3 prinsip YANG LEBE DULU DIPIKIRKAN (1) profil keuangan (2) profil investasi (3) jenis produk
Peluang reksadana saham saat harga saham turun
Oleh Emma Ratna Fury - Rabu, 04 September 2013 | 11:08 WIB
JAKARTA. Melemahnya kondisi makro ekonomi yang kurang baik ternyata memberikan berdampak pada berbagai jenis produk investasi, termasuk reksadana terutama reksadana saham.
Analisis Investasi: Saatnya Berburu Saham Sebelum 'Great Sale' Pasar Modal Usai
- Jumat, 23 Agustus 2013, 11:11 WIBIHSG tertekan, dana kelolaan Bahana tergerus
Oleh Wahyu Satriani - Kamis, 22 Agustus 2013 | 08:58 WIB
Presiden Direktur Bahana TCW Investment Management, Edward Lubis mengatakan, koreksi pasar saham memberikan kontribusi paling besar terhadap penurunan dana kelolaan perusahaan. Sementara itu, penarikan dana investor (redemption) justru relatif kecil atau hanya sekitar 1% dalam satu bulan terakhir.
Mei 2013 lalu, dana kelolaan Bahana sempat mencapai dia tas Rp 22 triliun. Namun nilai tersebut turun dan kini tinggal Rp 20,7 triliun. Bahana menargetkan bisa menggenggam dana kelolaan Rp 23 triliun di akhir tahun ini. Target ini naik dibandingkan akhir tahun lalu yang sekitar Rp 20 triliun.
Sebagian besar dana kelolaan Bahana disumbang oleh reksadana fixed income dan reksadana terproteksi yang mencapai 60%. Sedangkan, sisanya merupakan reksadana saham. Untuk mengejar target dana kelolaan, Bahana berencana meluncurkan dua produk anyar pada semester ini.
Yakni, reksadana saham syariah dan reksadana campuran berdenominasi dollar Amerika Serikat (AS). "Untuk produk berdenominasi dollar AS, kami mengkaji antara campuran atau fixed income. Nanti akan kami pilih yang prospeknya lebih menarik," tutur Edward.
Produk berdenominasi dollar AS diperkirakan masih memberikan prospek menarik seiring pelemahan rupiah. Produk baru tersebut ditargetkan bisa menambah dana kelolaan masing-masing Rp 50 miliar-Rp 100 miliar. Infovesta Utama mencatat, total dana kelolaan seluruh reksadana per Juli 2013 susut 2,79% menjadi Rp 189,85 triliun dari bulan sebelumnya.
REKSADANA
Dana kelolaan reksadana turun di Juli
Oleh Dina Farisah - Rabu, 14 Agustus 2013 | 07:16 WIB
Hampir seluruh jenis reksadana mengalami penurunan dana kelolaan. Reksadana saham misalnya, dana kelolaan merosot hampir Rp 4 triliun menjadi Rp 86,956 triliun. Adapun dana kelolaan reksadana campuran turun 4,16% menjadi Rp 21,582 triliun. Reksadana pendapatan tetap anjlok 1,51% menjadi Rp 28,902 triliun.
Hanya reksadana pasar uang yang tercatat meraih kenaikan dana kelolaan sebesar 0,15% menjadi Rp 12,173 triliun. Maklum, reksadana jenis ini relatif minim risiko. Di tengah pasar yang sedang fluktuatif seperti bulan lalu, reksadana pasar uang menjadi salah satu instrumen yang dinilai cukup aman.
Direktur PT Batavia Prosperindo Aset Manajemen Yulius Manto mengatakan, penurunan dana kelolaan sepanjang bulan Juli disebabkan oleh pasar saham dan obligasi yang bergejolak. Indeks harga saham gabungan (IHSG) melanjutkan koreksi hingga 4,32% setelah anjlok 4,93% pada bulan Juni 2013.
Masih bisa tumbuh
Ambil contoh, dana kelolaan reksadana saham milik Batavia bertajuk Batavia Dana Saham Optimal tergerus dari Rp 394,205 miliar menjadi Rp 390,222 miliar di Juli dari bulan sebelumnya. Meski begitu, Yulius bilang, hingga akhir tahun ini dana kelolaan reksadana masih berpotensi tumbuh. Sebab, koreksi pasar dimanfaatkan sebagian investor untuk menambah dana investasi alias top-up.
Saat ini, posisi dana kelolaan Batavia mencapai Rp 12,7 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari dana reksadana terproteksi sebesar Rp 4,2 triliun. "Targetnya dana kelolaan tahun ini bisa mencapai Rp 16 triliun dengan menggenjot dana kelolaan reksadana saham," ujar dia.
Penurunan dana kelolaan juga dialami PT Schroders Investment Management Indonesia. Berdasarkan fund fact sheet perusahaan ini, posisi dana kelolaan Schroders dari Rp 55 triliun per akhir Juni 2013 turun menjadi Rp 52,97 triliun pada akhir Juli 2013.
Viliawati, analis PT Infovesta Utama mengungkapkan, ada dua hal yang menyebabkan dana kelolaan reksadana tergerus. Pertama, akibat perubahan nilai pasar aset dasar portofolio reksadana seperti saham dan obligasi. Ini terjadi ketika pasar saham dan obligasi terkoreksi. Kedua, perubahan unit penyertaan (UP) reksadana yang dipengaruhi oleh aksi subscription ataupun redemption oleh investor.
Namun data Infovesta menunjukkan, total UP reksadana di Juli tumbuh 1,04% menjadi Rp 116,521 miliar ketimbang bulan sebelumnya. UP yang mengalami pertumbuhan adalah reksadana saham, reksadana pendapatan tetap, reksadana terproteksi dan ETF. Sementara sisanya mengalami penurunan. Artinya, penurunan dana kelolaan terjadi memang lantaran pasar memang sedang koreksi.
Vilia menilai, momentum koreksi umumnya dimanfaatkan investor untuk menambah investasinya. Ini untuk memperoleh harga yang lebih murah. “Secara umum dana kelolaan akan naik hingga akhir tahun,” kata Vilia.
indeks pertambanganyang masih berada pada jalur hijau dalam dua pekan berturut-turut dengan kenaikan (5,46%). Sementara pelemahan dipimpin indeks properti, diikuti indeks perdagangan dan keuangan dengan pelemahan masing-masing 16,16%, 10,22% dan 10,04%. Reza Priyambada, Kepala Riset Trust Securities mengatakan, pekan ini merupakan hari-hari yang berat untuk IHSG sehingga tidak dapat meninggalkan zona merahnya. “Dalam ulasan sebelumnya, pernah kami sampaikan bahwa kondisi saat ini berbeda dialami IHSG untuk tahun ini di mana sentimen yang ada tidak sepenuhnya kondusif,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, akhir pekan ini. Menurut dia, pergerakan positif yang diharapkan pascalibur Lebaran tampaknya tidak terjadi. “Sama halnya dengan pekan sebelumnya di mana meski sempat terjadi kenaikan, namun, oleh karena tidak diimbangi dengan positifnya sentimen yang ada, hanya dimanfaatkan untuk profit taking,” papar dia. Bahkan, lanjut dia, adanya pernyataan, pidato, maupun komentar-komentar dari para pejabat yang memperlihatkan seolah-olah, ekonomi Indonesia berada dalam kondisi yang baik tidak membuat kondisi pasar semakin membaik. “Yang terjadi sebaliknya di mana pelaku pasar justru memperbesar daya jualnya sehingga IHSG pun terpaksa terperosok ke lembah merah,”ucapnya. Sepanjang pekan, investor asing tercatat melakukan net sell sebesar Rp5,72 triliun jauh lebih tinggi dari pekan sebelumnya sebesar Rp1,37 triliun. “Masih adanya imbas pelemahan di bursa saham AS dan kurang kondusifnya sentimen yang ada membuat IHSG memperpanjang pelemahannya,” tegas dia. Terutama untuk nilai tukar rupiah yang terus longsor membuat kondisi makin tidak kondusif dan berimbas pada aksi jual berlebihan dari para investor. “Imbas dari pidato kenegaraan Presiden SBY yang menyampaikan asumsi-asumsi makro pun dianggap tidak realistis,” ungkap Reza. Kondisi itu, diperparah oleh semakin memerahnya pasar obligasi di mana yield yang diminta terus meningkat. Pada saat yang sama, adanya aturan Giro Wajib Minimum (GWM)-Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 78%-92% dari sebelumnya 100% turut dirspons negatif. “Hal itu dinilai mengurangi likuiditas kredit perbankan,” tuturnya. Menurut Reza, pelaku pasar melihat
perekonomian Indonesia akhir-akhir ini menunjukkan data negatif secara bertahap sekaligus menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi, lonjakan inflasi, dan peningkatan defisit neraca perdagangan dan neraca berjalan.Adanya berita negatif terkait penilaian ekonomi Thailand yang akan memasuki resesi; komentar-komentar dari para pejabat negara yang terkesan “tenang-tenang saja”; rupiah yang masih melanjutkan tren penurunannya; dan adanya pemberitaan di mana China akan mengurangi karbon sehingga dinilai berpengaruh pada kinerja emiten coal juga turut menambah sentiment negatif,” papar dia. Sempat terjadinya aksi beli setelah market great sale pasca-HUT Kemerdekaan RI. Namun, tidak bertahan lama karena secara riil di lapangan belum adanya trigger positif. Dengan pelemahan IHSG tersebut,
level IHSG telah menyamai level pada periode awal September 2012. Aksi profit taking justru kembali terjadi jelang akhir pekan meski terdapat pemberitaan adanya himbauan kepada BUMN untuk melakukan buyback sahamnya.
“Sentimen positif tersebut tertutupi komentar Presiden SBY bahwa berat untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 6,3% sehingga harapan untuk melanjutkan rebound kembali terhalangi,” imbuhnya. [jin]