Manulife Asset Targetkan Dana Kelolaan Rp32 Triliun
Selasa, 7 Juni 2011 | 7:51
Investor Daily/
JAKARTA- PT Manulife Asset Management Indonesia (MAMI) menargetkan dana kelolaan dapat mencapai Rp32 triliun pada tahun ini atau naik dibanding tahun lalu yang mencapai Rp25 triliun.
"Kami menargetkan pertumbuhan dana kelolaan sebesar 25% menjadi sekitar Rp30-32 triliun, merata untuk semua produk yang kami miliki," kata Presiden Direktur MAMI, Legowo Kusumonegoro di Jakarta, Senin (6/6).
Ia menambahkan, pangsa pasar Indonesia luas, rendahnya penetrasi produk deposito baru menguasai 6% pasar, begitu rendah dengan dibandingkan dengan negara maju yang mencapai 43%.
"Riset kami menunjukkan bahwa Indonesia memiliki lebih dari 200 ribu high net worth individuals (HNWI) dengan total simpanan deposito sejumlah Rp400 triliun, dengan rata-rata Rp2 miliar per rekening," kata dia.
Sementara itu, tambah dia, sekelompok orang yang termasuk mass affluent (MA) adalah pemegang lebih dari dua juta rekening sebesar rata-rata Rp288 juta per rekening atau sekitar rp600 triliun seluruhnya.
"Kedua segmen ini telah menjadi segmen yang diincar bank-bank consumer wealth," katanya.
Global Chief Investment Officer Manulife Asset Management, Barry Evans menambahkan, Indonesia didominasi populasi usia produktif dan kesempatan yang ditawarkan dunia investasi di Indonesia begitu luar biasa.
"Dengan didukung oleh pertumbuhan yang tinggi, situasi politik yang stabil, rencana Indonesia mendapatkan status 'investment grade' menjadikan berinvestasi di Indonesia menarik dan itu pula yang dilihat oleh investor global dalam berinvestasi di Indonesia," ujar dia.
Saat ini, lanjut dia, kepemilikan investor asing dalam obligasi pemerintah Indonesia mencapai angka Rp225 triliun atau 33% dari total kepemilikan obligasi pemerintah Indonesia.
"Meningkatnya alokasi belanja pemerintah pada sektor infrastruktur serta menguatnya nilai tukar rupiah lebih lanjut akan semakin meningkatkan minat investor asing untuk berinvestasi pada pasar oblgasi di Indonesia," kata dia.(ant/hrb)
KEEP BUYING, jangka panjang LEBE BAGU$, pindah ke http://investasireksadanaindonesiagw.blogspot.com/ aka INVESTASI REKSA DANA INDONESIA gw
gW suka BANGET ketidakPASTIan
Rabu, 08 Juni 2011
Sabtu, 28 Mei 2011
KUMPULAN TREN, INDIKASI, dan TABEL vital BWAT INVESTOR saham/reksa dana
Jumat, 27 Mei 2011
reksa dana SYARIAH tumbuh, lah ... 270511
Pertumbuhan Reksa Dana Syariah Lambat
Ester Meryana | Erlangga Djumena | Rabu, 25 Mei 2011 | 13:36 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Pertumbuhan reksa dana syariah cenderung lambat sehingga perlu sosialisasi yang lebih luas lagi. Hal tersebut dikemukakan Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia Abiprayadi di Jakarta, Rabu (25/5/2011).
"Pengenalan reksa dana syariah masih sangat kurang. Jadi memang perlu dukungan dari semua pihak," ungkapnya.
Oleh karena itu, lanjut Abiprayadi, diperlukan dukungan tidak hanya dari fund manager, tetapi juga dari regulator, bank distributor, dan lembaga-lembaga terkait reksa dana berbasis syariah. "Seharusnya tahun ini tahun syariah," tambahnya. Namun, ia berpendapat hanya pasar yang dapat membuktikannya.
Untuk return-nya, Abiprayadi menyebutkan bisa sampai 5 persen di atas indeks. Ia pun mengatakan, komoditas, pertambangan infrastruktur, dan konsumer menjadi driver bagi reksa dana syariah ini.
Pertumbuhan reksa dana sampai April 2011 sudah mencapai Rp 153 triliun. "Kalau kita bandingkan dengan tahun 2010 akhir, itu Rp 149 triliun. Itu sekarang tumbuh sampai Rp 4,5 triliun-Rp 5 triliun dalam empat bulan," sebut Abiprayadi.
Ia menyebutkan, produk yang leading merupakan produk reksa dana berbasis saham dan reksa dana proteksi. "Pasar uang juga tumbuh, tetapi tidak seagresif reksa dana saham," tambahnya.
Hal serupa juga disebutkan oleh perencana keuangan Ligwina Poerwo-Hananto. Ia menyebutkan, promosi kebaikan sistem syariah dalam dunia finansial dan perbankan menjadi penting untuk dilakukan mengingat belum banyak warga masyarakat yang tahu hal ini. "Sudah ada, tetapi pelan sekali pertumbuhannya (investasi di saham Syariah)," tutur Ligwina kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (13/5/2011) lalu.
Ia menyambut baik hadirnya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 80 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Regular Bursa Efek. Namun, ia menilai keluarnya fatwa ini tidak serta-merta akan menaikkan ketertarikan masyarakat untuk berinvestasi di saham syariah.
"Saya perhatikan orang Indonesia tidak tertarik jika hanya diiming-imingi atas nama agama. Jadi, seharusnya promosi tentang keuangan syariah jangan bawa-bawa peci sama jilbab," ungkapnya.
Menurut Ligwina, hal yang harus dipromosikan adalah seperti apa kebaikan syariah. Ia mencontohkan, belum banyak warga masyarakat yang tahu bahwa ternyata KPR syariah itu cicilannya tetap, mau bunga naik atau turun.
Ester Meryana | Erlangga Djumena | Rabu, 25 Mei 2011 | 13:36 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Pertumbuhan reksa dana syariah cenderung lambat sehingga perlu sosialisasi yang lebih luas lagi. Hal tersebut dikemukakan Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia Abiprayadi di Jakarta, Rabu (25/5/2011).
"Pengenalan reksa dana syariah masih sangat kurang. Jadi memang perlu dukungan dari semua pihak," ungkapnya.
Oleh karena itu, lanjut Abiprayadi, diperlukan dukungan tidak hanya dari fund manager, tetapi juga dari regulator, bank distributor, dan lembaga-lembaga terkait reksa dana berbasis syariah. "Seharusnya tahun ini tahun syariah," tambahnya. Namun, ia berpendapat hanya pasar yang dapat membuktikannya.
Untuk return-nya, Abiprayadi menyebutkan bisa sampai 5 persen di atas indeks. Ia pun mengatakan, komoditas, pertambangan infrastruktur, dan konsumer menjadi driver bagi reksa dana syariah ini.
Pertumbuhan reksa dana sampai April 2011 sudah mencapai Rp 153 triliun. "Kalau kita bandingkan dengan tahun 2010 akhir, itu Rp 149 triliun. Itu sekarang tumbuh sampai Rp 4,5 triliun-Rp 5 triliun dalam empat bulan," sebut Abiprayadi.
Ia menyebutkan, produk yang leading merupakan produk reksa dana berbasis saham dan reksa dana proteksi. "Pasar uang juga tumbuh, tetapi tidak seagresif reksa dana saham," tambahnya.
Hal serupa juga disebutkan oleh perencana keuangan Ligwina Poerwo-Hananto. Ia menyebutkan, promosi kebaikan sistem syariah dalam dunia finansial dan perbankan menjadi penting untuk dilakukan mengingat belum banyak warga masyarakat yang tahu hal ini. "Sudah ada, tetapi pelan sekali pertumbuhannya (investasi di saham Syariah)," tutur Ligwina kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (13/5/2011) lalu.
Ia menyambut baik hadirnya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 80 tentang Penerapan Prinsip Syariah dalam Mekanisme Perdagangan Efek Bersifat Ekuitas di Pasar Regular Bursa Efek. Namun, ia menilai keluarnya fatwa ini tidak serta-merta akan menaikkan ketertarikan masyarakat untuk berinvestasi di saham syariah.
"Saya perhatikan orang Indonesia tidak tertarik jika hanya diiming-imingi atas nama agama. Jadi, seharusnya promosi tentang keuangan syariah jangan bawa-bawa peci sama jilbab," ungkapnya.
Menurut Ligwina, hal yang harus dipromosikan adalah seperti apa kebaikan syariah. Ia mencontohkan, belum banyak warga masyarakat yang tahu bahwa ternyata KPR syariah itu cicilannya tetap, mau bunga naik atau turun.
Rabu, 25 Mei 2011
RDS, the primadona ... 250511
Rabu, 25/05/2011 13:45 WIB
Reksa Dana Saham Masih Jadi Primadona
Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Jakarta - Penetrasi pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana saham tertinggi dibanding jenis-jenis lain. Masyarakat semakin memahami akan pentingnya investasi jangka panjang, dan reksa dana saham adalah salah satu instrumen terbaik.
Hal ini disampaikan Ketua Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Rabu (25/5/2011).
"Reksa dana itu dengan penempatan 5-7 tahun, kan investasi jangka panjang. Kalau pasar uang pilihannya tidak banyak, jadi saham lah pilihannya," jelas Abi.
Tingginya penetrasi reksa dana saham semakin tergambar pada data total AUM hingga akhir April 2011. Menurut data APRDI, pertumbuhan reksa dana saham tumbuh 15,85% (Year to Date), atau paling tinggi dibandingkan jenis lain.
Hingga empat bulan awal 2011, AUM reksa dana saham mencapai Rp 52,93 triliun. Nilai ini naik dari posisi akhir tahun 2010, Rp 45,69 triliun.
Sementara, pada periode yang sama reksadana campuran (balanced fund) justru turun 8,24% menjadi Rp 20,17 triliun dibanding posisi akhir tahun Rp 21,98 triliun. Reksa dana pendapatan tetap juga turun 5,33% menjadi Rp 26,186 triliun.
Namun, reksa dana pasar uang berhasil mengikuti tren pertumbuhan Dimana reksa dana jenis ini naik tipis, 0,36% menjadi Rp 7,749 triliun. Reksa dana terproteksi juga naik 1,25% menjadi Rp 42,795 triliun.
Untuk reksa dana syariah mencapai pertumbuhan 2,08% menjadi Rp 3,842 triliun. Sehingga total AUM industri reksa dana hingga April mencapai Rp 153,687 triliun, naik dari bulan Maret lalu, Rp 149,099 triliun.
(wep/ang)
Reksa Dana Saham Masih Jadi Primadona
Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Jakarta - Penetrasi pertumbuhan dana kelolaan (asset under management/AUM) reksa dana saham tertinggi dibanding jenis-jenis lain. Masyarakat semakin memahami akan pentingnya investasi jangka panjang, dan reksa dana saham adalah salah satu instrumen terbaik.
Hal ini disampaikan Ketua Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI) Abiprayadi Riyanto di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Rabu (25/5/2011).
"Reksa dana itu dengan penempatan 5-7 tahun, kan investasi jangka panjang. Kalau pasar uang pilihannya tidak banyak, jadi saham lah pilihannya," jelas Abi.
Tingginya penetrasi reksa dana saham semakin tergambar pada data total AUM hingga akhir April 2011. Menurut data APRDI, pertumbuhan reksa dana saham tumbuh 15,85% (Year to Date), atau paling tinggi dibandingkan jenis lain.
Hingga empat bulan awal 2011, AUM reksa dana saham mencapai Rp 52,93 triliun. Nilai ini naik dari posisi akhir tahun 2010, Rp 45,69 triliun.
Sementara, pada periode yang sama reksadana campuran (balanced fund) justru turun 8,24% menjadi Rp 20,17 triliun dibanding posisi akhir tahun Rp 21,98 triliun. Reksa dana pendapatan tetap juga turun 5,33% menjadi Rp 26,186 triliun.
Namun, reksa dana pasar uang berhasil mengikuti tren pertumbuhan Dimana reksa dana jenis ini naik tipis, 0,36% menjadi Rp 7,749 triliun. Reksa dana terproteksi juga naik 1,25% menjadi Rp 42,795 triliun.
Untuk reksa dana syariah mencapai pertumbuhan 2,08% menjadi Rp 3,842 triliun. Sehingga total AUM industri reksa dana hingga April mencapai Rp 153,687 triliun, naik dari bulan Maret lalu, Rp 149,099 triliun.
(wep/ang)
aturan kreatif reksa dana
Rabu, 25/05/2011 14:30 WIB
Revisi Aturan Reksa Dana Diharapkan Rampung Akhir Tahun Ini
Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Jakarta - Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI) mengharapkan penyesuaian aturan industri reksa dana rampung akhir tahun 2011. Penyesuaian diantaranya, mekanisme penambahan saluran pemasaran (channeling) dan variasi produk (product diversification).
Menurut Ketua APRDI Abiprayadi Riyanto, pihaknya terus berkomunikasi dengan Bapepam-LK dalam rencana revisi peraturan tersebut. "Kita harapkan ada penyesuaian aturan, dan akhir tahun sudah selesai. Aturan-aturan kami sedang godok bersama Bapepam. Selama ini Bapepam cukup membuka diri," jelas Abi di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Rabu (25/5/2011).
Penambahan saluran pemasaran, diantaranya melalui penasihat keuangan (financial planer). Dengan adanya tambahan channel, dapat mengembangkan basis investor (investor base) di Indonesia.
Penasihat keuangan selama ini melakukan perjanjian dengan kliennya, dengan sistem satu arah. Penasihat keuangan tidak melakukan akad dengan Manager Investasi (MI).
Apa yang terjadi saat ini, menjadi potensi kerugian baik dari sisi investor ataupun MI. "Kemarin-kemarin yang jalan, perjanjian ke klien. Tapi belum ke MI. MI punya kepastian over sell atau over promise. Itu kan harus diatur," ucap Abi.
Ia mencontohkan, seperti yang terjadi di India. Di sana, sistem telah mengatur mekanisme perjanjian antara investor, penasihat keuangan, serta MI.
Dengan jumlah penasihat keuangan yang mencapai 2,5 juta orang, dapat penambah investor. Tidak melulu melalui MI. "Di sana, Financial Planer sudah licensed sudah terstruktur. Selama ini transfer sendiri. Untuk sistem seperti ini butuh big-big IT process," tegas Abi.
Namun, perbaikan regulasi disana kurang saat aturan lain, seperti perpajakan justru akan menghambat industri reksa dana ke depan.
"Pajak, kita bukannya ingin tidak bayar pajak. Tapi insentif pada investasi jangka pendek dan panjang harus beda. Yang 5% itu direstruktur lagi, supaya orang tidak berasa," tegasnya.
Intinya, APRDI ingin beban pajak penghasilan (PPh) tetap di level 5% dan tidak naik lagi hingga 2014, supaya tidak membebankan operasional industri.
Memang pemerintah telah menetapkan, instrumen reksa dana yang terdaftar di Bapepam-LK dikenakan aturan pengenaan pemotongan PPh. PPh tersebut diterapkan secara bertahap, agar memberi kelonggaran waktu sekaligus kesiapan transisi bagi para nasabah reksa dana.
Untuk 2009-2010, masih dikenakan tarif 0%, mulai awal 2011 hingga 2013 dikenakan tarif 5%, dan untuk tahun 2014 dan selanjutnya dikenakan pajak 15%. "Ada masalah di luar Bapepam, seperti perpajakan," paparnya.
Penyesuaian aturan juga pada mekanisme penambahan unit (top up) reksa dana. Yang dahulu hanya manual, ke depan bisa dilakukan melalui internet banking dan sms banking. "Inisiatif sudah ada, untuk mobile. Tapi ada aturan-aturan harus dibuat. Infrastruktur oke tapi kan belum aprrove," pungkasnya.
(wep/ang)
Revisi Aturan Reksa Dana Diharapkan Rampung Akhir Tahun Ini
Whery Enggo Prayogi - detikFinance
Jakarta - Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI) mengharapkan penyesuaian aturan industri reksa dana rampung akhir tahun 2011. Penyesuaian diantaranya, mekanisme penambahan saluran pemasaran (channeling) dan variasi produk (product diversification).
Menurut Ketua APRDI Abiprayadi Riyanto, pihaknya terus berkomunikasi dengan Bapepam-LK dalam rencana revisi peraturan tersebut. "Kita harapkan ada penyesuaian aturan, dan akhir tahun sudah selesai. Aturan-aturan kami sedang godok bersama Bapepam. Selama ini Bapepam cukup membuka diri," jelas Abi di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), SCBD, Jakarta, Rabu (25/5/2011).
Penambahan saluran pemasaran, diantaranya melalui penasihat keuangan (financial planer). Dengan adanya tambahan channel, dapat mengembangkan basis investor (investor base) di Indonesia.
Penasihat keuangan selama ini melakukan perjanjian dengan kliennya, dengan sistem satu arah. Penasihat keuangan tidak melakukan akad dengan Manager Investasi (MI).
Apa yang terjadi saat ini, menjadi potensi kerugian baik dari sisi investor ataupun MI. "Kemarin-kemarin yang jalan, perjanjian ke klien. Tapi belum ke MI. MI punya kepastian over sell atau over promise. Itu kan harus diatur," ucap Abi.
Ia mencontohkan, seperti yang terjadi di India. Di sana, sistem telah mengatur mekanisme perjanjian antara investor, penasihat keuangan, serta MI.
Dengan jumlah penasihat keuangan yang mencapai 2,5 juta orang, dapat penambah investor. Tidak melulu melalui MI. "Di sana, Financial Planer sudah licensed sudah terstruktur. Selama ini transfer sendiri. Untuk sistem seperti ini butuh big-big IT process," tegas Abi.
Namun, perbaikan regulasi disana kurang saat aturan lain, seperti perpajakan justru akan menghambat industri reksa dana ke depan.
"Pajak, kita bukannya ingin tidak bayar pajak. Tapi insentif pada investasi jangka pendek dan panjang harus beda. Yang 5% itu direstruktur lagi, supaya orang tidak berasa," tegasnya.
Intinya, APRDI ingin beban pajak penghasilan (PPh) tetap di level 5% dan tidak naik lagi hingga 2014, supaya tidak membebankan operasional industri.
Memang pemerintah telah menetapkan, instrumen reksa dana yang terdaftar di Bapepam-LK dikenakan aturan pengenaan pemotongan PPh. PPh tersebut diterapkan secara bertahap, agar memberi kelonggaran waktu sekaligus kesiapan transisi bagi para nasabah reksa dana.
Untuk 2009-2010, masih dikenakan tarif 0%, mulai awal 2011 hingga 2013 dikenakan tarif 5%, dan untuk tahun 2014 dan selanjutnya dikenakan pajak 15%. "Ada masalah di luar Bapepam, seperti perpajakan," paparnya.
Penyesuaian aturan juga pada mekanisme penambahan unit (top up) reksa dana. Yang dahulu hanya manual, ke depan bisa dilakukan melalui internet banking dan sms banking. "Inisiatif sudah ada, untuk mobile. Tapi ada aturan-aturan harus dibuat. Infrastruktur oke tapi kan belum aprrove," pungkasnya.
(wep/ang)
Selasa, 24 Mei 2011
harvestindo LICIK atawa PANIK
Harvestindo Tuntut Askrindo Tanggung Gagal Bayar Reksa Dana
Oleh Bunga Dewi Kusuma & M. Tahir Saleh
Published On: 27 April 2011
JAKARTA: PT Harvestindo Asset Management mendesak PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) bertanggung jawab terhadap gagal bayar perusahaan penerbit surat utang jangka pendek (promissory notes/PN) yang menjadi aset penyertaan reksa dana.
Direktur Utama Harvestindo Fresty Hendayani mengatakan pihaknya tetap akan mendesak Askrindo memenuhi kewajibannya sebagai penjamin atas risiko jika PN yang diterbitkan oleh perusahaan penerbit surat utang itu gagal memenuhi kewajiban.
PN tersebut menjadi aset penyertaan (underlying) reksa dana yang diterbitkan oleh perseroan dengan produk Reksadana Harvestindo Istimewa.
“Askrindo harus membayar karena sebagai bentuk penjaminan. Kami akan terus meminta mereka [Askrindo] memenuhi tanggung jawab,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, hari ini.
Produk Reksadana Harvestindo Istimewa adalah reksa dana campuran termasuk berisi promisorry notes yang diterbitkan oleh perusahaan menengah.
Perseroan mempercayakan bank kustodi produk tersebut kepada PT Bank Internasional Indonesia Tbk dan telah mendapatkan pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 20 September 2007.
Perseroan juga memiliki produk lain yakni Reksadana Harvestindo Maxima dengan PT Bank CIMB Niaga Tbk sebagai bank kustodi. Sebagaimana diketahui, perusahaan manajer investasi yang sebelumnya bernama PT Suprasurya Asset Management ini kini statusnya dalam pemeriksaan Biro Pemeriksaan dan Penyidikan Bapepam-LK.(mmh)
Oleh Bunga Dewi Kusuma & M. Tahir Saleh
Published On: 27 April 2011
JAKARTA: PT Harvestindo Asset Management mendesak PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) bertanggung jawab terhadap gagal bayar perusahaan penerbit surat utang jangka pendek (promissory notes/PN) yang menjadi aset penyertaan reksa dana.
Direktur Utama Harvestindo Fresty Hendayani mengatakan pihaknya tetap akan mendesak Askrindo memenuhi kewajibannya sebagai penjamin atas risiko jika PN yang diterbitkan oleh perusahaan penerbit surat utang itu gagal memenuhi kewajiban.
PN tersebut menjadi aset penyertaan (underlying) reksa dana yang diterbitkan oleh perseroan dengan produk Reksadana Harvestindo Istimewa.
“Askrindo harus membayar karena sebagai bentuk penjaminan. Kami akan terus meminta mereka [Askrindo] memenuhi tanggung jawab,” katanya dalam konferensi pers di Jakarta, hari ini.
Produk Reksadana Harvestindo Istimewa adalah reksa dana campuran termasuk berisi promisorry notes yang diterbitkan oleh perusahaan menengah.
Perseroan mempercayakan bank kustodi produk tersebut kepada PT Bank Internasional Indonesia Tbk dan telah mendapatkan pernyataan efektif dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) pada 20 September 2007.
Perseroan juga memiliki produk lain yakni Reksadana Harvestindo Maxima dengan PT Bank CIMB Niaga Tbk sebagai bank kustodi. Sebagaimana diketahui, perusahaan manajer investasi yang sebelumnya bernama PT Suprasurya Asset Management ini kini statusnya dalam pemeriksaan Biro Pemeriksaan dan Penyidikan Bapepam-LK.(mmh)
HATI BANK, hati reksa dana, LAH
Penjualan Reksa Dana Melambat
Oleh Yeni H. Simanjuntak
Published On: 19 May 2011
JAKARTA: Kebijakan Bank Indonesia yang menghentikan sementara penambahan nasabah baru kelas premium 23 bank pada awal bulan ini, berdampak terhadap penjualan produk reksa dana yang dilakukan melalui perbankan.
John D. Item, Presiden Direktur Danareksa Investment Management, mengatakan pertumbuhan dana kelolaan industri reksadana cenderung melambat karena perbankan saat ini sangat berhati-hati dalam menjual produk.
"Bank harus menunggu persetujuan Bank Indonesia atas produk yang akan kami jual kepada nasabah bank. Untuk produk-produk baru, harus meminta approval dulu dari BI dan itu biasanya cukup lama. Dampaknya memang cukup terasa [bagi manajer investasi," ujarnya saat ditemui siang tadi.
Namun, dia optimistis penjualan produk reksa dana akan kembali normal pada paruh kedua tahun ini. "Pertumbuhan industri reksa dana pada kuartal I/2011 negatif. Namun, demand tetap tumbuh. Dengan pasar yang sedang lesu begini, kita harus puas dengan apa yang kita capai."
Adapun, Danareksa Investment Management (DIM) selama ini menjalin kerja sama dengan 14 bank untuk ikut memasarkan produk reksa dana mereka. "Namun, yang aktif penjualannya ada di enam bank," kata John.
Dia menambahkan penjualan reksa dana DIM melalui bank berkontribusi hingga 50% dari total nasabah yang dimiliki oleh perusahaan manajemen investasi itu.
"Saya sudah ngomong dengan beberapa manajer investasi dan mereka juga mengakuti kalau itu [dampak kebijakan BI] cukup terasa," katanya.
Selain harus berhadapan dengan kehati-hatian ekstra dari perbankan, manajer investasi juga menghadapi kekhawatiran dari para investor.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Danareksa Investment Management Prihatmo Hari mengatakan pihaknya bahkan harus menerima auditor yang dikirimkan oleh salah satu nasabah perseroan, pascamunculnya berbagai kasus perbankan belakangan ini.
Untuk mengatasi lesunya penjualan produk reksa dana, DIM akan menggenjot pemasaran kontrak pengelolaan dana (KPD). Perusahaan manajemen investasi berstatus BUMN itu saat ini memiliki total dana kelolaan dalam bentuk KPD sebesar Rp100 miliar.
"Ini [KPD] merupakan peluang. Namun, kami harus tes pasar terlebih dulu. Tahun ini akan kami siapkan," kata John.
Dia menambahkan prospek produk reksa dana sepanjang tahun ini sebenarnya cukup menjanjikan, terutama jenis reksa dana saham.
"Target kami, IHSG pada tahun ini bisa mencapai 4.300-4.500. Seharusnya industri juga ikut tumbuh, tapi karena penjualan lewat bank sedikit terganggung, pertumbuhan menjadi lebih lambat," kata John. (yes)
Oleh Yeni H. Simanjuntak
Published On: 19 May 2011
JAKARTA: Kebijakan Bank Indonesia yang menghentikan sementara penambahan nasabah baru kelas premium 23 bank pada awal bulan ini, berdampak terhadap penjualan produk reksa dana yang dilakukan melalui perbankan.
John D. Item, Presiden Direktur Danareksa Investment Management, mengatakan pertumbuhan dana kelolaan industri reksadana cenderung melambat karena perbankan saat ini sangat berhati-hati dalam menjual produk.
"Bank harus menunggu persetujuan Bank Indonesia atas produk yang akan kami jual kepada nasabah bank. Untuk produk-produk baru, harus meminta approval dulu dari BI dan itu biasanya cukup lama. Dampaknya memang cukup terasa [bagi manajer investasi," ujarnya saat ditemui siang tadi.
Namun, dia optimistis penjualan produk reksa dana akan kembali normal pada paruh kedua tahun ini. "Pertumbuhan industri reksa dana pada kuartal I/2011 negatif. Namun, demand tetap tumbuh. Dengan pasar yang sedang lesu begini, kita harus puas dengan apa yang kita capai."
Adapun, Danareksa Investment Management (DIM) selama ini menjalin kerja sama dengan 14 bank untuk ikut memasarkan produk reksa dana mereka. "Namun, yang aktif penjualannya ada di enam bank," kata John.
Dia menambahkan penjualan reksa dana DIM melalui bank berkontribusi hingga 50% dari total nasabah yang dimiliki oleh perusahaan manajemen investasi itu.
"Saya sudah ngomong dengan beberapa manajer investasi dan mereka juga mengakuti kalau itu [dampak kebijakan BI] cukup terasa," katanya.
Selain harus berhadapan dengan kehati-hatian ekstra dari perbankan, manajer investasi juga menghadapi kekhawatiran dari para investor.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Danareksa Investment Management Prihatmo Hari mengatakan pihaknya bahkan harus menerima auditor yang dikirimkan oleh salah satu nasabah perseroan, pascamunculnya berbagai kasus perbankan belakangan ini.
Untuk mengatasi lesunya penjualan produk reksa dana, DIM akan menggenjot pemasaran kontrak pengelolaan dana (KPD). Perusahaan manajemen investasi berstatus BUMN itu saat ini memiliki total dana kelolaan dalam bentuk KPD sebesar Rp100 miliar.
"Ini [KPD] merupakan peluang. Namun, kami harus tes pasar terlebih dulu. Tahun ini akan kami siapkan," kata John.
Dia menambahkan prospek produk reksa dana sepanjang tahun ini sebenarnya cukup menjanjikan, terutama jenis reksa dana saham.
"Target kami, IHSG pada tahun ini bisa mencapai 4.300-4.500. Seharusnya industri juga ikut tumbuh, tapi karena penjualan lewat bank sedikit terganggung, pertumbuhan menjadi lebih lambat," kata John. (yes)
Langganan:
Postingan (Atom)