KEEP BUYING, jangka panjang LEBE BAGU$, pindah ke http://investasireksadanaindonesiagw.blogspot.com/ aka INVESTASI REKSA DANA INDONESIA gw
gW suka BANGET ketidakPASTIan
Kamis, 30 Mei 2013
Sabtu, 25 Mei 2013
NAB reksa dana SAAT REDEMPTION DIHANTUI BBM ... 250513
Pertumbuhan NAB Produk Reksa Dana Nasional Melambat
Wahyudi Siregar - Okezone
Jum'at, 24 Mei 2013 19:10 wib
MEDAN - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) untuk terus menyosialisasikan layanan investasi reksa dana ke pada masyarakat. Hal itu sehubungan dengan melambatnya pertumbuhan dana aktiva bersih pada produk reksa dana.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengungkapkan, pada kuartal I-2013 ini, nilai aktiva bersih (NAB) untuk produk reksa dana hanya mencapai Rp197 triliun. Tumbuh sekira sembilan persen dibandingkan kuartal I-2012 lalu. Padahal perolehan NAB ini sempat tumbuh 12 persen, antara periode kuartal I-2011 ke kuartai I-2012.
"Untuk tahun ini, NAB investasi reksa dana mencapai sembilan persen dengan total mencapai Rp197 triliun. Agak melambat dan memang masih jauh dari NAB dari investasi saham. Tapi saya pikir ini hanya sementara. Kinerjanya sebenarnya cukup memuaskan, apabila kita melihat beberapa waktu lalu, jumlah NAB nya sempat lebih rendah hingga 30 persen, dari yang ada saat ini," jelasnya kepada Okezone, usai membuka Pekan Investasi Reksa Dana Nasional 2013, di Medan, Jumat (24/5/2013).
Sementara itu Direktur Pengelolaan Investasi OJK, Fahri Hilmi menuturkan cenderung melambatnya pertumbuhan kapitalisasi pada investasi reksa dana, didorong oleh belum cukup dalamnya penetrasi pemasaran produk reksa dana ke masyarakat.
Tercatat, dari sekira Rp161 triliun dana kelolaan reksa dana, 70 persen sampai 80 persennya hanya terpusat di Jawa. Ironisnya, pertumbuhannya juga hanya sekitar tiga persen sampai lima persen per tahun.
"Target kita untuk pertumbuhan reksa dana ini sebenarnya cukup tinggi. Mencapai 15 persen hingga lima tahun ke depan. Tapi faktanya pada saat ini, dengan konsentrasi dana sekira 70 persen sampai 80 persen dana di wilayah pulau Jawa, jumlah dana kelolaannya hanya bisa tumbuh tiga persen sampai lima persen saja. Begitupun dengan profile ekonomi kita yang sekarang, kami optimistis APRDI dapat mewujudkan target itu," ucapnya.
Sementara itu, Ketua APRDI Denny Taher mengaku ia dan perusahaan manager investasi anggota asosiasinya siap memenuhi target OJK itu. Dengan sosialisasi secara berkesinambungan yang terus dilakukan, serta didukung profile perekonomian masyarakat Indonesia saat ini, maka target pertumbuhan sekira 15 persen itu tidaklah terlalu sulit.
APRDI sendiri sudah memiliki skema baru untuk memenuhi target tersebut, dengan memfokuskan penggarapan investasi reksa dana di pasar ritel.
"Reksa dana sejatinya memang disiapkan untuk sektor ritel. Dan kita akan mendudukkan itu, dengan menggarap sektor ritel ini secara lebih intensif. Kita lakukan sosialisasi hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Kami yakin, perubahan akan berhasil jika dimulai dari keluarga. Oleh karena itu, kami ingin semua keluarga Indonesia bisa memahami Reksa dana bisa menjadi instrumen keuangan untuk mempersiapkan masa depan. Sistem perencanaan keuangan Keluarga-keluarga di Indonesia harus dimodernisasi," pungkasnya. (wan) (wdi)
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengungkapkan, pada kuartal I-2013 ini, nilai aktiva bersih (NAB) untuk produk reksa dana hanya mencapai Rp197 triliun. Tumbuh sekira sembilan persen dibandingkan kuartal I-2012 lalu. Padahal perolehan NAB ini sempat tumbuh 12 persen, antara periode kuartal I-2011 ke kuartai I-2012.
"Untuk tahun ini, NAB investasi reksa dana mencapai sembilan persen dengan total mencapai Rp197 triliun. Agak melambat dan memang masih jauh dari NAB dari investasi saham. Tapi saya pikir ini hanya sementara. Kinerjanya sebenarnya cukup memuaskan, apabila kita melihat beberapa waktu lalu, jumlah NAB nya sempat lebih rendah hingga 30 persen, dari yang ada saat ini," jelasnya kepada Okezone, usai membuka Pekan Investasi Reksa Dana Nasional 2013, di Medan, Jumat (24/5/2013).
Sementara itu Direktur Pengelolaan Investasi OJK, Fahri Hilmi menuturkan cenderung melambatnya pertumbuhan kapitalisasi pada investasi reksa dana, didorong oleh belum cukup dalamnya penetrasi pemasaran produk reksa dana ke masyarakat.
Tercatat, dari sekira Rp161 triliun dana kelolaan reksa dana, 70 persen sampai 80 persennya hanya terpusat di Jawa. Ironisnya, pertumbuhannya juga hanya sekitar tiga persen sampai lima persen per tahun.
"Target kita untuk pertumbuhan reksa dana ini sebenarnya cukup tinggi. Mencapai 15 persen hingga lima tahun ke depan. Tapi faktanya pada saat ini, dengan konsentrasi dana sekira 70 persen sampai 80 persen dana di wilayah pulau Jawa, jumlah dana kelolaannya hanya bisa tumbuh tiga persen sampai lima persen saja. Begitupun dengan profile ekonomi kita yang sekarang, kami optimistis APRDI dapat mewujudkan target itu," ucapnya.
Sementara itu, Ketua APRDI Denny Taher mengaku ia dan perusahaan manager investasi anggota asosiasinya siap memenuhi target OJK itu. Dengan sosialisasi secara berkesinambungan yang terus dilakukan, serta didukung profile perekonomian masyarakat Indonesia saat ini, maka target pertumbuhan sekira 15 persen itu tidaklah terlalu sulit.
APRDI sendiri sudah memiliki skema baru untuk memenuhi target tersebut, dengan memfokuskan penggarapan investasi reksa dana di pasar ritel.
"Reksa dana sejatinya memang disiapkan untuk sektor ritel. Dan kita akan mendudukkan itu, dengan menggarap sektor ritel ini secara lebih intensif. Kita lakukan sosialisasi hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Kami yakin, perubahan akan berhasil jika dimulai dari keluarga. Oleh karena itu, kami ingin semua keluarga Indonesia bisa memahami Reksa dana bisa menjadi instrumen keuangan untuk mempersiapkan masa depan. Sistem perencanaan keuangan Keluarga-keluarga di Indonesia harus dimodernisasi," pungkasnya. (wan) (wdi)
Senin, 20 Mei 2013
BNP Paribas meraup AUM @37 T seh ... 200513
BNP Paribas Catat Dana Kelolaan Rp37,4 T
Dani Jumadil Akhir - Okezone
Senin, 20 Mei 2013 20:12 wib
JAKARTA - Perusahaan yang bergerak dibidang investasi, PT BNP Paribas Investment Partners berhasil mencatatkan Dana Kelolaan atau Asset Under Management (AUM) pada kuartal I tahun ini sebesar Rp37,4 triliun.
Presiden Direktur PT BNP Paribas Investment Partners Vivian Secakusuma mengatakanm sebagian besar dana kelolaannya berasal dari reksa dana saham dan fixed income.
"Meskipun aksi ambil untung (profit taking) banyak terjadi beberapa waktu lalu, hal tersebut tidak terlalu memberikan dampak karena pada bulan ini banyak yang sudah kembali berinvestasi setelah investor merealisasikan keuntungannya," ungkap Vivian, dalam acara CEO Forum Investment Management in Indonesia, di Kampus Binus Senayan, Jakarta, Senin (20/5/2013).
Dia menilai, investor yang masuk di periode April lebih besar dari Maret dan itu sudah bisa mengkover Januari dan Februari.
Di sisi lain, hingga akhir tahun ini BNP Paribas menargetkan dana kelolaannya tumbuh 10 persen dibanding akhir 2012 lalu. Adapun perolehan dana kelolaan sebesar Rp36,24 triliun per Desember 2012.
"Kami menargetkan perolehan AUM tahun ini naik 10 persen, atau sekira Rp39 triliun hingga Rp40 triliun," jelas Vivian.
Untuk mencapai target tersebut BNP Paribas berencana akan meluncurkan produk baru untuk reksa dana saham yang diberi nama Reksa Dana BNP Paribas Dollar Plus.
Nantinya, produk yang akan diluncurkan pada kuartal kedua tahun ini, ditargetkan mampu meraup dana kelolaan hingga USD15 juta.
"Reksa dana ini bertujuan untuk memberikan tingkat pengembalian yang potensial dalam mata uang dollar Amerika Serikat kepada pemegang unit pernyertaan," tandas Vivian. (wan) (wdi)
Presiden Direktur PT BNP Paribas Investment Partners Vivian Secakusuma mengatakanm sebagian besar dana kelolaannya berasal dari reksa dana saham dan fixed income.
"Meskipun aksi ambil untung (profit taking) banyak terjadi beberapa waktu lalu, hal tersebut tidak terlalu memberikan dampak karena pada bulan ini banyak yang sudah kembali berinvestasi setelah investor merealisasikan keuntungannya," ungkap Vivian, dalam acara CEO Forum Investment Management in Indonesia, di Kampus Binus Senayan, Jakarta, Senin (20/5/2013).
Dia menilai, investor yang masuk di periode April lebih besar dari Maret dan itu sudah bisa mengkover Januari dan Februari.
Di sisi lain, hingga akhir tahun ini BNP Paribas menargetkan dana kelolaannya tumbuh 10 persen dibanding akhir 2012 lalu. Adapun perolehan dana kelolaan sebesar Rp36,24 triliun per Desember 2012.
"Kami menargetkan perolehan AUM tahun ini naik 10 persen, atau sekira Rp39 triliun hingga Rp40 triliun," jelas Vivian.
Untuk mencapai target tersebut BNP Paribas berencana akan meluncurkan produk baru untuk reksa dana saham yang diberi nama Reksa Dana BNP Paribas Dollar Plus.
Nantinya, produk yang akan diluncurkan pada kuartal kedua tahun ini, ditargetkan mampu meraup dana kelolaan hingga USD15 juta.
"Reksa dana ini bertujuan untuk memberikan tingkat pengembalian yang potensial dalam mata uang dollar Amerika Serikat kepada pemegang unit pernyertaan," tandas Vivian. (wan) (wdi)
Rabu, 03 April 2013
SILA JUAL, gw SIAP BELI, beli n BELI (there's blood...) : 280113
Per Maret, dana kelolaan reksa dana Rp188 T
J Erna
Rabu, 3 April 2013 − 10:18 WIB
Dikutip dari situs resmi Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), Rabu (3/4/2012) terungkap bahwa dana kelolaan reksa dana pada bulan ketiga tahun ini bertambah sekitar Rp4,71 triliun dibanding bulan sebelumnya senilai Rp183,25 triliun. Sementara, jumlah unit penyertaan bertambah sekitar 677 juta dibanding Februari 2013 sebanyak 110,69 miliar unit.
Total dana kelolaan reksa dana hingga akhir Maret 2013, mayoritas dikontribusi dari reksa dana saham. Dana kelolaan reksa dana berbasis saham tercatat sebesar Rp72,93 triliun atau sekitar 38,69 persen dari total dana kelolaan reksa dana pada bulan lalu.
Sementara, reksa dana yang juga memberi kontribusi kedua terbesar adalah reksa dana terproteksi, yang mencapai 19,91 persen atau senilai Rp37,52 triliun. Sedangkan, posisi ketiga adalah reksa dana pendapatan tetap yang mencapai Rp33,36 triliun atau sekitar 17,69 persen.
Reksa dana campuran membukukan dana kelolaan senilai Rp21,88 triliun atau 11,60 persen terhadap keseluruhan dana kelolaan Maret 2013. Reksa dana pasar uang Rp12,6 triliun atau 6,68 persen dan reksa dana indeks Rp244,7 miliar atau 0,13 persen.
Adapun reksa dana syariah masih minim mengontribusi total dana kelolaan reksa dana. Tercatat dana kelolaan reksa dana syariah berbasis terproteksi sebesar Rp1,43 triliun atau 0,76 persen, reksa dana syariah berbasis campuran Rp2,69 triliun atau 1,43 persen.
Sedangkan, reksa dana syariah berbasis saham sebesar Rp3,12 triliun atau 1,66 persen dan reksa dana syariah berbasis pendapatan tetap Rp783,29 miliar atau 0,42 persen. Adapun, dana kelolaan reksa dana syariah indeks Rp367,23 miliar atau 0,19 persen dari total dana kelolaan reksa dana.
(rna)
Bank investasi hati-hati, saham Eropa terpangkas
Oleh Rika Theo - Senin, 28 Januari 2013 | 16:00 WIB | Sumber Reuters
LONDON. Saham-saham Eropa dibuka melandai
pada awal perdagangan Senin (28/1).Sejumlah bank investasi berhati-hati
mengambil posisi di bursa saham yang tampak makin bullish.
Pukul 08.02 GMT, indeks FTSEurofirst 300 merosot 0,1% ke 1.173,87.
"Indikator global kami sekarang mencapai +1,39 deviasi standar, yang menunjukkan sentimen paling bullish dari reksadana saham sejak Januari 2009," ujar laporan riset Nomura.
Menurut data EPFR Global, reksadana saham telah melampaui reksadana berbasis obligasi selama tujuh pekan berturut-turut sampai pekan lalu. Namun aliran dananya kini mulai melambat.
"Semua indikator aliran reksadana regional, dengan perkecualian Jepang, berada pada level yang sangat bullish. Bersama dengan kenaikan pada indikator yang mengukur sentimen sistemik, maka Global Quantitative Strategy Team mengeluarkan strategi jangka pendek untuk mengambil posisi netral di pasar," kata Nomura.
JP Morgan juga mengulangi peringatan senada, yaitu bahwa investor telah menjadi terlalu bullish dan fase konsolidasi sudah membayangi. JPMorgan juga memangkas pembobotannya pada saham-saham siklikal versus defensif.
Pukul 08.02 GMT, indeks FTSEurofirst 300 merosot 0,1% ke 1.173,87.
"Indikator global kami sekarang mencapai +1,39 deviasi standar, yang menunjukkan sentimen paling bullish dari reksadana saham sejak Januari 2009," ujar laporan riset Nomura.
Menurut data EPFR Global, reksadana saham telah melampaui reksadana berbasis obligasi selama tujuh pekan berturut-turut sampai pekan lalu. Namun aliran dananya kini mulai melambat.
"Semua indikator aliran reksadana regional, dengan perkecualian Jepang, berada pada level yang sangat bullish. Bersama dengan kenaikan pada indikator yang mengukur sentimen sistemik, maka Global Quantitative Strategy Team mengeluarkan strategi jangka pendek untuk mengambil posisi netral di pasar," kata Nomura.
JP Morgan juga mengulangi peringatan senada, yaitu bahwa investor telah menjadi terlalu bullish dan fase konsolidasi sudah membayangi. JPMorgan juga memangkas pembobotannya pada saham-saham siklikal versus defensif.
Rabu, 27 Maret 2013
Setelah 2 1/2 TAHUN, tren RD pendapatan tetap v. RD saham : 270213-27032013
Manulife Dana Campuran 2, pelan TAPI PA$T1 :) 071112- 27Mar2013
dalam pekan hari raya Paska, MANULIFE dana CAMPURAN II mencetak rekor :
bandingkan dengan Schroder Dana Prestasi, seh...
saat HARI KASIH SAYANG, manulife dana campuran II moncer ... :
kontan
JAKARTA. Presiden Direktur Schroder Investment
Management Indonesia Michael Tjoajadi memprediksikan produk investasi di
2013 mendatang akan tumbuh positif. Salah satu produk investasi yang
berpeluang tumbuh adalah reksadana campuran.
"Masih oke iklimnya, reksadana campuran akan lebih stabil," katanya, Rabu (21/11).
Sementara untuk investasi di sektor saham dan obligasi masih akan terjadi fluktuasi. Penyebabnya adalah BI rate yang diperkirakan masih akan ditahan di posisi 5,75% dan disinyalir tidak akan turun tahun depan.
Di sisi lain, untuk tahun ini sendiri, eks balance reksadana masih akan berkisar antara 7% hingga 10%. Michael bilang untuk dana kelolaan di tahun ini dapat tumbuh hingga Rp 57 triliun. "Porsinya masih yang paling besar itu di saham,” akunya. Namun ia memprediksi, tahun depan komposisi itu akan bergeser dan mengarah ke reksadana campuran.
kontan
JAKARTA. Menjelang tahun baru, ada baiknya investor
menata kembali portofolio, demi memaksimalkan return. Produk-produk
reksadana anyar bisa menjadi pilihan. Sejumlah reksadana campuran baru
memberikan return lebih tinggi daripada imbal hasil produk reksadana
campuran lama.
Bahkan, ada sejumlah produk reksadana campuran baru yang mampu mengalahkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebut saja Jisawi Kombinasi kelolaan PT Jisawi Finas.
Menilik data PT Infovesta Utama, reksadana itu memberikan return 1,7% selama satu bulan terakhir yang berakhir pada 7 November. Sementara, kenaikan IHSG selama periode yang sama, cuma 1,4%.
Direktur Utama Jisawi Finas, Sunggul Situmorang, mengatakan, produk itu memiliki strategi investasi yang fleksibel sesuai dengan kondisi pasar terkini. Maksimal 75% penempatan dana pada saham, atau sebaliknya, maksimal 75% di obligasi.
"Saat ini kami maksimalkan penempatan dana di saham karena masih melihat peluang saham lebih menjanjikan," ujar Sunggul, Kamis (8/11).
Cermati aset dasar
Produk ini merupakan pengganti reksadana campuran yang kini telah ditutup. Produk yang baru diluncurkan Maret 2012 itu, memilih obligasi korporasi yang menyandang peringkat minimal A, sebagai aset dasar.
Untuk saham, Jisawi Kombinasi sementara menghindar dari saham-saham di sektor berbasis komoditas. "Saat ini kami overweight di infrastruktur," tutur Sunggul.
Jisawi Kombinasi sudah mengumpulkan dana kelolaan senilai Rp 26 miliar. Adapun total dana kelolaan Jisawi Finas saat ini Rp 146 miliar.
CIMB-Principal Balanced Strategic Plus juga memberikan return yang menarik. Dalam sebulan terakhir, produk itu mencetak imbal hasil sebesar 1,3%.
Vice President and Head of Investment CIMB Principal Asset Management, Fadlul Imamsyah, mengatakan, dalam tiga bulan terakhir reksadana racikannya, telah memberikan return 5,8%.
Reksadana itu memarkirkan 80% dananya di saham. Saham-saham emiten Grup Astra dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan pilihan reksadana anak usaha CIMB Securities itu.
BNI Asset Management dengan produk anyar bernama BNI Dana Terencana, memberi return 0,65% dalam satu bulan terakhir. Isbono, Direktur BNI Asset Management, mengatakan, produk itu menempatkan dana maksimum 79% di saham, maksimum 79% di obligasi dan maksimum 79% di pasar uang.
Direktur PT Infovesta Utama, Parto Kawito, menyarankan investor meneliti penempatan aset dasar reksadana anyar itu sebelum membeli. "Perlu dilihat juga pengalaman MI dalam mengelola produk sejenis," kata dia.
bandingkan dengan Schroder Dana Prestasi, seh...
saat HARI KASIH SAYANG, manulife dana campuran II moncer ... :
INDUSTRI REKSADANA
Schroder: Reksadana campuran berjaya tahun depan
Oleh Anna Suci Perwitasari - Rabu, 21 November 2012 | 13:37 WIB
"Masih oke iklimnya, reksadana campuran akan lebih stabil," katanya, Rabu (21/11).
Sementara untuk investasi di sektor saham dan obligasi masih akan terjadi fluktuasi. Penyebabnya adalah BI rate yang diperkirakan masih akan ditahan di posisi 5,75% dan disinyalir tidak akan turun tahun depan.
Di sisi lain, untuk tahun ini sendiri, eks balance reksadana masih akan berkisar antara 7% hingga 10%. Michael bilang untuk dana kelolaan di tahun ini dapat tumbuh hingga Rp 57 triliun. "Porsinya masih yang paling besar itu di saham,” akunya. Namun ia memprediksi, tahun depan komposisi itu akan bergeser dan mengarah ke reksadana campuran.
Menelisik reksadana campuran anyar
Oleh Wahyu Satriani - Jumat, 09 November 2012 | 07:04 WIB
Bahkan, ada sejumlah produk reksadana campuran baru yang mampu mengalahkan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sebut saja Jisawi Kombinasi kelolaan PT Jisawi Finas.
Menilik data PT Infovesta Utama, reksadana itu memberikan return 1,7% selama satu bulan terakhir yang berakhir pada 7 November. Sementara, kenaikan IHSG selama periode yang sama, cuma 1,4%.
Direktur Utama Jisawi Finas, Sunggul Situmorang, mengatakan, produk itu memiliki strategi investasi yang fleksibel sesuai dengan kondisi pasar terkini. Maksimal 75% penempatan dana pada saham, atau sebaliknya, maksimal 75% di obligasi.
"Saat ini kami maksimalkan penempatan dana di saham karena masih melihat peluang saham lebih menjanjikan," ujar Sunggul, Kamis (8/11).
Cermati aset dasar
Produk ini merupakan pengganti reksadana campuran yang kini telah ditutup. Produk yang baru diluncurkan Maret 2012 itu, memilih obligasi korporasi yang menyandang peringkat minimal A, sebagai aset dasar.
Untuk saham, Jisawi Kombinasi sementara menghindar dari saham-saham di sektor berbasis komoditas. "Saat ini kami overweight di infrastruktur," tutur Sunggul.
Jisawi Kombinasi sudah mengumpulkan dana kelolaan senilai Rp 26 miliar. Adapun total dana kelolaan Jisawi Finas saat ini Rp 146 miliar.
CIMB-Principal Balanced Strategic Plus juga memberikan return yang menarik. Dalam sebulan terakhir, produk itu mencetak imbal hasil sebesar 1,3%.
Vice President and Head of Investment CIMB Principal Asset Management, Fadlul Imamsyah, mengatakan, dalam tiga bulan terakhir reksadana racikannya, telah memberikan return 5,8%.
Reksadana itu memarkirkan 80% dananya di saham. Saham-saham emiten Grup Astra dan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan pilihan reksadana anak usaha CIMB Securities itu.
BNI Asset Management dengan produk anyar bernama BNI Dana Terencana, memberi return 0,65% dalam satu bulan terakhir. Isbono, Direktur BNI Asset Management, mengatakan, produk itu menempatkan dana maksimum 79% di saham, maksimum 79% di obligasi dan maksimum 79% di pasar uang.
Direktur PT Infovesta Utama, Parto Kawito, menyarankan investor meneliti penempatan aset dasar reksadana anyar itu sebelum membeli. "Perlu dilihat juga pengalaman MI dalam mengelola produk sejenis," kata dia.
Selasa, 26 Maret 2013
manajer investasi UDA BILANG: euphoria is over ... for now: 260313
Reksa Dana Saham Diminati Masyarakat
Oleh: Seno Tri Sulistiyono
ekonomi - Selasa, 26 Maret 2013 | 12:17 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Head of Retail Investment & Consumer Treasury Citibank Indonesia, Harsya Prasetyo mengungkapkan, reksa dana saham sangat diminati masyarakat karena memberikan keuntungan balik yang menjanjikan.
"Pada 2013, masih banyak yang memilih reksa dana saham, karena masih memberikan return yang baik untuk nasabah," kata Harsya dalam acara "Berbagi dengan berinvestasi: FSI Peka Fund Donasikan Rp900 juta untuk Yayasan Kelola dan Yayasan BOS," di Jakarta, Selasa (26/3/2013).
Menurut Harsya, reksa dana saham merupakan produk investasi yang berisi aset finansial berupa saham. Pembeli reksa dana saham mempunyai peluang untuk mendapatkan keuntungan berupa kenaikan harga reksa dana yang dibelinya.
Masyarakat yang tertarik dengan reksa dana saham, kata Harsya, nasabah memperhatikan produk tersebut terlebih dahulu dengan membagi dua bagian, seperti core dan taktis investasi. "Core adalah inti investasi, kalau di lauk pada makanan kita ibaratkan nasinya, yang kita hold untuk jangka panjang, ini untuk kapitalisasi besar," katanya.
Sedangkan taktis merupakan, strategi investasi dalam jangka pendek, dengan situasi dan waktu yang tepat untuk berinvestasi. Lalu, bagi nasabah dengan tingkat risk profile tinggi lebih baik berinvestasi jangka panjang. "Risk profile yang tinggi 70 core atau inti, taktisnya 30 persen, tapi tetap corenya yang tinggi," ucap Harsya. [mel]
Langganan:
Postingan (Atom)