gW suka BANGET ketidakPASTIan

gW suka BANGET ketidakPASTIan

Sabtu, 25 Mei 2013

NAB reksa dana SAAT REDEMPTION DIHANTUI BBM ... 250513

Pertumbuhan NAB Produk Reksa Dana Nasional Melambat

Wahyudi Siregar - Okezone
Jum'at, 24 Mei 2013 19:10 wib

MEDAN - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) untuk terus menyosialisasikan layanan investasi reksa dana ke pada masyarakat. Hal itu sehubungan dengan melambatnya pertumbuhan dana aktiva bersih pada produk reksa dana.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Nurhaida mengungkapkan, pada kuartal I-2013 ini, nilai aktiva bersih (NAB) untuk produk reksa dana hanya mencapai Rp197 triliun. Tumbuh sekira sembilan persen dibandingkan kuartal I-2012 lalu. Padahal perolehan NAB ini sempat tumbuh 12 persen, antara periode kuartal I-2011 ke kuartai I-2012.

"Untuk tahun ini, NAB investasi reksa dana mencapai sembilan persen dengan total mencapai Rp197 triliun. Agak melambat dan memang masih jauh dari NAB dari investasi saham. Tapi saya pikir ini hanya sementara. Kinerjanya sebenarnya cukup memuaskan, apabila kita melihat beberapa waktu lalu, jumlah NAB nya sempat lebih rendah hingga 30 persen, dari yang ada saat ini," jelasnya kepada Okezone, usai membuka Pekan Investasi Reksa Dana Nasional 2013, di Medan, Jumat (24/5/2013).

Sementara itu Direktur Pengelolaan Investasi OJK, Fahri Hilmi menuturkan cenderung melambatnya pertumbuhan kapitalisasi pada investasi reksa dana, didorong oleh belum cukup dalamnya penetrasi pemasaran produk reksa dana ke masyarakat.

Tercatat, dari sekira Rp161 triliun dana kelolaan reksa dana, 70 persen sampai 80 persennya hanya terpusat di Jawa. Ironisnya, pertumbuhannya juga hanya sekitar tiga persen sampai lima persen per tahun.

"Target kita untuk pertumbuhan reksa dana ini sebenarnya cukup tinggi. Mencapai 15 persen hingga lima tahun ke depan. Tapi faktanya pada saat ini, dengan konsentrasi dana sekira 70 persen sampai 80 persen dana di wilayah pulau Jawa, jumlah dana kelolaannya hanya bisa tumbuh tiga persen sampai lima persen saja. Begitupun dengan profile ekonomi kita yang sekarang, kami optimistis APRDI dapat mewujudkan target itu," ucapnya.

Sementara itu, Ketua APRDI Denny Taher mengaku ia dan perusahaan manager investasi anggota asosiasinya siap memenuhi target OJK itu. Dengan sosialisasi secara berkesinambungan yang terus dilakukan, serta didukung profile perekonomian masyarakat Indonesia saat ini, maka target pertumbuhan sekira 15 persen itu tidaklah terlalu sulit.

APRDI sendiri sudah memiliki skema baru untuk memenuhi target tersebut, dengan memfokuskan penggarapan investasi reksa dana di pasar ritel.

"Reksa dana sejatinya memang disiapkan untuk sektor ritel. Dan kita akan mendudukkan itu, dengan menggarap sektor ritel ini secara lebih intensif. Kita lakukan sosialisasi hingga ke lapisan masyarakat terbawah. Kami yakin, perubahan akan berhasil jika dimulai dari keluarga. Oleh karena itu, kami ingin semua keluarga Indonesia bisa memahami Reksa dana bisa menjadi instrumen keuangan untuk mempersiapkan masa depan. Sistem perencanaan keuangan Keluarga-keluarga di Indonesia harus dimodernisasi," pungkasnya. (wan) (wdi)

Tidak ada komentar: