KEEP BUYING, jangka panjang LEBE BAGU$, pindah ke http://investasireksadanaindonesiagw.blogspot.com/ aka INVESTASI REKSA DANA INDONESIA gw
gW suka BANGET ketidakPASTIan
Jumat, 27 Juli 2012
RDS berbasis K0M0D1T4$, nasibMU ... 270712
Reksadana berbasis komoditas melempem
Oleh Marantina - Jumat, 27 Juli 2012 | 07:17 WIB
kontan
JAKARTA. Rontoknya harga komoditas pada tahun ini berimbas pada kinerja reksadana saham berbasis komoditas. Menilik data PT Infovesta Utama, beberapa reksadana saham dengan aset dasar (underlying asset) komoditas melempem pada paruh pertama lalu.
Ambil contoh, produk reksadana saham milik Batavia Prosperindo bernama Batavia Dana Saham Agro. Hingga akhir Juni 2012, kinerja reksadana ini anjlok 9,84%. Selain itu, kinerja reksadana Danareksa Mawar Komoditas 10 milik PT Danareksa Investment Management juga tergerus hingga 7,37% pada periode yang sama.
Zulfa Hendri, Direktur Danareksa Investment Management, mengatakan, produk reksadana itu memiliki aset dasar di saham sektor perkebunan dan energi. Lantaran harga komoditas turun cukup dalam sepanjang semester-I, kinerja reksadana berbasis komoditas milik Danareksa pun ikut melorot.
"Pada paruh kedua ini kami akan kurangi reksadana dengan aset dasar saham komoditas, terutama di sektor energi," ujar Zulfa tanpa menyebut besaran porsi saham yang akan dikurangi.
Edbert Suryajaya, analis riset Infovesta Utama, menuturkan, hingga enam bulan pertama di 2012, indeks saham di sektor perkebunan naik 8,62%. Sementara, indeks pertambangan anjlok hingga 22,12%. Sedang, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertumbuh sekitar 4,68%.
“Maka, tidak heran reksadana yang memperbesar alokasi pada saham pertambangan pasti mengalami penurunan yang cukup signifikan,” ungkapnya.
Zulfa menuturkan, dalam jangka pendek, ekonomi global masih sulit untuk pulih. Namun, ia optimistis dalam jangka panjang akan terjadi perbaikan. “Ini akan membuat harga komoditas bisa terangkat kembali,” kata dia.
Sementara, kinerja reksadana Mandiri Komoditas Syariah Plus (MKSP) milik PT Mandiri Manajemen Investasi hingga 25 Juli 2012 juga minus 6,08 %. Angka ini masih di bawah kinerja Jakarta Islamic Index (JII) yang sekitar 2,09%. Penurunan kinerja terjadi lantaran reksadana itu hanya dialokasikan pada sektor pertambangan dan perkebunan yang termasuk dalam daftar efek syariah.
Andreas Gunawidjaja, Direktur Mandiri Manajemen Investasi, menuturkan, harga batubara dan CPO yang melemah membuat kinerja produk reksadana berbasis komoditas milik Mandiri itu tidak menggembirakan.
Namun, Andreas memprediksi, harga batubara bisa kembali menguat dan harga crude palm oil (CPO) bisa kembali ke level RM 3.200 per ton hingga akhir tahun. Kemarin, harga CPO masih di level RM 2.481 per ton.
Namun, Edbert melihat sektor komoditas masih sulit bangkit. Investor yang ingin berinvestasi pada reksadana berbasis komoditas layaknya mencermati outlook komoditas agar tidak merugi.
Rabu, 18 Juli 2012
NAB dan LPHE dan MI dan BAPEPAM-LK
Bapepam Revisi Aturan Nilai Portfolio Reksa Dana
Oleh: Agustina Melani
pasarmodal - Jumat, 13 Juli 2012 | 18:00 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menerbitkan revisi aturan IV.C.2 tentang nilai pasar wajar dari efek dalam perhitungan portofolio reksa dana.
Dengan revisi aturan tersebut membuat peran Lembaga Penilai Harga Efek (LPHE) menjadi sentral dalam menentukan Nilai Aktiva Bersih (NAB) setiap reksa dana. Ketua Bapepam-LK Nurhaida menuturkan, nilai pasar wajar dari efek dalam portofolio reksa dana wajib dihitung dan disampaikan oleh Manajer Investasi kepada Bank Kustodian paling lambat pukul 17.00 WIB setiap hari bursa dengan menggunakan harga pasar wajar yang ditetapkan oleh LPHE.
Saat ini baru satu perusahaan yang menjadi lembaga penilai harga efek yaitu PT Penilai Harga Efek Indonesia. “Dalam hal harga perdagangan terakhir efek di Bursa Efek Indonesia tidak mencerminkan Nilai Pasar Wajar pada saat itu, maka perhitungan Nilai Pasar Wajar dari Efek tersebut menggunakan harga pasar wajar yang ditetapkan oleh PHEI sebagai harga acuan bagi Manajer Investasi,” ujar Nurhaida dalam revisi aturan yang diterbitkan Jumat (13/7/2012).
Nurhaida menambahkan, jika LPHE tidak mengeluarkan harga pasar wajar terhadap efek, maka manajer investasi wajib menentukan nilai pasar wajar efek berdasarkan metode yang menggunakan asas konservatif dan diterapkan secara konsisten. Adapun metodenya adalah harga perdagangan sebelumnya, harga perbandingan efek sejenis dan kondisi fundamental dari penerbit efek.
LPHE tidak mengeluarkan harga pasar wajar terhadap efek dari perusahaan yang dinyatakan pailit atau kemungkinan akan pailit atau gagal membayar pokok utang atau bunga dari efek tersebut, maka manajer investasi wajib menghitung nilai pasar wajar efek dengan pertimbangan harga perdagangan terakhir efek tersebut dan kecenderungan harga efek tersebut.
Selain itu beberapa hal lain yang masuk ke dalam metode perhitungan adalah tingkat bunga umum sejak perdagangan terakhir untuk efek bersifat utang, informasi material yang diumumkan mengenai efek tersebut sejak perdagangan terakhir, perkiraan rasio harga saham per pendapatan (price-to-earning ratio) untuk efek bersifat saham, tingkat bunga pasar dari efek sejenis pada tahun berjalan dengan peringkat kredit sejenis (untuk obligasi) dan harga pasar terakhir dari efek yang mendasari jika berupa derivatif atas efek.
Sementara itu, untuk perhitungan reksadana yang ingin dibubarkan baik karena diperintahkan oleh Bapepam-LK atau NAB reksa dana kurang dari Rp 25 miliar selama 90 hari berturut-turut maka manajer investasi dapat menghitung sendiri nilai wajar reksadana tersebut berdasarkan metode dengan menggunakan asas konservatif dan penerapan konsisten.
“Untuk nilai pasar wajar efek dalam portofolio reksa dana yang diperdagangkan dalam denominasi mata uang yang berbeda dengan denominasi mata uang reksa dana tersebut, maka wajib dihitung dengan menggunakan kurs tengah Bank Indonesia,” ujar Nurhaida. [hid]
Selasa, 17 Juli 2012
inves 1 JUTA per bulan @ DEPOSITO atawa SDI dalam 5 taon ini ...
kalo disimak maka bunga DEPOSITO dalam 5 taon terakhir, sejak 2007, maka terjadi pergerakan dari sekira di bawah 10% lalu ke 15% dan pada saat ini sekira 5-7%, maka gw mencoba membuat tabel skenario INVES 1 JUTA @DEPOSITO dengan suku bunga deposito yang gw reratakan= (5%+15%)/2 = 10%, lalu dibagi rerata per bulan = 10%/12= 0.83% per bulan (KASAR)
bandingkan dengan posting tabel gw yang terdahulu, yaitu INVES 1 JUTA pada SCHRODER DANA ISTIMEWA dalam 5 taon terakhir:
berarti ada selisih antara imbal hasil deposito dan reksa dana saham SDI dalam 5 taon, saat TERJADI GONCANGAN KRISIS FINANSIAL GLOBAL BERULANG-ULANG (terutama di amrik dan euro zone)
bandingkan dengan posting tabel gw yang terdahulu, yaitu INVES 1 JUTA pada SCHRODER DANA ISTIMEWA dalam 5 taon terakhir:
berarti ada selisih antara imbal hasil deposito dan reksa dana saham SDI dalam 5 taon, saat TERJADI GONCANGAN KRISIS FINANSIAL GLOBAL BERULANG-ULANG (terutama di amrik dan euro zone)
tampaknya SDI maseh lebe unggul daripada deposito,
:)
Senin, 16 Juli 2012
inves 10 Juta per bulan @Schroder Dana Istimewa dalam 5 taon (akselerasi)
bwat yang kelas menengah atas, menyisihkan 10-20 juta per bulan dimungkinkan (total modal= modal rutin + tambahan modal saat turun/krisis= 685 Juta perak, nilai aset menjadi Rp. 1.2 Milyar), maka SASARAN 1 MILYAR dalam 5 taon bisa dicapai; malah % potential gain bisa lebe tinggi daripada yang inves 1 juta AKSELERASI terutama pada krisis, yaitu 81% sekira +2% lebe gede :)
inves 1 Juta per bulan (AKSELERASI) @Schroder Dana Istimewa 5 taon
catatan: modal rutin per bulan + tambahan modal saat NAB TURUN besar = 60 Jt + 7,5 Jt
= 67,5 Jt; nilai aset yang terjadi = Rp.116 Jt berarti %potential gain total= +72%.
berarti terjadi selisih % potential gain antara yang rutin dan +tambahan= (72%-65%) = 7%
catatan: lage tambahin modal pada saat KRISIS (lipatduakan modal tambahan), maka % potential gain menjadi 79%, naek sekira +14% dibandingkan dengan % potential gain jika hanya melakukan inves rutin
catatan: aneh juga bahwa penggandaan modal tambahan secara rata pada semua AKSI MENAMBAH MODAL justru membuat %potential gain malah turun dari 79% ke 77%; itu sebabnya FAKTOR HARGA LEBE MURAH adalah FAKTOR AKSELERASI PALING GEDE, selaen faktor KRISIS
Rabu, 11 Juli 2012
Jumat, 06 Juli 2012
RD dolar JUGA $egitu ... 060712
Ke depan kinerja reksadana dollar bisa beri 3%
Oleh Narita Indrastiti - Jumat, 06 Juli 2012 | 00:30 WIB
kontan
JAKARTA. Nilai tukar dollar AS yang terus menguat terhadap rupiah membuat kinerja reksadana dollar AS mencatat imbal hasil positif.
Analis Riset PT Infovesta Utama Edbert Suryajaya yakin reksadana ini masih bisa memberikan imbal hasil yang cukup lumayan ke depannya. Dia menduga bisa sekitar 2%-3%.
Edbert mengingatkan reksadana ini paling cocok pada investor memiliki kebutuhan besar di dollar AS. Sebab reksa dana ini memiliki risiko perbedaan nilai tukar mata uang. Artinya investor Indonesia yang berinvestasi dalam mata uang dollar harus terlebih dahulu melakukan konversi mata uang.
Edbert mencontohkan, apabila reksadana ini mencatatkan return 5%, namun pada saat yang sama dollar AS melemah 5%. Maka investor akan rugi. "Penting bagi investor mempertimbangkan pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS," saran dia.
Rata-rata kinerja reksadana dollar 1,33%
Oleh Narita Indrastiti - Jumat, 06 Juli 2012 | 00:19 WIB
kontan
JAKARTA. Nilai tukar dollar AS yang menguat terhadap rupiah selama Juni menjadi sentimen positif bagi reksadana pendapatan tetap berbasis dollar. Data Infovesta Utama menyebut imbal hasil rata-rata reksadana fixed income mencatat 1,33%. Sedangkan year to date, pertumbuhan mencapai 1,53%.
Beberapa reksadana mampu mengungguli rata-rata kinerja. Salah satunya reksadana CIMB Principal Dollar Bond yang mampu mencatat return 1,96% selama Juni. Sedangkan return year to date 2,51%.
Direktur CIMB Principal Asset Management Agus Salim menjelaskan, reksadana tersebut menginvestasikan 90% dana di global bond pemerintah. Dia beralasan, instrumen tersebut memiliki likuiditas besar. Apalagi kondisi makro Indonesia cukup baik sehingga return yang diberikan masih sangat menarik. "Global bond pemerintah memberikan return yang tinggi di tengah tingkat suku bunga yang rendah," kata dia, Kamis (5/7).
Agus bilang ke depan masih akan menempatkan dana di obligasi pemerintah lebih besar. "Obligasi korporasi masih terbatas," ujar dia. Dana kelolaan reksadana CIMB Principal Dollar Bond mencapai US$ 14,5 juta per awal Juli.
Selain itu ada reksadana milik PT Mandiri Manajamen Investasi dengan nama Investa Dana Dolar Mandiri. Reksadana ini mampu membukukan kinerja 1,91% per Juni. Sedangkan selama semester I kinerjanya mencapai 2,35%. Sampai Mei 2012, reksadana ini menempatkan 73,79% dana kelolaan di obligasi pemerintah. Sisanya di obligasi korporasi. Obligasi tersebut diantaranya milik Indonesia Exim Bank 6,6% dan BNI 6,59%.
Berdasarkan fund fact sheet MMI dana kelolaan reksadana ini per Mei US$ 14,99 juta.
Langganan:
Postingan (Atom)