer Investasi.
Selain memenuhi ketentuan peraturan itu, perseroan juga ingin memisahkan anak usaha itu sehingga perseroan dan Trimegah Asset Management dapat lebih fokus pada kegiatan usaha utama masing-masing. (faa)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai
Trimegah bersiap lepas unit manajer investasi
Oleh: Irvin Avriano A.
JAKARTA: PT Trimegah Securities Tbk berencana memisahkan divisi manajer investasinya menjadi PT Trimegah Asset Management dan memprediksi dapat meningkatkan laba per saham perseroan menjadi Rp11,5 dari Rp5,8 pada 2009.
Direksi Trimegah Securities dalam keterbukaan informasi kepada PT Bursa Efek Indonesia (BEI) hari ini juga memprediksi laba per saham perseroan akan mencapai Rp56,3 per saham pada 2015.
Proyeksi lain yang juga ditetapkan perseroan adalah nilai buku ekuitas yang diprediksi meningkat dari Rp99,1 per saham pada 2009 menjadi Rp110 per saham pada 2011 dan menjadi Rp198,3 per saham pada 2015.
Manajemen perseroan juga mengatakan rencana pemisahan divisi perseroan itu telah dinyatakan layak oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Felix Sutandar & Rekan.
Dalam perusahaan baru itu, Trimegah Securities akan memiliki sebanyak 99,9% saham Trimegah Asset Management. Perseroan juga akan meminta persetujuan pemegang sahamnya dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk melancarkan rencana itu. RUPSLB itu direncanakan digelar pada 21 Desember.
Pemisahan perusahaan itu juga dilakukan akibat adanya peraturan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) No.V.A.3 tentang Perizinan Perusahaan Efek yang Melakukan Kegiatan Usaha sebagai Manajer Investasi.
Selain memenuhi ketentuan peraturan itu, perseroan juga ingin memisahkan anak usaha itu sehingga perseroan dan Trimegah Asset Management dapat lebih fokus pada kegiatan usaha utama masing-masing. (faa)
Nikmati kemudahan mengakses koran Bisnis Indonesia dalam berbagai
RDPT versi Ciptadana ... 221110
Ciptadana Asset Management Akan Terbitkan 3-5 Reksa Dana
Senin, 22 November 2010 - 17:15 wib
Widi Agustian - Okezone
JAKARTA - PT Ciptadana Asset Management bakal menerbitkan sekira tiga sampai lima reksa dana baru pada tahun 2011 mendatang.
"Sekira tiga sampai lima produk reksa dana baru akan dikeluarkan tahun depan," jelas Presiden Direktur Ciptadana Asset Management John Budiharsana di Hotel Four Season, Jakarta, Senin (22/11/2010).
Sekarang ini, dia menjelaskan ada sekira dua produk yang akan dilepaskan pada tahun depan. "Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) yang dalam pipeline ada dua," imbuhnya.
Pada 2011 mendatang, dia mengatakan akan memfokuskan dini dengan memasarkan produknya melalui agen pemasaran atau bank. "Kita akan memfokuskan pemasaran dengan pihak bank untuk memasarkan reksa dananya," ungkap dia.
Sementara untuk reksa dana lainnya, dia mengaku belum memiliki rencana untuk penerbitan. Dia hanya akan menjaga (maintanance) reksa dana yang sudah ada.(ade)
Senin, 22 November 2010 - 17:15 wib
Widi Agustian - Okezone
JAKARTA - PT Ciptadana Asset Management bakal menerbitkan sekira tiga sampai lima reksa dana baru pada tahun 2011 mendatang.
"Sekira tiga sampai lima produk reksa dana baru akan dikeluarkan tahun depan," jelas Presiden Direktur Ciptadana Asset Management John Budiharsana di Hotel Four Season, Jakarta, Senin (22/11/2010).
Sekarang ini, dia menjelaskan ada sekira dua produk yang akan dilepaskan pada tahun depan. "Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) yang dalam pipeline ada dua," imbuhnya.
Pada 2011 mendatang, dia mengatakan akan memfokuskan dini dengan memasarkan produknya melalui agen pemasaran atau bank. "Kita akan memfokuskan pemasaran dengan pihak bank untuk memasarkan reksa dananya," ungkap dia.
Sementara untuk reksa dana lainnya, dia mengaku belum memiliki rencana untuk penerbitan. Dia hanya akan menjaga (maintanance) reksa dana yang sudah ada.(ade)
RD 2010, mana favorit elo ... 221110
(Jenis) Reksa Dana Pilihan Investor 2010
November 15th, 2010 Rudiyanto KONTAN
Berikut adalah arsip artikel yang sudah dipublikasikan di mingguan kontan yang ditulis bersama rekan tim riset di www.infovesta.com bapak Edbert A. Suryajaya.
Apa jenis reksa dana favorit anda? Apakah reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap, terproteksi atau reksa dana indeks? Dalam artikel kali ini kami akan membahas apa yang menjadi pilihan para investor untuk tahun 2010 ini.
Dalam melihat apakah suatu reksa dana menjadi pilihan para investor, umumnya orang akan menggunakan Asset Under Management (AUM / Jumlah Dana Kelolaan) sebagai indikator. Logikanya semakin banyak jumlah dana kelolaan reksa dana ini, berarti semakin banyak pula investor yang berinvestasi pada reksa dana tersebut.
Penggunaan indikator tersebut tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya tepat. Sebab kenaikan harga saham dan obligasi juga dapat menyebabkan kenaikan pada AUM walaupun jumlah investasi investor tetap sama. Untuk itu, masih ada satu indikator lainnya yaitu Jumlah Unit Penyertaannya (UP).
Pada saat investor berinvestasi pada reksa dana, maka Manajer Investasi akan menerbitkan sejumlah unit penyertaan. Semakin banyak investor yang berinvestasi, maka semakin banyak pula Unit Penyertaan yang diterbitkan. Sebaliknya, ketika investor menjual investasi reksa dananya, maka Manajer Investasi akan membeli Unit Penyertaan dari investor. Aktivitas ini akan menyebabkan Unit Penyertaan yang ada semakin berkurang.
Aspek kenaikan harga saham dan obligasi tidak mempengaruhi jumlah unit penyertaan. Hanya saja tetap ada kelemahan dari penggunaan jumlah unit penyertaan sebagai indikator. Sebagai ilustrasi jika investor berinvestasi masing-masing 100 juta pada reksa dana saham yang harganya Rp 10.000 dan reksa dana pendapatan tetap yang harganya Rp 1.000, maka dari sisi Unit Penyertaan, akan terlihat seolah-olah reksa dana pendapatan tetap yang lebih diminati karena pertambahan jumlah unit yang lebih besar, padahal sebetulnya sama saja. Kelemahan yang kedua adalah jenis reksa dana pasar uang yang harganya selalu Rp 1000. Pendapatan dalam bentuk dividen, kupon, bunga deposito atau kenaikan harga akan dikonversikan ke dalam unit sehingga menambah jumlah unit penyertaan.
Oleh karena itu, dalam menentukan pilihan investor kami menggunakan 2 indikator sekaligus. Berdasarkan data per akhir Oktober 2010, sebagai berikut:
Sumber: BAPEPAM-LK dan Infovesta.com, diolah
Reksa Dana Saham
Per Oktober 2010, jenis reksa dana saham merupakan reksa dana dengan dana kelolaan terbesar yang mencapai Rp 43 triliun atau tumbuh 10% dari posisi akhir tahun 2009 yang sebesar Rp 39,7 triliun. Tahun ini pun jenis reksa dana ini mendapat angin segar karena pertumbuhan IHSG yang mencapai lebih dari 43%. Tapi jika melihat data Jumlah Unit Penyertaan, ternyata turun dari 11,79 juta menjadi 10,17 juta unit.
Angka di atas mengindikasikan bahwa meski jumlah dana kelolaan bertambah ternyata tidak diikuti dengan pertambahan jumlah investor. Oleh karena itu besar kemungkinan kenaikan jumlah dana kelolaan lebih ditopang karena kenaikan harga saham secara umum. Dari sisi psikologis investor, kami melihat bahwa momen kenaikan ini digunakan sebagian investor sebagai peluang untuk melakukan profit taking.
Reksa Dana Pasar Uang
Karena fiturnya yang unik, maka agak sulit untuk menjelaskan apakah kenaikan jumlah dana kelolaan lebih disebabkan karena investor atau kenaikan aset. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan melihat persentase returnnya. Dengan asumsi kenaikan unit karena kupon dan bunga deposito adalah sekitar 6% – 7%, maka diperkirakan sekitar 35%nya merupakan dana tambahan baru. Angka ini terhitung cukup lumayan meski secara angka absolut, AUM sebesar RP 7 triliun masih relatif kecil.
Reksa Dana Pendapatan Tetap
Dari sisi persentase pertumbuhan Jumlah Dana Kelolaan dan Jumlah Unit Penyertaan, bisa dibilang bahwa jenis reksa dana ini merupakan salah satu favorit pilihan investor 2010. Kombinasi antara naiknya harga obligasi dan kondisi suku bunga yang stabil dan rendah disertai dengan kekhawatiran terhadap potensi capital outflow terhadap kinerja reksa dana saham membuat jenis reksa dana ini menjadi pilihan utama.
Kebijakan pengenaan pajak atas kupon dan capital gain obligasi yang akan mulai berlaku secara bertahap mulai tahun 2011 nanti menurut kami tidak terlalu mempengaruhi minat investor. Dibandingkan isu pajak, kami lebih melihat faktor kebijakan akan naik atau tidaknya suku bunga lebih menjadi penentu apakah jenis reksa dana ini masih akan tetap menjadi favorit di tahun depan.
Reksa Dana Campuran
Jika dilihat dari pertumbuhan AUM yang positif dan Unit Penyertaan yang negatif, reksa dana campuran memiliki karakteristik yang hampir sama dengan reksa dana saham. Hal ini disebabkan karena reksa dana campuran yang ada saat ini sebagian besar memiliki kebijakan alokasi yang mendekati reksa dana saham. Oleh karena itu, naiknya harga digunakan oleh sebagian investor sebagai momentum untuk melakukan profit taking.
Reksa Dana Terproteksi
Dari sisi pertumbuhan AUM dan UP jenis reksa dana memang di bawah Reksa Dana Pendapatan Tetap, tapi jika ditambah aspek besaran absolut Jumlah Dana Kelolaan, maka bisa dikatakan inilah reksa dana pilihan investor yang paling favorit untuk tahun 2010 ini.
Karakteristik reksa dana ini merupakan instrumen investasi yang paling mendekati deposito karena memberikan dividen secara periodik. Didukung lagi dengan pemasaran yang banyak dilakukan melalui perbankan, kemungkinan besar jenis reksa dana ini akan menjadi reksa dana dengan dana kelolaan terbesar pada tahun 2011 nanti. Salah satu aspek yang dapat menghambat pertumbuhan jenis reksa dana ini adalah kebijakan pajak atas kupon dan capital gain obligasi yang akan berlaku nanti. Karena pengenaannya secara bertahap yaitu sebesar 5% hingga tahun 2013, prospek pertumbuhan masih ada meskipun tingkat imbal hasil yang diterima investor akan menurun.
Reksa Dana Indeks dan ETF (Exchange Traded Fund)
Dilihat dari pertumbuhan AUM dan Unit Penyertaannya, jenis reksa dana ini merupakan reksa dana yang tidak menjadi pilihan investor bahkan semakin menurun. Penyebabnya beragam, mulai dari produk yang hanya sedikit (hanya ada 4 reksa dana untuk kategori ini), sosialisasi yang kurang, hingga pada kinerja produk ini yang tidak terlalu luar biasa sehingga investor lebih memilih jenis reksa dana konvensional lainnya.
Dalam waktu yang tersisa 2 bulan ini, kecil kemungkinan peta di atas dapat berubah secara signifikan. Melihat kondisi sekarang ini, tampaknya jenis reksa dana yang akan mendominasi adalah reksa dana terproteksi. Peluang reksa dana saham untuk menjadi nomor 1 tetap ada sepanjang IHSG tetap mendulang return positif pada tahun depan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda.
November 15th, 2010 Rudiyanto KONTAN
Berikut adalah arsip artikel yang sudah dipublikasikan di mingguan kontan yang ditulis bersama rekan tim riset di www.infovesta.com bapak Edbert A. Suryajaya.
Apa jenis reksa dana favorit anda? Apakah reksa dana saham, campuran, pendapatan tetap, terproteksi atau reksa dana indeks? Dalam artikel kali ini kami akan membahas apa yang menjadi pilihan para investor untuk tahun 2010 ini.
Dalam melihat apakah suatu reksa dana menjadi pilihan para investor, umumnya orang akan menggunakan Asset Under Management (AUM / Jumlah Dana Kelolaan) sebagai indikator. Logikanya semakin banyak jumlah dana kelolaan reksa dana ini, berarti semakin banyak pula investor yang berinvestasi pada reksa dana tersebut.
Penggunaan indikator tersebut tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya tepat. Sebab kenaikan harga saham dan obligasi juga dapat menyebabkan kenaikan pada AUM walaupun jumlah investasi investor tetap sama. Untuk itu, masih ada satu indikator lainnya yaitu Jumlah Unit Penyertaannya (UP).
Pada saat investor berinvestasi pada reksa dana, maka Manajer Investasi akan menerbitkan sejumlah unit penyertaan. Semakin banyak investor yang berinvestasi, maka semakin banyak pula Unit Penyertaan yang diterbitkan. Sebaliknya, ketika investor menjual investasi reksa dananya, maka Manajer Investasi akan membeli Unit Penyertaan dari investor. Aktivitas ini akan menyebabkan Unit Penyertaan yang ada semakin berkurang.
Aspek kenaikan harga saham dan obligasi tidak mempengaruhi jumlah unit penyertaan. Hanya saja tetap ada kelemahan dari penggunaan jumlah unit penyertaan sebagai indikator. Sebagai ilustrasi jika investor berinvestasi masing-masing 100 juta pada reksa dana saham yang harganya Rp 10.000 dan reksa dana pendapatan tetap yang harganya Rp 1.000, maka dari sisi Unit Penyertaan, akan terlihat seolah-olah reksa dana pendapatan tetap yang lebih diminati karena pertambahan jumlah unit yang lebih besar, padahal sebetulnya sama saja. Kelemahan yang kedua adalah jenis reksa dana pasar uang yang harganya selalu Rp 1000. Pendapatan dalam bentuk dividen, kupon, bunga deposito atau kenaikan harga akan dikonversikan ke dalam unit sehingga menambah jumlah unit penyertaan.
Oleh karena itu, dalam menentukan pilihan investor kami menggunakan 2 indikator sekaligus. Berdasarkan data per akhir Oktober 2010, sebagai berikut:
Reksa Dana Saham
Per Oktober 2010, jenis reksa dana saham merupakan reksa dana dengan dana kelolaan terbesar yang mencapai Rp 43 triliun atau tumbuh 10% dari posisi akhir tahun 2009 yang sebesar Rp 39,7 triliun. Tahun ini pun jenis reksa dana ini mendapat angin segar karena pertumbuhan IHSG yang mencapai lebih dari 43%. Tapi jika melihat data Jumlah Unit Penyertaan, ternyata turun dari 11,79 juta menjadi 10,17 juta unit.
Angka di atas mengindikasikan bahwa meski jumlah dana kelolaan bertambah ternyata tidak diikuti dengan pertambahan jumlah investor. Oleh karena itu besar kemungkinan kenaikan jumlah dana kelolaan lebih ditopang karena kenaikan harga saham secara umum. Dari sisi psikologis investor, kami melihat bahwa momen kenaikan ini digunakan sebagian investor sebagai peluang untuk melakukan profit taking.
Reksa Dana Pasar Uang
Karena fiturnya yang unik, maka agak sulit untuk menjelaskan apakah kenaikan jumlah dana kelolaan lebih disebabkan karena investor atau kenaikan aset. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan melihat persentase returnnya. Dengan asumsi kenaikan unit karena kupon dan bunga deposito adalah sekitar 6% – 7%, maka diperkirakan sekitar 35%nya merupakan dana tambahan baru. Angka ini terhitung cukup lumayan meski secara angka absolut, AUM sebesar RP 7 triliun masih relatif kecil.
Reksa Dana Pendapatan Tetap
Dari sisi persentase pertumbuhan Jumlah Dana Kelolaan dan Jumlah Unit Penyertaan, bisa dibilang bahwa jenis reksa dana ini merupakan salah satu favorit pilihan investor 2010. Kombinasi antara naiknya harga obligasi dan kondisi suku bunga yang stabil dan rendah disertai dengan kekhawatiran terhadap potensi capital outflow terhadap kinerja reksa dana saham membuat jenis reksa dana ini menjadi pilihan utama.
Kebijakan pengenaan pajak atas kupon dan capital gain obligasi yang akan mulai berlaku secara bertahap mulai tahun 2011 nanti menurut kami tidak terlalu mempengaruhi minat investor. Dibandingkan isu pajak, kami lebih melihat faktor kebijakan akan naik atau tidaknya suku bunga lebih menjadi penentu apakah jenis reksa dana ini masih akan tetap menjadi favorit di tahun depan.
Reksa Dana Campuran
Jika dilihat dari pertumbuhan AUM yang positif dan Unit Penyertaan yang negatif, reksa dana campuran memiliki karakteristik yang hampir sama dengan reksa dana saham. Hal ini disebabkan karena reksa dana campuran yang ada saat ini sebagian besar memiliki kebijakan alokasi yang mendekati reksa dana saham. Oleh karena itu, naiknya harga digunakan oleh sebagian investor sebagai momentum untuk melakukan profit taking.
Reksa Dana Terproteksi
Dari sisi pertumbuhan AUM dan UP jenis reksa dana memang di bawah Reksa Dana Pendapatan Tetap, tapi jika ditambah aspek besaran absolut Jumlah Dana Kelolaan, maka bisa dikatakan inilah reksa dana pilihan investor yang paling favorit untuk tahun 2010 ini.
Karakteristik reksa dana ini merupakan instrumen investasi yang paling mendekati deposito karena memberikan dividen secara periodik. Didukung lagi dengan pemasaran yang banyak dilakukan melalui perbankan, kemungkinan besar jenis reksa dana ini akan menjadi reksa dana dengan dana kelolaan terbesar pada tahun 2011 nanti. Salah satu aspek yang dapat menghambat pertumbuhan jenis reksa dana ini adalah kebijakan pajak atas kupon dan capital gain obligasi yang akan berlaku nanti. Karena pengenaannya secara bertahap yaitu sebesar 5% hingga tahun 2013, prospek pertumbuhan masih ada meskipun tingkat imbal hasil yang diterima investor akan menurun.
Reksa Dana Indeks dan ETF (Exchange Traded Fund)
Dilihat dari pertumbuhan AUM dan Unit Penyertaannya, jenis reksa dana ini merupakan reksa dana yang tidak menjadi pilihan investor bahkan semakin menurun. Penyebabnya beragam, mulai dari produk yang hanya sedikit (hanya ada 4 reksa dana untuk kategori ini), sosialisasi yang kurang, hingga pada kinerja produk ini yang tidak terlalu luar biasa sehingga investor lebih memilih jenis reksa dana konvensional lainnya.
Dalam waktu yang tersisa 2 bulan ini, kecil kemungkinan peta di atas dapat berubah secara signifikan. Melihat kondisi sekarang ini, tampaknya jenis reksa dana yang akan mendominasi adalah reksa dana terproteksi. Peluang reksa dana saham untuk menjadi nomor 1 tetap ada sepanjang IHSG tetap mendulang return positif pada tahun depan. Semoga artikel ini bermanfaat bagi anda.
Sabtu, 20 November 2010
RDS kalah dari ihsg, lah ... konsisten : 201110
Mencermati Konsistensi Return Reksa Dana Saham
Selasa, 16 November 2010 - 09:54 wib
Cara memilih reksa dana untuk pilihan investasi tentu boleh berbeda-beda. Ada yang melihat tingkat keuntungan saja (return), ada yang mengombinasikan antara return dan risikonya, dan ada pula yang hanya melihat bonafiditas atau popularitas manajer investasi (MI) pengelola reksa dana tersebut.
Memang tidak ada yang salah dengan ketiga cara tersebut. Namun, ada satu hal yang investor mungkin terlewati, yaitu konsistensi. Konsistensi sebuah reksa dana merupakan hal yang penting karena menunjukkan karakteristik reksa dana itu sendiri. Kata ”konsisten” bisa mengacu pada beberapa hal. Misalnya, seperti konsisten dalam mengalahkan reksa dana lain yang sejenis.
Namun, dalam hal ini konsistensi yang dimaksud adalah konsistensi kinerja reksa dana untuk mengalahkan indeks acuan dari sisi return-nya selama setahun penuh. Semakin sering reksa dana mengalahkan indeks acuannya,maka reksa dana tersebut dikatakan semakin konsisten.
Artinya cenderung memberikan return yang lebih tinggi dibanding indeks acuannya. Melalui tulisan ini, penulis ingin sedikit membahas mengenai masalah konsistensi return reksa dana.
Namun sebelum melangkah lebih jauh, ada sedikit informasi bahwa return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang umumnya dipublikasikan sebenarnya belum memasukkan unsur dividen tunai. Jadi, return riil IHSG seharusnya ditambahkan dengan imbal hasil dividen (dividend yield) dari semua saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang dari bobot kapitalisasi pasarnya.
Dividend yield merupakan tingkat keuntungan investor atas perolehan dividen tunai per saham berdasarkan harga beli saham tersebut.
Misalnya, saham ASII membagikan dividen tunai sebesar Rp470 per saham, sedangkan investor A membeli saham ASII di Rp55.000.Maka,besarnya dividend yield saham ASII yang diterima oleh investor A sebesar 0,85 persen.
Dalam hal ini, penulis menggunakan rata-rata dividend yield pada tahun 2009 dari 10 saham berkapitalisasi besar dalam IHSG sebagai asumsi dividend yield untuk tahun-tahun sebelumnya.
Kesepuluh saham tersebut, yaitu ASII, BBCA, TLKM, BBRI, BMRI, UNVR, PGAS, GGRM, UNTR, dan ADRO. Rata-rata tertimbang dividend yield dari kesepuluh saham tersebut kurang lebih sebesar dua persen.
Sementara untuk reksa dana saham, return riil seharusnya sudah memasukkan unsur fee (biaya) pembelian dan penjualan kembali. Maksudnya adalah jika investor melakukan pembelian atas Unit Penyertaan (UP) sebuah reksa dana, maka ia akan dikenakan fee pembelian sehingga harga belinya akan menjadi lebih tinggi.
Demikian pula dalam hal penjualan kembali UP, investor juga akan dikenakan fee penjualan kembali dan hasil yang diterima akan terlihat lebih rendah. Besarnya fee pembelian dan penjualan ditentukan dalam prospektus reksa dana tersebut.
Jadi secara keseluruhan, dampak dari fee tersebut akan mengurangi return reksa dana yang dihitung dari perubahan nilai aktiva bersih (NAB) per UP. Pada akhirnya, return riil reksa dana tersebut tentunya akan lebih rendah.
Oleh karena terdapat perbedaan return, maka penulis membagi return menjadi dua, yaitu gross return (return yang belum memperhitungkan dividend yield untuk IHSG dan fee beli-jual untuk reksa dana) dan adjusted return (return yang sudah memperhitungkan dividend yield untuk IHSG dan fee beli-jual untuk reksa dana). Sebagai data pendukung, penulis mengambil contoh kasus pada reksa dana saham.
Tujuan penulis melakukan pembedaan return adalah untuk melihat apakah konsistensi reksa dana saham yang mengalahkan kinerja IHSG berdasarkan gross return selama setahun masih tercermin jika menggunakan adjusted return.
Alasan penggunaan return selama setahun karena investor diasumsikan memulai investasinya di awal tahun dan melepasnya di akhir tahun. Periode pengamatan yang digunakan, yaitu selama tujuh tahun terakhir dengan populasi sebanyak 14 reksa dana saham.
Namun, di bawah ini penulis hanya menyajikan tabel yang berisi tiga reksa dana saham yang mampu konsisten mengalahkan kinerja IHSG berdasarkan gross return. Tabel di atas hanya menyajikan tiga reksa dana saham yang konsisten mengalahkan IHSG selama tujuh tahun terakhir berdasarkan gross return.
Warna kuning menunjukkan bahwa return reksa dana saham yang lebih tinggi dari return IHSG. Dengan menggunakan adjusted return, tidak ada satu pun reksa dana saham yang bisa konsisten mengalahkan kinerja IHSG di setiap tahunnya.
Rata-rata fee pembelian dan penjualan kembali dari ketiga reksa dana saham tersebut kurang lebih sebesar 1,5 persen. Meski tidak selalu konsisten di atas IHSG, adjusted return dari ketiga reksa dana saham tersebut masih lebih banyak yang di atas IHSG.
Hanya terdapat dua periode yang berada di bawah IHSG. Ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, kinerja reksa dana saham tersebut sebenarnya sudah cukup baik.
Namun, pengaruh unsur fee reksa dana dan dividend yield dari IHSG ternyata cukup berpengaruh dalam mengukur konsistensi return reksa dana saham. Sayang sekali nilai IHSG di BEI belum memasukkan unsur dividend yield sehingga investor masih sulit untuk mengukur return riilnya.
Intinya, dalam membandingkan kinerja reksa dana saham terhadap IHSG dari gross return saja tidak lah cukup. Namun ada baiknya, investor juga memperhatikan unsur fee reksa dana itu sendiri. Dengan demikian, investor dapat melihat reksa dana saham mana yang return riilnya benar-benar konsisten di atas IHSG. Selamat berinvestasi! (*)
Theodorus P Putrantyo
Analis Infovesta(Koran SI/Koran SI/ade)
Selasa, 16 November 2010 - 09:54 wib
Cara memilih reksa dana untuk pilihan investasi tentu boleh berbeda-beda. Ada yang melihat tingkat keuntungan saja (return), ada yang mengombinasikan antara return dan risikonya, dan ada pula yang hanya melihat bonafiditas atau popularitas manajer investasi (MI) pengelola reksa dana tersebut.
Memang tidak ada yang salah dengan ketiga cara tersebut. Namun, ada satu hal yang investor mungkin terlewati, yaitu konsistensi. Konsistensi sebuah reksa dana merupakan hal yang penting karena menunjukkan karakteristik reksa dana itu sendiri. Kata ”konsisten” bisa mengacu pada beberapa hal. Misalnya, seperti konsisten dalam mengalahkan reksa dana lain yang sejenis.
Namun, dalam hal ini konsistensi yang dimaksud adalah konsistensi kinerja reksa dana untuk mengalahkan indeks acuan dari sisi return-nya selama setahun penuh. Semakin sering reksa dana mengalahkan indeks acuannya,maka reksa dana tersebut dikatakan semakin konsisten.
Artinya cenderung memberikan return yang lebih tinggi dibanding indeks acuannya. Melalui tulisan ini, penulis ingin sedikit membahas mengenai masalah konsistensi return reksa dana.
Namun sebelum melangkah lebih jauh, ada sedikit informasi bahwa return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang umumnya dipublikasikan sebenarnya belum memasukkan unsur dividen tunai. Jadi, return riil IHSG seharusnya ditambahkan dengan imbal hasil dividen (dividend yield) dari semua saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihitung berdasarkan rata-rata tertimbang dari bobot kapitalisasi pasarnya.
Dividend yield merupakan tingkat keuntungan investor atas perolehan dividen tunai per saham berdasarkan harga beli saham tersebut.
Misalnya, saham ASII membagikan dividen tunai sebesar Rp470 per saham, sedangkan investor A membeli saham ASII di Rp55.000.Maka,besarnya dividend yield saham ASII yang diterima oleh investor A sebesar 0,85 persen.
Dalam hal ini, penulis menggunakan rata-rata dividend yield pada tahun 2009 dari 10 saham berkapitalisasi besar dalam IHSG sebagai asumsi dividend yield untuk tahun-tahun sebelumnya.
Kesepuluh saham tersebut, yaitu ASII, BBCA, TLKM, BBRI, BMRI, UNVR, PGAS, GGRM, UNTR, dan ADRO. Rata-rata tertimbang dividend yield dari kesepuluh saham tersebut kurang lebih sebesar dua persen.
Sementara untuk reksa dana saham, return riil seharusnya sudah memasukkan unsur fee (biaya) pembelian dan penjualan kembali. Maksudnya adalah jika investor melakukan pembelian atas Unit Penyertaan (UP) sebuah reksa dana, maka ia akan dikenakan fee pembelian sehingga harga belinya akan menjadi lebih tinggi.
Demikian pula dalam hal penjualan kembali UP, investor juga akan dikenakan fee penjualan kembali dan hasil yang diterima akan terlihat lebih rendah. Besarnya fee pembelian dan penjualan ditentukan dalam prospektus reksa dana tersebut.
Jadi secara keseluruhan, dampak dari fee tersebut akan mengurangi return reksa dana yang dihitung dari perubahan nilai aktiva bersih (NAB) per UP. Pada akhirnya, return riil reksa dana tersebut tentunya akan lebih rendah.
Oleh karena terdapat perbedaan return, maka penulis membagi return menjadi dua, yaitu gross return (return yang belum memperhitungkan dividend yield untuk IHSG dan fee beli-jual untuk reksa dana) dan adjusted return (return yang sudah memperhitungkan dividend yield untuk IHSG dan fee beli-jual untuk reksa dana). Sebagai data pendukung, penulis mengambil contoh kasus pada reksa dana saham.
Tujuan penulis melakukan pembedaan return adalah untuk melihat apakah konsistensi reksa dana saham yang mengalahkan kinerja IHSG berdasarkan gross return selama setahun masih tercermin jika menggunakan adjusted return.
Alasan penggunaan return selama setahun karena investor diasumsikan memulai investasinya di awal tahun dan melepasnya di akhir tahun. Periode pengamatan yang digunakan, yaitu selama tujuh tahun terakhir dengan populasi sebanyak 14 reksa dana saham.
Namun, di bawah ini penulis hanya menyajikan tabel yang berisi tiga reksa dana saham yang mampu konsisten mengalahkan kinerja IHSG berdasarkan gross return. Tabel di atas hanya menyajikan tiga reksa dana saham yang konsisten mengalahkan IHSG selama tujuh tahun terakhir berdasarkan gross return.
Warna kuning menunjukkan bahwa return reksa dana saham yang lebih tinggi dari return IHSG. Dengan menggunakan adjusted return, tidak ada satu pun reksa dana saham yang bisa konsisten mengalahkan kinerja IHSG di setiap tahunnya.
Rata-rata fee pembelian dan penjualan kembali dari ketiga reksa dana saham tersebut kurang lebih sebesar 1,5 persen. Meski tidak selalu konsisten di atas IHSG, adjusted return dari ketiga reksa dana saham tersebut masih lebih banyak yang di atas IHSG.
Hanya terdapat dua periode yang berada di bawah IHSG. Ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan, kinerja reksa dana saham tersebut sebenarnya sudah cukup baik.
Namun, pengaruh unsur fee reksa dana dan dividend yield dari IHSG ternyata cukup berpengaruh dalam mengukur konsistensi return reksa dana saham. Sayang sekali nilai IHSG di BEI belum memasukkan unsur dividend yield sehingga investor masih sulit untuk mengukur return riilnya.
Intinya, dalam membandingkan kinerja reksa dana saham terhadap IHSG dari gross return saja tidak lah cukup. Namun ada baiknya, investor juga memperhatikan unsur fee reksa dana itu sendiri. Dengan demikian, investor dapat melihat reksa dana saham mana yang return riilnya benar-benar konsisten di atas IHSG. Selamat berinvestasi! (*)
Theodorus P Putrantyo
Analis Infovesta(Koran SI/Koran SI/ade)
Kamis, 18 November 2010
DESEMBER datang lah, segera ... 181110
Kamis, 18/11/2010 03:03:42 WIB
Tenggat perusahaan 13 MI sampai Desember
Oleh: Irvin Avriano A.
JAKARTA: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memberikan waktu hingga Desember bagi perusahaan 13 manajer investasi (MI) yang belum memiliki direksi atau masih dalam tahap pembenahan untuk memperbaiki perseroan, dengan ancaman penutupan perusahaan.
“Kami berikan waktu hingga Desember untuk membenahi diri,” ujar Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK Djoko Hendratto ketika dihubungi pers awal pekan ini.
Data Bapepam-LK menunjukkan dari 13 MI yang masih diperiksa biro pemeriksaan dan penyidikan otoritas pasar modal (Biro PP) atau terkena suspensi kegiatan, beberapa di antaranya disebabkan oleh kurangnya direksi perseroan dari jumlah yang ditetapkan.
Beberapa MI yang kekurangan direksi adalah PT NatPac Asset Management dan PT Reliance Asset Management. MI yang dianggap belum memenuhi ketentuan Bapepam-LK adalah PT Credit Suisse Asset Management Indonesia, PT Ekokapital Securities, dan PT Falcon Asia Resources Management.
Djoko mengatakan Reliance Asset Management sudah mengajukan calon direksi baru dan sedang dilakukan proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).
Namun, Sekretaris Perusahaan PT Reliance Securities Tbk Kriswitaluri mengatakan direksi perseroan sudah ditunjuk, dan tinggal menunggu fit and proper test calon komisaris.
Selain itu, ada PT Sarijaya Permana Sekuritas yang disuspensi karena masih terkait pemeriksaan kasus penggelapan dana dari divisi pialang efeknya yang terungkap pada 2008.
Beberapa MI yang kegiatannya disuspensi karena diperiksa Biro PP dan diindikasi melakukan pelanggaran adalah PT Bumiputera Capital Indonesia, PT Eficorp Sekuritas, dan PT Harvestindo Asset Management.
Selanjutnya PT Optima Kharya Capital Management, PT Optima Kharya Capital Securities, PT Pavillion Capital, dan PT Signature Capital Indonesia.
Djoko menjelaskan untuk Harvestindo, pemeriksaannya oleh Biro PP sudah selesai dan tinggal menunggu vonis bersalah atau tidak di Komisi Penetapan Sanksi dan Keberatan (KPSK) Bapepam-LK.(luz)
Tenggat perusahaan 13 MI sampai Desember
Oleh: Irvin Avriano A.
JAKARTA: Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) memberikan waktu hingga Desember bagi perusahaan 13 manajer investasi (MI) yang belum memiliki direksi atau masih dalam tahap pembenahan untuk memperbaiki perseroan, dengan ancaman penutupan perusahaan.
“Kami berikan waktu hingga Desember untuk membenahi diri,” ujar Kepala Biro Pengelolaan Investasi Bapepam-LK Djoko Hendratto ketika dihubungi pers awal pekan ini.
Data Bapepam-LK menunjukkan dari 13 MI yang masih diperiksa biro pemeriksaan dan penyidikan otoritas pasar modal (Biro PP) atau terkena suspensi kegiatan, beberapa di antaranya disebabkan oleh kurangnya direksi perseroan dari jumlah yang ditetapkan.
Beberapa MI yang kekurangan direksi adalah PT NatPac Asset Management dan PT Reliance Asset Management. MI yang dianggap belum memenuhi ketentuan Bapepam-LK adalah PT Credit Suisse Asset Management Indonesia, PT Ekokapital Securities, dan PT Falcon Asia Resources Management.
Djoko mengatakan Reliance Asset Management sudah mengajukan calon direksi baru dan sedang dilakukan proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test).
Namun, Sekretaris Perusahaan PT Reliance Securities Tbk Kriswitaluri mengatakan direksi perseroan sudah ditunjuk, dan tinggal menunggu fit and proper test calon komisaris.
Selain itu, ada PT Sarijaya Permana Sekuritas yang disuspensi karena masih terkait pemeriksaan kasus penggelapan dana dari divisi pialang efeknya yang terungkap pada 2008.
Beberapa MI yang kegiatannya disuspensi karena diperiksa Biro PP dan diindikasi melakukan pelanggaran adalah PT Bumiputera Capital Indonesia, PT Eficorp Sekuritas, dan PT Harvestindo Asset Management.
Selanjutnya PT Optima Kharya Capital Management, PT Optima Kharya Capital Securities, PT Pavillion Capital, dan PT Signature Capital Indonesia.
Djoko menjelaskan untuk Harvestindo, pemeriksaannya oleh Biro PP sudah selesai dan tinggal menunggu vonis bersalah atau tidak di Komisi Penetapan Sanksi dan Keberatan (KPSK) Bapepam-LK.(luz)
Langganan:
Postingan (Atom)