gW suka BANGET ketidakPASTIan

gW suka BANGET ketidakPASTIan

Kamis, 26 Februari 2015

obligasi tumbuh, RDPT TUMBUH ... 270412_260215

JAKARTA kontan. Efek penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia ( BI rate) dari 7,75% menjadi 7,5% menjalar ke pasar reksadana. Apa saja imbas penurunan BI rate terhadap reksadana? Senior Fund Manager BNI Asset Management Hanif Mantiq mengatakan, penurunan BI rate bisa mendongkrak kinerja reksadana pendapatan tetap. Sebaliknya, kebijakan ini dapat memperlambat kinerja reksadana pasar uang. Dua jenis reksadana ini paling sensitif dengan BI rate. Maklum, aset dasar reksadana pendapatan tetap mayoritas berupa surat utang. "Dan mayoritas aset dasar reksadana pasar uang adalah deposito,” ujar Hanif, kemarin. Penurunan BI rate bakal menekan yield surat utang. Alhasil, harga surat utang di pasar sekunder ikut naik. Imbal hasil reksadana pendapatan tetap pun terkerek. Di sisi berbeda, Hanif menyatakan, bunga deposito perlahan akan turun seiring koreksi BI rate. Ini dapat menekan imbal hasil reksadana pasar uang. Presiden Direktur Bahana TCW Investment Management Edward Lubis memperkirakan, bunga deposito akan turun mengikuti proyeksi BI rate. Prediksinya, BI rate akhir tahun ini bisa diturunkan lagi hingga ke level 7,25%. Ini berpotensi memangkas bunga deposito 50 basis poin, sepanjang tahun ini. Reksadana campuran yang berisi obligasi juga kecipratan berkah penurunan BI rate. Tapi, porsi obligasi di reksadana campuran tidak banyak. Kendati prospek obligasi bagus, Direktur Utama Samuel Asset Management Agus Basuki Yanuar, menyatakan belum berniat mengubah strategi portofolio reksadana campuran. "Kami tetap mengandalkan saham yang juga positif," ujar Agus. Di reksadana campuran Samuel, porsi aset dasar yang berupa saham 70%, obligasi 20%-25%, dan sisanya efek pasar uang. Manajer investasi tak banyak mengubah strategi portofolio reksadana setelah BI rate turun. Aset dasar deposito tetap dipertahankan. Sedangkan pada surat utang, lebih dipilih tenor panjang. Alasannya, menurut Edward, ekspektasi inflasi yang terukur dan membaiknya neraca perdagangan Indonesia bisa menekan yield surat utang negara (SUN) tenor panjang. Suplai SUN tenor panjang yang menyusut di tahun ini, menurut Fixed Income Fund Manager Ashmore Asset Management Indonesia Anil Kumar, ikut mendongkrak harga SUN tenor panjang. Infovesta Utama memproyeksikan return reksadana campuran sepanjang tahun 2015 sebesar 9%-11%, pendapatan tetap 7%-8%, dan pasar uang 6%-7%. Editor: Yudho Winarto


Jakarta- Tingkat pengembalian investasi (return) produk reksa dana pendapatan tetap (fixed income) selama Januari 2015 berhasil melampaui reksa dana saham. Berdasarkan data Infovesta Utama, rata-rata return reksa dana fixed income sebesar 3,31%, sedangkan reksa dana saham hanya sebesar 0,62%.
Return reksa dana fixed income juga berhasil mengalahkan reksa dana campuran yang sebesar 0,96%. Adapun pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) selama Januari sebesar 1,19%.
Produk reksa dana fixed income yang dikelola oleh PT Mega Capital Investama, yaitu Mega Dana Ori Dua, merupakan produk dengan return tertinggi sebesar 9,74%. Produk reksa dana Mega Capital lainnya, yakni Mega Dana Pendapatan Tetap, berada di posisi dua dengan return 9,54%.
Analis Infovesta Utama Yosua Zisokhi mengatakan, prospek reksa dana fixed income pada kuartal I tahun ini memang lebih baik dibandingkan reksa dana saham dan campuran. “Salah satu penyebabnya adalah inflasi yang turun, sehingga harga obligasi terangkat,” kata Yosua kepada Investor Daily di Jakarta, Selasa (3/2).
Namun, menurut dia, kinerja bagus reksa dana fixed income diperkirakan tidak akan berlangsung hingga akhir tahun ini. Sebab, kinerja obligasi akan tertekan oleh rencana Bank Sentral AS yang akan menaikkan suku bunga acuan tahun ini. Hingga akhir 2015, reksa dana fixed income diproyeksi memberikan return sebesar 6,8-7,4%.
Sementara itu, analis Panin Asset Management Rudiyanto mengungkapkan, kinerja produk reksa dana fixed income tetap menarik. Menurut dia, return produk reksa dana fixed income dalam setahun biasanya berada pada kisaran 8%. “Tapi rata-rata return reksa dana fixed income sudah mencapai 4-6% dalam satu bulan,” ujar dia.
Rudiyanto menegaskan, faktor yang mempengaruhi kinerja reksa dana fixed income adalah deflasi yang terjadi pada Januari. Terjadinya deflasi pada bulan lalu membuat nilai surat utang terangkat, sehingga berpengaruh langsung terhadap return produk reksa dana fixed income.
Pada Januari tahun ini, investor dikejutkan oleh deflasi yang terjadi karena kebijakan pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Padahal, pada akhir tahun lalu, inflasi tercatat terjadi cukup tinggi, karena kebijakan penaikan harga BBM.
Menurut Rudiyanto, produk reksa dana fixed income masih akan bagus dalam satu hingga dua bulan ke depan. “Satu hingga dua bulan ke depan kenaikan masih bisa terjadi,” ungkap dia.
Sementara itu, produk reksa dana yang dikelola PT Panin Asset Management dan PT BNI Asset Management mencetak return paling tinggi pada kelompok reksa dana saham dan campuran selama Januari 2015.
Pada kelompok reksa dana saham, return Panin Dana Prioritas paling tinggi sebesar 3,88%. Sedangkan produk reksa dana campuran BNI Asset, yaitu Dana Berkembang, mencetak return sebesar 6,81% atau paling tinggi pada kelompok campuran.
Yosua memperkirakan, return reksa dana saham hingga akhir 2015 berkisar 8,8-11,6%. Sedangkan return reksa dana campuran sebesar 7,9-9,8%. Kedua jenis reksa dana tersebut diperkirakan tumbuh tidak terlalu jauh dengan proyeksi pertumbuhan IHSG hingga akhir tahun ini sebesar 11%.

Penulis: Muhammad Rausyan Fikry/PCN
Sumber:Investor Daily


INILAH.COM, Jakarta - Risiko gagal dari utang perusahaan emerging market, tidak sampai separuh dari obligasi spekulatif AS atau global. Demikian hasil penelitian perdana tentang negara berkembang dari Standard & Poor, yang dirilis Senin (30/4/2012) waktu setempat. Tingkat kegagalan spekulatif perusahaan emerging market turun menjadi 0,59% pada 2011 dari 1,25% pada 2010. Sedangkan tingkat kegagalan spekulatif perusahaan global turun menjadi 1,71% dari 2,82%, dan AS turun menjadi 1,98% dari 3,3%. “Tentu saja, pasar obligasi emerging market lebih fluktuatif, “kata Diane Vazza, kepala riset pendapatan global tetap di Standard & Poor. “Bagaimanapun, meski tingkat kegagalan emerging market meningkat pada 2009 di tengah krisis keuangan global, tingkat kegagalan spekulatif mereka secara signifikan lebih rendah, ketimbang tingkat standar global, dan hampir satu setengah dari standar perusahaan AS.” http://ekonomi.inilah.com/read/detail/1856470/utang-emerging-market-lebih-aman Sumber : INILAH.COM Jakarta – Positifnya pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi momentum tepat untuk menerbitkan obligasi dan kondisi ini yang mencatatkan Indonesia yang memiliki pertumbuhan pasar obligasi tumbuh besar di Asia Timur.
Kepala Kantor Integrasi Ekonomi Regional ADB Iwan J Azis mengatakan, Indonesia memimpin pertumbuhan pasar obligasi korporasi tertinggi di Asia sebesar dua digit, “Pasar obligasi dalam mata uang lokal di Asia Timur yang sedang tumbuh sebesar 7% menjadai US$ 5,7 triliun pada akhir 2011. Pertumbuhan ini didorong oleh pasar obligasi korporat yang tumbuh sebesar dua digit dipimpin oleh Indonesia dengan pertumbuhan pasar obligasi korporat paling tinggi di kawasan,”katanya di Jakarta, Kamis(26/4).
Dia menjelaskan, pasar obligasi korporat Asia Timur yang sedang berkembang akan terus tumbuh dalam beberapa tahun ke depan karena bank-bank bersiap untuk memenuhi kebutuhan modal yang lebih tinggi.
Alasannya, perusahaan-perusahaan perlu dana untuk ekspansi bisnis di tengah terus melesatnya pertumbuhan ekonomi di kawasan dan tingginya permintaan investasi domestik dan investor. Selain itu dia juga menuturkan, obligasi outstanding yang dijual bank-bank dan perusahaan-perusahaan di kawasan meningkat 17,1% menjadi US$ 1,9 triliun.
Pertumbuhan, lanjutnya, dinilai lebih rendah dibandingkan tahun 2009 atau tahun 2010 tetapi lebih tinggi dari pertumbuhan pada pertengahan tahun 1990. “Laju pertumbuhan obligasi korporat meningkat pada awal 2012 yang menunjukkan cepatnya pertumbuhan pada tahun ini juga,” ujarnya. Iwan pun menambahkan bahwa lembaga-lembaga simpanan kontraktual seperti dana pensiun, perusahaan asuransi dan lembaga jaminan sosial di Asia Timur yang sedang berkembang menjadai pembeli yang makin penting bagi obligasi korporat di kawasan. “Permintaan dari mereka juga akan meningkat karena mereka ingin mendapatkan hasil yang lebih tinggi dan investasi yang berjangka lebih panjang dari yang ditawarkan oleh obligasi pemerintah,” tambahnya. Kata Iwan, obligasi Indonesia memiliki kinerja terbaik di kawasan pada tahun 2011, menghasilkan return sebesar 18,4% untuk obligasi dollar yang tidak di hedge dan 19,7% untuk sekuruh obligasi dalam mata uang lokal. Hingga Desember 2011, Indonesia memilikmi obligasi korporat outstanding sebesar US$ 16 miliar, atau 28% lebih banyak daripada akhir 2010 dan 9,2% lebih tinggi dari akhir September. “Pasar obligasi pemerintah meskipun lebih besar dengan nilai US$ 93 miliar namun hanya tumbuh 0,3% year-on-year dan turun 0,1% quarter-on-quarter,” tambahnya. Disampaikannya, pernerbitan obligasi korporat di Indonesia akhir-akhir ini berasal dari bank dan perusahaan-perusahaan spesialis keuangan didorong oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cepat dalam beberapa tahun terakhir ini. “Meningkatnya peringkat kredit pemerintah menaikkan obligasi korporat pada awal tahun 2012,” paparnya. Sebagai catatan, kepemilikan obligasi Indonesia oleh pihak asing turun dari 31,3% pada akhir September 2011 menjadi 30,2% pada akhir Desember. “Pada bulan Januari, meningkatnya peringkat kredit Indonesia menaikkan lagi investasi asing sebesar 32,1% sebelum turun lagi menjadi 30,4%, “ungkapnya. Indonesia memiliki masa jatuh tempo obligasi dalam waktu 10 tahun atau lebih, dimana angka yang tertinggi di kawasan dan naik 37% pada akhir 2010. Padahal negara-negara yang memiliki lebih banyak utang jangka panjang kurang rentan terhadap krisis likuiditas, meskipun ada beberapa kekwatiran semacam itu pada saat ini. (mohar) http://www.neraca.co.id/2012/04/26/indonesia-pimpin-pasar-obligasi-korporasi-di-asia-timur /Sumber : NERACA.CO.ID

Tidak ada komentar: