Sabtu, 22 Februari 2014

pilih: REKSA DANA atawa SAHAM ... 240713_150913_210214

per tgl 21 Februari 201empat, catatan kasar gw soal perkembangan investasi mingguan, bulanan, taonan :

coba bandingkan sendiri EFEKTIVITAS koleksi @ warteg saham gw VERSUS tren ihsg VERSUS TREN NILAI AKTIVA BERSIH REKSA DANA SAHAM: perbandingan INDEKS harga saham warteg gw V ihsg V NAB reksa dana sahamperbandingan tren harga saham warteg gw V IHSGperb tren NILAI AKTIVA BERSIH reksa dana saham V ihsg

... kayaknya kok INDEKS TOTAL KOLEKSI SAHAM WARTEG gw LEBE TINGGI daripada tren IHSG dan NAB reksa dana saham (secara selektif) :)

MI lokal lebih oke meracik portfolio


JAKARTA. Pasar reksadana saham dibanjiri produk perusahaan manajer investasi (MI) asing dalam dua tahun terakhir. Kendati demikian, kinerja reksadana racikan MI lokal lebih yahud dan masih mendominasi peringkat atas.
Data Infovesta Utama menunjukkan, dari 10 besar reksadana saham dengan return terbesar, hanya dua produk racikan MI asing yang masuk daftar. Yakni, First State Indoequity milik First State dengan return 9,22% secara year to date hingga 14 November 2013. Selain itu,  RHB OSK Alpha SectorRotation dari RHB OSK Asset Management dengan return 7,03%.
Selebihnya dikuasai produk MI lokal. Pratama Equity, reksadana milik PT Pratama Capital Asset Management tercatat memberi return paling tinggi sebesar 27,77%. Menyusul Pratama Saham dengan return 20,44%, dan reksadana saham kelolaan PT Samuel Aset Manajemen (SAM), yakni SAM Equity Fund yang memberi imbal hasil 17,24%.
Kinerja produk-produk reksadana saham tersebut di atas return IHSG yang tercatat 1,17% hingga 14 November 2913, serta di atas rata-rata return reksadana saham yang tercermin dari Infovesta Equity Fund.
Budi Budar, Fund Manager PT Samuel Aset Manajemen mengatakan, MI lokal sudah mulai lihai dalam memutar portofolio. MI lokal mampu melihat peluang dari penurunan pasar saham. Mereka justru memanfaatkan penurunan tersebut untuk masuk dan mengambil saham-saham yang dilepas oleh asing dengan harga murah.
Agus Yanuar, Direktur Utama PT Samuel Aset Manajemen mengatakan, moncernya kinerja produk Samuel ditopang dari pemilihan sektor saham yang tepat. SAM Indonesian Equity Fund memutar 80% hingga 98% aset pada efek saham dan minimum 2% hingga maksimal 20% pada efek pasar uang di Indonesia.
Saham-saham yang disasar  seperti saham PT Semen Gresik Persero Tbk (SMGR) dan  PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). "Kami cukup disiplin dalam berkonsentrasi pada sektor usaha berbasis domestik," ujar Agus, Selasa (19/11).
Hingga kini, dana kelolaan reksadana SAM Indonesian Equity Fund mencapai Rp 1,35 triliun. Nilai tersebut mendominasi total dana kelolaan reksadana milik Samuel yang mencapai Rp 2,7 triliun pada bulan Oktober 2013.
Menurut Agus, kenaikan dana kelolaan ditopang oleh pertumbuhan kinerja, subscription investor lama, tambahan investor baru serta adanya produk reksadana baru. Unit Penyertaan (UP) reksadana yang dikelola SAM memang tercatat naik 513% dari 282 juta unit menjadi 1,7 miliar unit hingga Oktober.
Viliawati, analis Infovesta Utama mengatakan, secara rata-rata, kinerja reksadana saham terbaik per periode masih beragam. Tidak konsisten didominasi  MI tertentu, baik lokal maupun asing.     
Dua tahun terakhir, banyak MI asing yang ikut meramaikan industri reksadana nasional. Sebut saja, Maybank Asset Management yang mengakusisi 99% saham PT GMT Aset Manajemen. Sebelumnya, ada Ashmore Investment Management Limited, MI raksasa terafiliasi dengan ANZ Banking Group (ANZ). Tahun lalu, ada AMCI Manajemen Investasi asal Malaysia, serta Eastspring Investment Management, anak usaha Prudential Plc, masuk ke Indonesia.  

Ingin Investasi Saham, Tapi Takut Gagal

Advertorial - detikfinance
Jumat, 11/10/2013 00:00 WIB
Jakarta - Cara hidup masyarakat telah berubah dan kebutuhan semakin berkembang. Adanya inflasi juga membuat harga-harga berubah dan cenderung naik. Kita tidak lagi dapat menabung dengan persentase yang sangat besar untuk memperoleh simpanan dana yang dapat menjamin masa yang akan datang. Caranya yang paling pas adalah dengan investasi.

Bentuk investasi ada banyak seperti tabungan, deposito, reksadana, emas atau asuransi atau juga property dan saham. Saham adalah salah satu bentuk investasi yang menarik, bahkan saat ini investor pemula dengan usia yang masih cukup muda pun mulai melirik saham.

“Saham apabila dijalani dengan rutin, akan dapat memberi return yang baik juga. Saat ini ada 24 saham Bursa Efek Indonesia (BEI) yang sudah jadi portofolio investasi asing. Bila ditarik rata-rata dari 2006 sampai 2013 sudah ada sekitar 30-40%. Ini prospek yang baik,” ujar Haidir Musa, Kepala Unit Kajian dan Ekonomi, Divisi Riset BEI pada talk-show Financial Clinic yang diadakan detikFinance bersama Wolipop dan didukung oleh Mandiri Sekuritas dan BEI.

Sayangnya saat ini BEI hanya memiliki 40.000 investor yang jumlahnya jauh lebih kecil apabila dibandingkan dengan jumlah pemilik rekening tabungan yang jumlahnya mencapai 60 juta rekening. Padahal menurut Haidir apabila jumlah 40.000 investor naik menjadi satu juta investor, harga saham akan melonjak naik dengan cukup signifikan.

Hal ini karena meski dilirik sebagai lahan investasi prospektif tetap saja banyak investor yang mundur apabila diajak berinvestasi saham. Alasan utamanya adalah karena pengetahuan yang minim soal saham, ketidak percayaan investor yang takut resiko investasi saham.

“Memang sebaiknya sebelum membeli saham investor juga harus mengetahui seperti apa perusahaan tempat berinvestasi, manajemennya dan kinerja keuangannya.,” ujar Ligwina Hananto yang juga turut menjadi pembicara dalam talk-show tersebut. Perencana keuangan independen ini juga menyarankan ada baiknya menggunakan penghasilan-penghasilan tahunan atau sampingan untuk investasi bukan dari gaji bulanan.

Pada kesempatan tersebut Haidir Musa menyampaikan di tahun mendatang BEI akan mengimplementasikan kebijakan dari 1 lot 5000 lembar menjadi 1 lot 100 untuk membuka peluang berinvestasi bagi investor retail.

Untuk berinvestasi dengan aman Mandiri Sekuritas sebagai salah satu perusahaan sekuritas terbaik di Indonesia dapat memberikan produk dan layanan sekuritas yang inovatif seperti Securities Underwriting, Corporate Finance, Securities Brokerage, Research dan Investment Management. Mandiri Sekuritas juga didukung oleh tim riset profesional dan berpengalaman serta manajemen resiko yang terukur. Informasi lebih lanjut mengenai layanan investasi melalui Mandiri Sekuritas dapat mengakses www.mandirisekuritas.com


(adv/adv) 
mau tau KONDISI KOLEKSI SAHAM gw @ warung tegar saham : yang TETAP BERLABA n YANG TETAP BERLABA: warung tegar saham gw; bole cek KONDISI HARGA SAHAM ANTM DALAM JANGKA PANJANG, bandingkan dengan reksa dana saham yang gw inves dalam jangka panjang : KALAH MUTLAK tren harga saham ANTM dengan reksa dana saham
per 5 TAON pasca 3 KRISIS (2 raksasa + 1 mini), ekh, koleksi reksa dana saham gw n saham gw maseh OKE LAH : 

per tgl 10 September 2013 dilakukan KALKULASI CARI UNTUNG SESAAT @ reksa dana saham dan saham (bole pilih seh) :

hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
Kapok 'Bermain' Saham, Harus Bagaimana? eTrading Securities - detikfinance Senin, 23/07/2012 11:25 WIB http://images.detik.com/content/2012/07/23/65/113114_bei8luar.jpg Jakarta - Saya adalah seorang trader saham. Terlalu banyak saham yang nyangkut serta terlalu besar kerugian yang harus saya alami membuat saya kapok bermain saham. Permasalahannya, apakah saya lebih baik berinvestasi ORI, reksadana, atau obligasi korporasi? Dan bagaimana cara membeli obligasi/ORI? Kemudian, kapan saya bisa menjual rugi saham yang saya miliki? Terima kasih. Jawaban: Terima kasih untuk pertanyaannya Bapak/ibu Wid Sebelum saya menjawab pertanyaan Bapak/ibu Wid perlu saya jelaskan jenis ‘investor’ atau ‘pemain’ saham:
1. Trader, mereka yang membeli saham dan menjualnya kembali dengan time horizon jangka pendek bisa harian bahkan hanya hitungan jam/menit. Biasanya tools yang dipakai adalah technical analysis namun ada juga yang hanya memakai ‘insting’. Resiko jenis ini cukup tinggi.
2. Investor, mereka yang membeli saham dan menjualnya kembali dalam jangka panjang, pemilihan saham berdasarkan analisis Fundamental seperti pertumbuhan penjualan/laba bersih perusahan tersebut, struktur neraca dll. Resiko lebih rendah dibanding jenis trader
Kebanyakan tipe ‘pemain’ saham di Indonesia adalah tipe trader namun sayangnya banyak yang belum melengkapi diri dengan pengetahuan yang cukup untuk menjadi trader sehingga banyak mengalami kerugian.
Mungkin sekarang bapak/ibu Wid ingin membanting setir ke reksadana/obligasi korporasi dan ORI. Untuk reksadana bermacam-macam jenisnya ada pendapatan tetap (sebagian besar di Investasi di Obligasi baik pemerintah/korporasi); pasar uang (instrument investasi surat berharga yang jatuh tempo kurang dari satu tahun); Saham; berimbang dll.
Tidak ada satu yang lebih baik dari yang lain karena selalu ‘High Risk High Return’, dan masing-masing instrument punya kelebihan dan kekurangannya seperti obligasi korporasi mempunyai kekurangan yakni untuk membeli butuh modal yang besar sementara kalau reksadana fixed income kekurangannya mempunyai banyak biaya yang dibebankan ke pemegang reksadana tersebut (unit holder) seperti management fee, custodian fee, entry/exit fee dll.
Untuk membeli obligasi bisa lewat perusahaan sekuritas yang mempunyai divisi fixed income seperti etrading securities, untuk ORI (perdana) dapat dibeli di agen penjual yang ditunjuk pemerintah bisa perusahaan sekuritas atau bank.
(etr/ang)


IHSG Negatif, Reksa Dana Saham Tetap Positif


Oleh: Seno Tri Sulistiyono
pasarmodal - Selasa, 23 Juli 2013 | 03:08 WIB
INILAH.COM, Jakarta - PT Schroders Investment management Indonesia menyatakan adanya tekanan terhadap laju Indek Harga Saham Gabungan (ISHG), tidak berpengaruh ke dana kelolaan reksa dana yang ditanganinya.

"Penurunan tidak terlalu berpengaruh, masyarakat kita sudah banyak yang mengerti dengan pasar yang dikoreksi," kata Intermediary Bussinees PT Schroders Investment Management Indonesia, Yudhi Rangkuti, Senin (22/7/2013).

Menurut Yudhi, laju IHSG yang fluktuatif tidak membuat penurunan dana kelolaan. Hingga Juni 2013 dana kelolaan Schroders sebesar Rp55 triliun. Sementara, dari keseluruhan produk raksa dana Schoreders, reksa dana saham, dan disusul reksa dana lainnya, seperti Pasar Uang, Pendapatan Tetap (Obligasi), dan Campuran.

"Saat ini paling besar masih di reksa dana saham, sekitar 40 persen dari dana kelolaan tersebut, sisanya baru produk reksa dana lainnya," tutur Yudhi.

Lebih lanjut, dia mengatakan sepanjang tahun ini dana kelolaan dipastikan akan tercapai target. Walaupun beberapa waktu ini laju IHSG sedikit tertekan.

Ketimbang Tabungan dan Deposito, Imbal Hasil Reksa Dana Saham Lebih Besar


Dengan menyisihkan minimal dana 10% dari penghasilan, investor sudah bisa memulai investasi di reksa dana saham. Dwitya Putra
Jakarta–Peminat investasi (investor) dinilai sudah harus melirik investasi reksa dana saham (RD saham) untuk mendapatkan tingkat imbal hasil ataureturn yang lebih tinggi dibandingkan tabungan dan deposito. Dengan menyisihkan minimal 10% dari penghasilan, investor sudah bisa memulai investasi RD saham. Rata-rata imbal hasil reksa dana saham dinilai bisa mencapai 20% per tahun.
“Bagaimana mulai berpikir menghadapi inflasi ke depan. Tabungan dan deposito pastinya tergerus inflasi. Sebaiknya masyarakat mulai berinvestasi reksa dana saham justru imbal hasilnya di atas inflasi,” ujar Direktur Investasi PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Alvin Pattisahusiwa, saat Konferensi Pers Manulife Investor Sentimen Index in Asia, di Kantor Manulife, Jakarta, Kamis, 18 Juli 2013. 
Ia mencontohkan, seseorang memiliki uang sebesar Rp15 juta kemudian uang tersebut disimpan di tabungan dengan jangka waktu 5 tahun. Dengan rata-rata bunga tabungan yang hanya 1% per tahun, maka jumlah uang tersebut hanya bisa bertambah Rp2,2 juta. Sementara untuk deposito, yang imbal hasilnya rata-rata 6% per tahun, dengan menempatkan uang sebesar Rp15 juta, seseorang sudah bisa menghasilkan tambahan incomesebesar Rp14 juta selama 5 tahun ke depan.
Namun, perolehan imbal hasil tersebut akan jauh lebih besar jika menempatkan dananya misalkan sebesar Rp15 juta pada instrumen reksa dana saham. Dengan return rata-rata mencapai 20% per tahun, seseorang bisa mendapatkan tambahan keuntungan sebesar Rp61 juta.
“Masyarakat perlu edukasi dalam mengenal pasar modal untuk investasi jangka panjang. Investor dapat return lebih tinggi. Caranya cukup mudah dengan cara investasi pasif, beli dan tiap tahun masukin lagi kemudian diamkan,” terangnya. (*)

Dari trader forex ke reksadana






JAKARTA. Pernah menjadi trader valuta asing, mengajarkan banyak hal pada Dharma Djojonegoro, Presiden Direktur PT Multi Nitrotama Kimia, dalam berinvestasi. Kini, ia lebih berhati-hati dan menimbang risiko kala membiakkan dana.
Tahun 1997 silam, seusai menempuh pendidikan sarjana di Amerika Serikat (AS), Dharma berkarier sebagai trader efek di Citibank. Kala itu menjelang krisis moneter. Dharma mulai berdagang dollar AS kala harganya masih Rp 2.500 per dollar.
Enam bulan kemudian, harga dollar AS melambung tinggi hingga Rp 17.000 per dollar AS. Trader dollar AS kala itu menjadi sosok paling populer di kalangan pelaku pasar. Ini karena investor bisa untung besar dari lonjakan harga.
Pergerakan dollar sangat volatile kala itu. Situasi pasar seperti ini menguntungkan bagi trader. Meski sebagai warga negara, Dharma juga khawatir dengan krisis moneter dan gejolak sosial yang mengikutinya.
Perusahan tempat Dharma bekerja tak selalu untung.Bahkan sempat rugi hingga US$ 1 juta dalam sehari. "Kami sampai dipanggil ke kamar bos, kirain mau dipecat," kenang Dharma. Untung, kerugian bisa dipulihkan.
Dari sini, ia belajar banyak hal. Pertamadaily trading itu murni soal sentimen. Data-data pasar yang pada enam bulan lalu diartikan positif, pada bulan-bulan berikutnya data yang sama bisa diartikan negatif. Semua tergantung arah pasar.
Kedua, soal psikologi. Psikologi seorang trader berbeda dengan psikologi manusia pada umumnya. Lazimnya, jika mendapatkan profit, orang ingin segera mengeksekusi profit tersebut. Kalau rugi, orang umumnya tetap menunggu dengan harapan akan ada kenaikan.
Tapi, kata Dharma, bagi trader, kalau profit, let it run and cut loss quickly. Artinya seorang trader lebih suka mengakumulasi profit semaksimal mungkin dan cut loss secepatnya jika rugi.
Pengalaman empat tahun sebagai trader ini tak membuat Dharma kemudian memutuskan pilihan hidup sebagai trader. Kini, sekitar 80% portofolio investasi, ia tanam di reksadana. Secara psikologis, ia merasa kurang cocok terus bergelut di dunia trading efek. Dia lebih suka berinvestasi dengan memperhatikan aspek fundamental ketimbang sekadar sentimen pasar. "Saya lebih suka membeli sesuatu dan tahan untuk tiga tahun misalnya," ujar Dharma.
Apalagi, sejak bekerja sebagai direktur utama PT Multi Nitrotama Kimia, ia tak punya banyak waktu untuktrading. Lewat reksadana, ia bisa menanam investasi di berbagai instrumen seperti obligasi, saham dan dollar AS.
Dalam memilih reksadana, ia memperhatikan nama besar. "Jangan yang aneh-aneh dan tidak pernah didengar," imbuh Dharma.
Ia juga suka menaruh dana di reksadana yang fleksibel dalam penempatan dana investasi. Sebab, diversifikasi sangat penting dalam berinvestasi. Dengan diversifikasi, risiko akan tersebar.
Tapi, investasi di reksadana tak selalu menguntungkan. Ia punya pengalaman pahit dengan salah satu reksadana yang cukup memiliki nama besar.
Tahun 2008, sebuah skandal terkait penyebaran rumor perbankan menimpa salah satu sekuritas pelat merah. Investor ramai-ramai menarik dana dari reksadana tersebut. Pilihan waktu itu bagi Dharma adalah membiarkan dananya lenyap atau segera cut loss. Ia putuskan untuk cut loss meski rugi besar. "Waktu itu tidak ada informasi apa-apa," kenangnya.
Selain di reksadana, Dharma berinvestasi saham. Dalam membeli saham, ia lebih memperhatikan aspek fundamental. Hal terpenting adalah prospek dan kekuatan perusahan ke depan. "Kalau di reksadana, kita menyerahkan semua dana kita dikelola orang lain, di saham kita sendiri yang mengelolanya," terang dia.
Hanya sekali merilis album rekaman
Menyanyi adalah salah satu bakat terpendam Dharma. Ini pula alasan Dharma ketika ia merilis album pertama dan satu-satunya di dunia tarik suara, Tanpa Senyummu. Kala itu tahun 1996, kenang Dharma, ia harus bolak-balik AS tempatnya kuliah dan Indonesia untuk membuat album ini.
Salah satu musisi yang digandengnya adalah Dewa Budjana, gitaris grup band Gigi. Setelah membuat kaset demo, Dharma yang memakai nama panggung Ananta ini harus bergerilya ke berbagai label besar. Gayung pun bersambut. Musica siap merilis album tersebut.
Sayang, respon pasar tak terlalu bagus. Industri musik yang makin kompetitif dan sangat berorientasi pasar dianggap kurang pas bagi dirinya.
Akhirnya, Dharma memutuskan untuk berhenti dari dunia tarik suara. Namun, menyanyi memang sudah lekat dengan Dharma. Ia masih terus menyalurkan hobi ini bersama keluarga. Bapak dua anak ini sering bernyanyi diringi gitar. Apalagi kedua anaknya juga suka berkaraoke. Klop, jadilah keluarga ini sering ke karaoke di akhir pekan.
Lewat perjalanan panjang ini, Dharma akhirnya menyadari bakat utamanya di dunia bisnis. Kala usianya 6 tahun, ia suka berimajinasi sebagai penjual es krim. "Waktu itu ketika ke restoran sama orang tua, saya suka melipat kain serbet restoran hingga berbentuk seperti es krim kemudian menjualnya," kenangnya.
Investor Harus Paham Tujuan Investasi
Senin, 3 Juni 2013 | 13:38
investor daily

JAKARTA- Vice President Investment Research and Advisory Head Citi Indonesia Meru Arumdalu mengatakan investor perlu mendiversifikasikan portofolionya ke berbagai jenis aset dengan komposisi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuannya.

"Investor harus memahami apakah tujuan investasi itu untuk jangka pendek, jangka panjang, untuk pensiun atau untuk persiapan biaya sekolah anak," kata Meru Alumdaru di Jakarta, Senin.

Meru mengatakan dengan diversifikasi yang sesuai, investor memiliki kemungkinan lebih besar untuk mencapai tujuan investasi. Portofolio investasi yang didiversifikasikan dengan baik juga lebih dapat memenuhi kebutuhan investor pada saat darurat.

Untuk mencegah investor melakukan jual-beli yang berlebihan, Meru menyarankan investor melakukan strategi investasi secara berkala dan teratur atau dollar cost averaging (DCA). "DCA membantu investor menghilangkan unsur ketidakpastian akan penambahan jumlah yang akan diinvestasikan," ujarnya.

Meru mengatakan DCA juga memberikan kesempatan yang lebih tinggi bagi investor untuk meraih keberuntungan karena berkesempatan mendapat dengan harga rata-rata investasi per unit yang lebih rendah dibandingkan dengan cara investasi bukan melalui DCA.

"DCA juga membuat investor tidak perlu mengira-ngira waktu yang tepat untuk berinvestasi atau mengikuti keputusan investasi orang lain karena investasi dilakukan secara berkala," tuturnya.

Bagi nasabah yang ingin berinvestasi secara teratur dan berkala pada produk reksa dana, Citi Indonesia menawarkan layanan investasi Citibank Regular Investment Plan (CRIP), dengan konsep yang sama dengan DCA.

"Untuk mempermudah nasabah dalam menyusun portofolio investasi, Citibank juga telah menyusun paket model portofolio yang dapat dipilih oleh nasabah sesuai denan profil risiko dan kebutuhannya," katanya.

Melalui layanan CRIP, dana yang telah disetujui nasabah akan didebit secara otomatis setiap bulan untuk diinvestasikan pada produk reksa dana yang telah ditentukan sejak awal. (gor/ant)

hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh...
dalam pekan hari raya, ihsg bersama SAHAM2 gw, dan REKSA DANA SAHAM2 gw bergembira lah :


... neh lage perbandingan POTENTIAL GAIN % dalam jangka PANJANG antara RD dan SAHAM per tgl HARI KASIH SAYANG :

...neh, PERBANDINGAN IMBAL HASIL dalam JANGKA PANJANG antara RD pendapatan tetap, RD saham dan 10 SAHAM yang gw INVES:
PER TGL 19 JULI 2013 (minggu ke 3 Semester 2 2013): 

ffffffffffffffHHHHHHHHHHHHHffffffffff

gw memang investor terdiversifikasi, namun semua tetap yang portofolio seh ... nah, di saham, gw juga belajar dari LKH, neh, investor saham yang modalnya BOBO #1 di BEI: 

 

Berapa Persen Gaji yang Harus Ditabung?

Aidil Akbar Madjid - detikfinance
Senin, 15/10/2012 08:33 WIB

Jakarta - Pertanyaan: Saya seorang karyawan swasta dengan gaji Rp 5 juta. Saya berumur 24 tahun dan belum menikah, dan yang ingin saya pertanyakan adalah bagaimana cara me-manage gaji saya yang paling baik berdasarkan presentase? Berapa persenkah yang selayaknya saya tabungkan? Terima kasih.

Jawaban: Menabung merupakan aktifitas yang terkadang sulit kita lakukan. Karena setiap orang akan berbeda-beda biaya kebutuhan sehari-harinya. Terkadang, penghasilan yang diperoleh pun, tidak mencukupi kebutuhannya selama sebulan. Hingga pada akhirnya besar pasak daripada tiang.

Untuk membuat kebiasaan kita selalu dapat menabung dari penghasilan yang kita peroleh sebaiknya perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Bentuk anggaran pengeluaran bulanan Anda
Pembentukan anggaran pengeluaran bulanan anda akan sangat membantu Anda memberikan guidance ke pos-pos apa saja yang sebenarnya lebih saya butuhkan dalam waktu sebulan. Skala prioritas menjadi landasan utama dalam memanage keuangan Anda sehingga Anda dapat mulai melakukan kebiasaan menabung.

2. Pastikan cashflow Anda dalam keadaan positif
Ketika cashflow dalam keadaan positif ini dapat memberikan gambaran berapa sih sisa penghasilan yang kita peroleh setiap bulannya.

3. Tentukan tujuannya untuk apa?
Penentuan tujuan menabung Anda dapat memberikan motivasi Anda lebih tinggi untuk disiplin dalam menabung. Misalnya, Anda ingin menikah 4 tahun lagi. Biaya menikah sekarang 50 juta. Nah Anda akan termotivasi untuk mencapai tujuan keuangan yang Anda telah tetapkan jangka waktunya.

Sebaiknya kita tidak hanya menabung saja. Karena nilai uang ril saat ini lebih berharga daripada esok hari. Kondisi tersebut terjadi karena nilai uang yang akan datang akan tergerus oleh inflasi. Nah lebih baik, pola menabung tersebut diubah menjadi kebiasaaan berinvestasi untuk mengalahkan nilai inflasi yang dapat mengerus kekuatan ril uang yang Anda peroleh selama ini.

Kembali ke pertanyaan di atas, berapa persen yang harus ditabung? Setiap orang mempunyai jumlah tabungan dan investasi yang berbeda sesuai dengan kebutuhan mereka. Literatur di luar negeri mengatakan minimum tabungan & investasi adalah 10% dari jumlah penghasilan.

Sayangnya di Indonesia jumlah tersebut tidak cukup dikarena rata-rata inflasi 15 tahun terakhir yang cukup tinggi. Oleh sebab itu, idealnya minimum disisiihkan (tabungan & investasi) adalah 15% dari penghasilan. Adapun jumlah maksimal tidak ada alias sebanyak-banyaknya. Sudah barang tentu investasi jauh lebih baik dari menabung karena bisa “menambah” aset kita.

Ingat, sejahtera itu perlu persiapan. Dan persiapan tersebut perlu komitmen yang sangat tinggi dalam proses pencapaiannya. “Sejahtera itu Perlu Persiapan.”



(ang/ang)

Mengenalkan investasi, APRDI gelar pekan reksadana




JAKARTA. Untuk meningkatkan minat masyarakat berinvestasi di reksadana, Asosiasi Pengelola Reksadana Indonesia (APRDI)  akan menggelar even bertajuk “Pekan Reksadana Nasional”. Kegiatan yang melibatkan para pelaku industri Reksadana ini akan berlangsung pada Kamis - Minggu atau 18 - 21 Oktober 2012 di Atrium Laguna, Mall Central Park, Jakarta Barat.

Denny R. Thaher, Ketua Umum  Pekan Reksadana Nasional menuturkan,  melalui kegiatan ini, APRDI ingin lebih memperkenalkan dan mendekatkan produk reksadana kepada keluarga Indonesia. Itu sebabnya, acara ini diselenggarakan di mall yang bisa menjadi representasi tempat beraktivitas sebagian besar keluarga Indonesia.
“Kami ingin keluarga Indonesia mulai menjadikan reksadana sebagai pilihan utama berinvestasi, bukan lagi sebuah alternatif untuk berinvestasi," kata Denny, Minggu (13/10).

Menurutnya, sebagai produk investasi, reksadana bisa digunakan untuk mempersiapkan pendidikan anak, biaya pensiun ataupun untuk meningkatkan aset keuangan keluarga. Melalui Pekan Reksadana Nasional ini, masyarakat bisa mendapatkan informasi mengenai reksadana, termasuk mengelola risikonya sehingga memiliki potensi keuntungan yang optimal. Acara ini juga akan diikuti oleh 45 manajer investasi dan agen penjual reksadana.
Investor reksadana masih sedikit

Sejak diperkenalkan melalui undang-undang Pasar Modal pada tahun 1996, jumlah investor reksadana di Indonesia tergolong masih sangat kecil, yaitu baru sekitar 161 ribu investor dengan dana kelolaan sebesar Rp 170 triliun. Jumlah dana kelolaan itu tidak sebanding dengan simpanan masyarakat di perbankan yang mencapai Rp 2.984 triliun per Agustus 2012. Sementara hingga April 2012 total rekening nasabah perbankan sebanyak 101.531.209 rekening.

Persentase dana kelolaan reksadana terhadap produk domestik bruto (PDB) juga masih sangat rendah. Di tahun 2011, persentasenya hanya 2,2% dari total PDB Indonesia senilai Rp 7.427 triliun. Sementara di tahun 2010, di Malaysia persentasenya sudah sekitar 49%, Thailand 20% ataupun Filipina yang sudah 19,5%.

Kecilnya jumlah investor reksadana ini sangat ironis di tengah melesatnya kelas menengah Indonesia. Di mana, berdasarkan survei Bank Dunia tahun 2010, populasi kelas menengah dengan pengeluaran US$ 2 hingga US$ 20 dollar per hari mencapai sekitar 134 juta.
“Salah satu ciri kelas menengah adalah kebutuhan terhadap investasi makin tinggi. Makanya, agak ironis juga jika investor reksadana masih kecil seperti sekarang,” ujarnya.
Menurut Denny, sebagai produk investasi, reksadana sebenarnya sudah berkembang pesat. Produk ini memiliki beragam varian yang memungkinkan investor menempatkan dananya sesuai dengan kemampuan keuangan dan tujuan investasinya. Untuk membeli reksadana juga gampang, bisa melalui perbankan ataupun secara langsung melalui perusahaan manajer investasi. Nilai investasinya pun amat terjangkau, sekitar Rp 250 ribu untuk setiap pembelian.

Denny mengklaim imbal hasil investasi di reksadana jauh lebih menarik daripada produk-produk investasi lain, termasuk simpanan deposito di perbankan. “Kami berkeyakinan bahwa saat ini reksadana adalah pilihan tepat bagi masa depan keluarga Indonesia,” katanya.

Dalam Pekan Reksadana Nasional yang baru pertama kali di gelar ini, para pelaku dari industri reksadana yang menjadi anggota APRDI akan menyelenggarakan berbagai kegiatan. Mulai talk show dan edukasi tentang reksadana, penjualan produk-produk reksadana hingga job fair bagi mereka yang berminat untuk meniti karier di industri reksadana.

Denny menjelaskan, melalui  kegiatan job fair diharapkan para profesional maupun fresh graduate mendapatkan informasi yang lebih mendalam mengenai industri reksadana sehingga akan semakin banyak para profesional ataupun fresh graduate  yang terjun ke industri reksadana. Sebab, hingga kini jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) di industri ini masih sangat terbatas. “Dalam job fair nanti akan bisa diketahui betapa menariknya bekerja di industri reksadana serta success story di industri ini . Selain potensi pasarnya masih terbuka, profesi ini juga menawarkan jenjang karier yang menjanjikan,” tegas Denny.
Plus Minus antara Reksa Dana dan Saham Sabtu, 13 Oktober 2012 | 09:39 Reksa dana cenderung membuat investor pasif, sedangkan investasi saham mendorong investor lebih aktif. Investasi di pasar keuangan atau pasar modal banyak ragamnya. Dengan perhitungan cermat, semua jenis investasi bisa dilakukan sesuai karakteristik investor. Kali ini kita akan membahas soal reksa dana dan investasi saham. Apa saja perbedaan antara dua instrumen investasi ini? Lalu apa saja kelebihan dan kekurangan keduanya? Pakar keuangan dan saham Ellen May menyatakan, dilihat berdasarkan timeframe, reksa dana memiliki waktu pencairan kurang fleksibel, karena lebih lama. Periode pencairannya bisa hingga 1-3 tahun. Sementara investasi saham sangat fleksibel, karena investor bisa melakukan aki beli atau jual kapanpun mereka inginkan. "Investasi saham bisa bulanan, tahunan atau justru harian," kata Founder Ellen May Institute ini, Sabtu (13/10). Jika melilhat isi portofolio, investasi saham bebas memilih sesuai analisa, sementara reksa dana menyerahkan pada fund manager (manajer investasi/MI). Mereka akan memilih saham-saham apa saja yang akan memberikan keuntungan. "Itu sangat tergantung keahlian fund manager," kata Ellen. Hal Ini kata Ellen, membuat investasi di reksa dana cenderung membuat investor pasif, sedangkan investasi saham mendorong investor lebih aktif. Berdasarkan analisa, Ellen menjelaskan, investasi reksa dana didukung tim riset yang selalu update, sementara investasi saham, investor harus aktif menganalisa dan belajar, baik teknikal dan fundamental. Dilihat dari resiko, berinvestasi di reksa dana sangat tergantung dari fund manager. Jika fund manager tidak pintar, tentu kinerja buruk. Namun sebaliknya, jika fund manager lihai memilih portofolio, akan menghasilkan keuntungan. "Biasanya mengikuti gerak indeks harga saham gabungan (IHSG)," kata Ellen. Adapun resiko investasi saham, biasanya lebih dipermainkan emosi. Namun jika investor mau belajar menganalisa, maka resiko bisa diminimalisir. Untuk modal, cukup dengan Rp500.000 investor bisa membuka rekening reksa dana. Namun untuk investasi saham, modal minimal Rp5 juta. Dalam reksa dana, modal investor digabungkan dengan investor lain sehingga peluang diversifikasi lebih banyak. Sementara investasi saham hanya fokus pada beberapa saham. Dengan melihat kelebihan dan kekurangan tersebut, saatnya menentukan investasi mana yang cocok dengan karakteristik Anda. Penulis: Whisnu Bagus KINERJA REKSA DANA: Penguatan IHSG Pacu Kinerja Indeks Reksa Dana Dewi Andriani Rabu, 10 Oktober 2012 | 04:49 WIB bisnis indonesia JAKARTA: Indeks reksa dana saham (IRDSH) hingga kuartal III/2012 tahun ini memberikan imbal hasil yang lebih baik dibandingkan tahun lalu yakni mencapai 7,73%, berbanding terbalik dari periode yang sama 2011, anjlok hingga -7,98%. Selain IRDSH, Indeks Reksa Dana Campuran (IRDCP) yang mencerminkan rata-rata kinerja Reksa Dana Campuran pun berhasil mencetak peningkatan imbal hasil menjadi 5,98% sepanjang periode year to date pada September 2012 dibandingkan tahun lalu yang terkoreksi -3,18%. ” Peningkatan kinerja IRDSH dan IRDCP tersebut seiring dengan penguatan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencapai hingga 11,53% sepanjang sembilan bulan tahun ini,” kata Research Analyst Infovesta Praska Putrayanto kepada Bisnis, Selasa (9/10). Di sisi lain, paparnya, indeks obligasi pemerintah (infovesta Government Bond Index/IGBI) yang mencapai 5,1% serta indeks Obligasi Korporasi (Infovesta Corporate Bond Index/ICBI) dengan penguatan 6,75% turut memberikan kontribusi bagi kinerja IRDCP. "Hal yang wajar jika IRDSH dan IRDCP memberikan hasil lebih baik sepanjang tahun ini dibanding tahun lalu karena kinerja IHSG sendiri juga menguat 11,53% sepanjang ytd per September 2012,” katanya. Berdasarkan data Infovesta, reksa dana saham yang memberi imbal hasil terbaik dibandingkan 79 reksa dana saham lainnya yakni Sam Indonesian Equity Fund yang dikelola oleh manajer investasi PT Samuel Aset Manajemen mencapai 27,53%. Disusul oleh reksa dana MNC Dana Ekuitas dengan manajer investasi PT MNC Aset Management yang menunjukan imbal hasil hingga 25,32%, serta Syailendra Equity Opportunity Fund yang dikelola oleh PT Syailendra Capital yakni sebesar 21,68%. Sementara untuk reksa dana campuran, MNC Dana Kombinasi milik PT MNC Aset Manajemen berhasil menjadi jawara dengan mencetak return hingga 21,22% diantara 89 reksa dana sejenis, diikuti oleh Nikko BUMN Plus serta Sam Syariah Berimbang yang dikelola PT Samuel Aset Manajemen, masing-masing menunjukan imbal hasil 20,08% dan 19,53%. (yus)

Lo Kheng Hong: Saya Simpan Uang dengan Beli SahamOleh: Seno Tri Sulistiyono

pasarmodal - Kamis, 3 Oktober 2013 | 17:13 WIB

INILAH.COM, Jakarta - Lo Kheng Hong, salah satu investor sukses di pasar saham memberikan beberapa trik jika ingin berinvestasi di pasar modal.

"Membeli saham saya melihat perusahaan tersebut, bukan dari faktor makro. Jadi saya melihat apakah perusahaan tersebut bisa berkembang ke depannya atau tidak," kata Lo Kheng Hong saat ditemui di gedung Kresna Tower di Jakarta, Kamis (3/10/2013). Hari ini dia mendapat tugas menjadi Duta Kresna oleh PT Kresna Graha Securindo Tbk (KREN).

Menurut dia, berinvestasi di pasar modal lebih menjanjikan keuntungannya dibandingkan menyimpan uangnya di bank yang memang memiliki resiko rendah.

"Saya simpan uang, sedikit demi sedikit. Saya tidak menyimpan uang saya di bank tetapi saya membeli saham yang saya pikir perusahaan tersebut akan maju ke depannya dan harga sahamnya akan naik," tutur dia.
... lihat POTENTIAL GAIN %nya : LO KHENG HONG yang kerjaannya BOBO tapi $3DAP
Lo Kheng Hong merupakan mantan pegawai tata usaha di salah satu bank swasta di Indonesia. Dia mulai masuk ke dunia pasar modal sejak 1989. Pengalamannya berinvestasi di pasar modal membuat dia memperoleh keuntungan ratusan ribu persen. Saat ini memiliki aset triliunan rupiah dalam bentuk saham. [hid]



Simak daftar reksadana dengan return dua digit Oleh Amailia Putri Hasniawati - Senin, 06 Januari 2014 | 17:03 WIB

kontan

JAKARTA. Return instrumen investasi di pasar keuangan, seperti saham dan obligasi per akhir tahun lalu tercatat minus. Return IHSG secara year-to-date (ytd) -0,98%, sedangkan Infovesta Government Bond Index -5,17%.

Hal ini membuat produk investasi dengan underlying saham dan obligasi nyungsep. Berdasarkan data PT Infovesta Utama, return reksadana saham dan pendapatan tetap masing-masing -3,66% dan -4,53%. Begitu pula dengan reksadana campuran yang mencatatkan imbal hasil minus 1,59%. Namun, beberapa reksadana besutan manajer investasi bisa memberikan imbal hasil tinggi. Berikut, produk-produk yang dimaksud:

Reksadana Saham: Pratama Equity: 23,28% Pratama Saham; 16,41% First State Indoequity High Conviction: 13,55% Sam Indonesian Equity Fund: 13,34%

Reksadana Pendapatan Tetap: Syailendra Fixed Income Fund 14,91% Simas Danamas Mantap Plus 7,16% Danamas Stabil; 7,01%

Reksadana Campuran: Kresna Flexima: 24,05% Pratama Berimbang: 21,59% Pacific Balance Fund; 17,53%

Keraton: 11,64% Editor: Barratut Taqiyyah bandingkan dengan koleksi saham gw @warung tegar (warteg) saham kbsu n ot c:

Tidak ada komentar: