gW suka BANGET ketidakPASTIan

gW suka BANGET ketidakPASTIan

Selasa, 15 Oktober 2013

gw UDA TERBUKTI SUKSES @investasi jangka panjang ... thanks God n Nobel

October 14, 2013 3 American Professors Awarded Nobel in Economic Science By BINYAMIN APPELBAUM WASHINGTON — Three American professors — Eugene F. Fama, Lars Peter Hansen and Robert J. Shiller — were awarded the Nobel Memorial Prize in Economic Science on Monday for competing theories about the movements of asset prices.
The three men, who worked independently, were described as having collectively illuminated the financial markets by showing that stock and bond prices moved unpredictably in the short term but with greater predictability over longer periods. The prize committee said these findings showed that markets were moved by a mix of rational calculus and human behavior.
The decision to honor Mr. Fama and Mr. Shiller as contributors to a shared understanding of financial markets, however, papered over differences in their work that have been enormously consequential in recent years. Mr. Fama was honored for his work in the 1960s showing that market prices are accurate reflections of available information. Mr. Shiller was honored for circumscribing that theory in the 1980s by showing that prices deviate from rationality. The difference in a nutshell?
Mr. Shiller issued prescient warnings about the housing bubble, while Mr. Fama continued to insist, even after the financial crisis, that prices had been rational. “I don’t even know what a bubble means,” he said in 2010. Mr. Hansen was honored for technical contributions that have made it easier to evaluate reasons for the movement of asset prices. His work has helped expand the extent to which rational considerations can explain price movements.
Mr. Fama and Mr. Hansen are professors at the University of Chicago; Mr. Shiller is a professor at Yale University. Their work “laid the foundation for the current understanding of asset prices,” according to a statement from the Royal Swedish Academy of Sciences, which awards the annual prize. Mr. Fama, 74, was honored for showing that asset prices are “extremely hard to predict over short horizons.” His work, beginning in the 1960s, showed that asset prices moved efficiently in the short term, quickly incorporating new information and leaving little opportunity for predictable profits. The theory basically asserted, in the words of the economist Burton G. Malkiel, that
“a blindfolded monkey throwing darts at a newspaper’s financial pages could select a portfolio that would do just as well as one carefully selected by experts.”
It has influenced the way many people
invest
, contributing to the popularity of index funds that invest in broad, diversified baskets of equities and other assets. Mr. Shiller, 67, introduced in the early 1980s an important caveat to the idea that markets operate efficiently, finding that
stock and bond prices show greater predictability over longer periods.
Mr. Shiller and other economists see evidence that these movements cannot be entirely explained by rational decision-making, and instead reflect
the irrational behavior of investors.
In 2000, Mr. Shiller published “Irrational Exuberance,” a book that detailed his view that stocks were overvalued at the time. The market crashed soon thereafter. Mr. Shiller’s work does not contradict Mr. Fama’s findings about the short-term movement of stock prices. But it has helped to underpin
a new generation of economic research into the mechanics of bubbles.
The committee also honored Mr. Hansen, 60, for his work in developing a statistical method for testing theories of asset price movements, which has helped to show that risk measures can explain some price changes. Mr. Shiller, reached by phone during the news conference announcing the award, described his reaction. “Disbelief,” he said. “That’s the only way to put it.” Mr. Fama, asked whether he had anticipated this moment, said, “I didn’t want to presume that I would win.” He added, “I knew that I would be thrilled, of course.”
TABEL imbal hasil reksa dana saham yang gw inves sejak pertama kale, @ schroder dana prestasi plus, manulife dana saham, bnp paribas ekuitas dan schroder dana istimewa:


catatan IMBAL HASIL REKSA DANA SAHAM gw dalam JANGKA PANJANG
per tgl 28 Februari 2013:

JAKARTA - Mulai tahun ini, beberapa perusahaan manajer investasi (MI) mulai mencari investor yang ingin berinvestasi jangka panjang hingga 30 tahun. Semakin lama periode investasi, semakin mudah bagi MI mengelola dan mendapatkan keuntungan. Saat ini, sebagian besar investor berinvestasi dengan jangka waktu antara 5 tahun - 6 tahun dan tidak sedikit yang hanya di bawah setahun. Putut Endro Andanawarih, Direktur Spesialis Investment Manulife Asset Management Indonesia (MAMI) berkata, MAMI belum memiliki satu pun investor jangka panjang. Mulai tahun ini, MAMI akan menyasar calon investor dari kalangan muda agar mau berinvestasi jangka panjang. "Kami akan mencari investor anak muda yang baru bekerja, jadi bukan orang kaya," ujar Putut, Senin (30/1/2012). Untuk merealisasikan program itu, MAMI akan meluncurkan reksadana baru, yakni Manulife Investmen Plan. Sayang, Putut masih merahasiakan karakteristik produk itu. "Yang pasti produk itu akan memudahkan investor muda merencanakan masa depannya dengan sedikit uang secara rutin," tandasnya. Manajemen MAMI berharap, rencana bisnis ini dapat mendongkrak dana kelolaan atau asset under management (AUM) di tahun 2012 sebesar Rp 45 triliun, tumbuh 25 persen dibandingkan tahun 2011. Tahun lalu, MAMI memiliki nasabah sebanyak 20.000 orang. Tahun 2012 ini, target tersebut naik menjadi 25.000 nasabah. "Kami akan memperbanyak jaringan distributor, sekitar 2-3 unit lagi," kata Putut. Sekarang, jumlah distributor pemasaran produk MAMI sebanyak 13 unit. Michael T. Tjoajadi, Direktur Utama PT Schroder Investment Management juga mulai membidik investor jangka panjang. Sebenarnya, Schroder sudah mulai menjalankan program itu sejak tahun lalu, tapi belum menuai hasil. "Tahun ini, kami akan menjalankan program ini secara konsisten," kata Michael. Itu sekaligus untuk mencapai target AUM antara Rp 67 triliun - Rp 68 triliun pada tahun ini. Di 2011 lalu, Schroder berhasil mendapatkan dana kelolaan Rp 63 triliun. http://www.tribunnews.com/2012/01/31/investor-jangka-panjang-mulai-jadi-incaran Sumber : TRIBUNNEWS.COM
sila simak tabel2 berikut
uuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
sebagai investor jangka panjang @reksa dana (saham, campuran, pendapatan tetap, dan pasar uang; terlebe lage ada yang valas dan terproteksi), maka gw seh BOBO aja dalam jangka pendek
berikut ini KOMENTAR SEORANG MANAJER INVESTASI PROFESIONAL @ KINERJA IMBAL HASIL 1 TAON (2013 ytd) REKSA DANA SAHAM
well, sila berkomentar de, gw mah uda hepi dalam jangka panjang, khan uda biasa menghadapai BADAI KRISIS YANG GLOBAL ... well, SEMOGA GA USA ADA LAGE BADAI KRISIS EUROZONE atawa kawasan laennya, apalagi kawasan ASEAN jelang AEC atawa FTA

Investasi Reksa Dana Saham Diprediksi Kurang 'Kinclong' Tahun Ini

Dewi Rachmat Kusuma - detikfinance
Senin, 07/01/2013 07:27 WIB

Jakarta - Investasi di reksa dana saham diprediksi tidak akan cemerlang tahun ini. Imbal hasil (return) reksa dana saham tahun ini berkisar di angka 9% atau lebih rendah dari rata-rata imbal hasil reksa dana saham tahun 2012 sebesar 10,06%.

"Tahun ini reksa dana saham kurang bagus," kata Manajer Investasi dari Sucorinvest Asset Manajemen Jemmy Paul saat dihubungi detikFinance, Senin (7/1/13).

Menurut Jemmy, adanya risiko likuiditas yang sulit untuk mengikuti pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi penyebab kurang bagusnya investasi reksa dana saham tahun ini. Apalagi, kata dia, Indonesia tahun ini hingga tahun 2014 akan menghadapi gejolak politik.

"Tahun 2012 juga return reksa dana saham hanya 10,06%, di bawah indeks yang sampai 12,94%. Tahun ini juga kurang bagus. Hampir setiap tahun return selalu di bawah indeks. Ya mungkin itu pilihan saham-sahamnya yang kurang tepat," ujarnya.

Selain itu, skill dari para manajer investasi di Indonesia yang masih terbatas dan juga kondisi Eropa yang masih akan mengalami resesi juga masih mempengaruhi kinerja.

"Tapi ini bukan faktor utama sih," kata dia.



(ang/ang)
...
coba simak posting gw sebagai pemaen saham Indonesia, YANG BUKAN PENJUDI, dan BUKAN PERAMAL, berikut ini:
tersenyum karena IMBAL HASIL @maen saham (warteg inves + trading)
dan koleksi saham gw di atas tren ihsg
iiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiSSSSSSSSSSSSSSSSSSSiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii
tampaknya JEMMY PAUL BENAR, at least until September 2013, REKSA DANA SAHAM memang sedang ANJLOK KARENA LIKUIDITAS ... well, saatnya TIME2BUY bwat gw, karena pertanda REBOUND KUAT MULAI TERJADI : simak baek2 bwat PARA PENCEMAS saham 

uuuuuuuuuuuuuuuTTTTTTTTTTTTTTTTTTTuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu
coba simak IMBAL HASIL c(ari)u(ntung)s(esaat) pada sekira 2 bulan (2011) dan INVES Reksa Dana Saham yang bersangkutan (2011-2013) : 
jjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjKKKKKKKKKKKKKKjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjjj
DIBANDINGKAN DENGAN TREN IHSG, wow, tren NAB reksa dana gw MASEH LEBE KINCLONG seh :) per tgl 20 Sep 2013
per tgl 24 Januari 201empat, investasi jangka panjang reksa dana saham gw MANI3$Z: 

xxxxxxxxxxxxxxxxxYYYYYYYYYYYYYYYxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Investasi Jangka Panjang Baik di Tengah Gejolak
Kamis, 10 Oktober 2013 | 7:41



JAKARTA-Pengamat pasar modal Indonesia Siswa Rizali mengemukakan bahwa strategi investasi dengan orientasi jangka panjang dinilai lebih baik di tengah kondisi pasar modal Indonesia yang sedang bergejolak.

"Membahas kinerja jangka pendek (kurang dari satu tahun), cenderung kurang berguna dan menghabiskan waktu," ujar Siswa Rizali yang juga Head of Investment AAA Asset Management di Jakarta, Rabu.

Ia mengaku bahwa pihaknya terus melakukan pembahasan proses investasi dengan pemodal dan merubah orientasi investasi ke jangka panjang.

Ia mengatakan saat ini kinerja produk reksa dana perusahaan juga lebih baik dari indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dipaparkan, sepanjang 2013 ini kinerja produk reksa dana AAA Balanced Fund mencatatkan imbal hasil sebesar 6,55 persen, sementara IHSG BEI sebesar 4,55 persen.

Sementara itu, produk reksa dana perusahaan jenis saham yakni, AAA Equity juga mengalami catatan positif dengan kenaikan imbal hasil sebesar 4,77 persen.

"Reksa dana campuran memiliki kinerja lebih baik, hal itu dikarenakan dalam kondisi pasar bergejolak sejak pertengahan 2012 lalu hingga 2013 perusahaan memungkinkan untuk melakukan alokasi aset secara taktis," kata Rizal.

Ia juga mengatakan bahwa untuk kinerja produk terbaru PT AAA Asset Management yakni AAA Enhanced Strategy Fund juga jauh lebih baik dibanding IHSG.

"Produk AAA Enhanced Strategy Fund terus mendapat 'subscription'. Saat ini dana kelolaan di produk itu sekitar Rp90,486 miliar," katanya.

Rizal mengakui bahwa nilai aktiva bersih dari produk AAA Enhanced Strategy Fund itu sempat mengalami penurunan seiring dengan koreksi IHSG, namun koreksi produk itu cenderung lebih kecil. Sedangkan pada saat IHSG menguat, AAA Enhanced Strategy bisa mengimbangi kenaikan IHSG.

"Untuk meminimalisir risiko di tengah kondisi pasar yang bergejolak dan prospek ekonomi makro yang tidak menentu, kami fokus pada kinerja fundamental dan valuasi perusahaan. Selain itu, alokasi sektoral juga relatif berimbang, sehingga tidak menebak-nebak sektor yang paling bagus momentumnya," kata dia.(ant/hrb)




4 komentar:

Anonim mengatakan...

Apakabar om ? Semoga sehat selalu. Kalo sy invest di sector cement gmn outlooknya om ETS ? Niatnya mau costaveraging 1month sekian lot gitu. Makasih om.

Ekonomi Takserius mengatakan...

Halo juga dan lage, ETS ga inves di sektor semen seh ... secara umum ETS coba menyimak perkembangan @ infrastruktur dan properti ... 2014: taon ujian semua pembangunan, khususnya infrastruktur dan properti ... properti mungkin terkoreksi turun, sehingga mungkin permintaan semen juga turun ... infrastruktur mungkin maseh bisa naek pembangunannya, tapi bisa juga stagnan seh ... well, dalam jangka panjang, sektor semen maseh menjanjikan... beli secara dollar cost averaging maseh oke kayaknya :)

Anonim mengatakan...

Nah itu dia yg sy mksd hehe buy cost averaging loooong, kalo semen pendatang baru SMBR gitu menjanjikan utk loooong sprt RDnya om ETS atau engga om ? Sy Udah mulai buycostaveraging dgn lot kecil banget :) ±6bulan ini.

Ekonomi Takserius mengatakan...

well, sorry ya ETS ga bisa jawab saham per saham,apalagi gw ga inves di saham tersebut ... he3, kalo maksa juga, tetap tanggung risiko sendiri ya :)