Kamis, 11 Oktober 2012

Kep0 lo :)

Keamanan investor reksadana harus dijamin Reporter: Harwanto Bimo Pratomo Jumat, 5 Oktober 2012 13:49:43 Turunnya minat masyarakat untuk menanamkan uangnya di investasi reksadana tahun ini harus ditangani dengan edukasi investasi. Edukasi tersebut termasuk jaminan keamanan investasi reksadana. Reksadana adalah bentuk investasi berbasis saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Reksadana bisa ditanamkan melalui pembelian paket saham atau berdasarkan pendapatan tetap. Data Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) menunjukkan bahwa jumlah unit penyertaan reksadana hingga akhir Agustus lalu turun 2,28 persen menjadi Rp 169,99 triliun dibandingkan bulan Juli. Pemerintah merasa perlu untuk meningkatkan keamanan investor dalam memperkuat kepercayaan investasi Indonesia. Hal ini juga sebagai langkah antisipasi potensi penurunan kinerja reksadana di tahun depan. Wakil Menteri Keuangan, Mahendra Siregar, mengatakan program edukasi investasi masyarakat terus diharapkan terus dilakukan. "Untuk menjaga supaya calon investor itu yakin juga upaya kita untuk meningkatkan proteksi atau keamanan dari investor, konsumer proteksi itu yang harus diperbaiki supaya ada rasa kepercayaan yang lebih baik," ujarnya saat ditemui di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (5/10). Masyarakat harus diyakinkan bahwa investasi reksadana Indonesia meski tahun depan berpotensi menurun namun tidak akan merugikan masyarakat ke depannya. "Saya rasa dari segi insentif dan potensi keuntungan sudah jelas. Jadi keamanan dan perlindungan itu yang harus ditingkatkan," tuturnya. [rin] ... menurut MERDEKA mengutip survei AC NIELSEN: 4 kota besar Indonesia yang PALING RAJIN MENABUNG adalah berurutan: Yogyakarta, Jakarta, Semarang dan Surabaya ... sementara perilaku menabung makin sehat, perilaku investor MAKIN MEMPRIHATINKAN: ROY SEMBEL: Malas Belajar, Jangan Investasi Intan Pratiwi October 10, 2012 07:10 bisnis indonesia JAKARTA: Meningkatnya ekonomi turut mendukung perkembangan investasi di produk derivatif atau kontrak berjangka. Di sisi lain, marak terjadi modus-modus penipuan atau kecurangan. Problematika ini coba diurai Roy Hendra Michael Sembel, Direktur Bursa Berjangka Jakarta, dalam wawancara dengan Bisnis belum lama ini. Berikut petikannya. Penipuan dalam investasi derivatif emas ataupun valas [forex] marak terjadi. Menurut Anda kenapa ini bisa terjadi? Para penipu memanfaatkan beberapa kelemahan fundamental masyarakat. Pertama, ada ketidaktahuan. Kedua, faktor emosi dan serakah. Ketiga, emosi lalu ikut karena takut dipandang tidak tahu. Keserakahan dan rasa takut itulah yang dimanfaatkan oleh penipu dengan iming-iming keuntungan besar. Apalagi bahayanya saat ini masyarakat Indonesia banyak yang naik kelas dari kelas bawah menjadi menengah maka ini jadi lahan besar penipu. Modus apa yang biasa ditemukan terjadi dalam penipuan berkedok investasi? Pertama, modusnya berkedok penawaran investasi. Mereka memberikan jaminan untuk mendapatkan keuntungan yang besar. Misalnya lebih besar dari bunga deposito biasa. Deposito sekarang kan 5% per tahun. Mereka yang menipu berani menawarkan 10% per bulan dijamin fixed itu sudah tidak masuk akal. Kita bicara 60% per tahun. Kalau bunganya sampai seperti itu kenapa harus ditawarkan ke kita. Kenapa tidak mereka lakukan sendiri pinjam uang dari bank dan diputar uangnya dalam waktu singkat mereka jadi konglomerat. Kedua, modus member get member atau cari teman yang lain untuk investasi tapi tidak ada barangnya. Kalau bisa masukin temannya kita diberi komisi 10%. [Bayangkan] Komisi 10% sangat besar, bagaimana recover-nya dan bisa berapa lama? Modus lain yang umum? Adapula modus ketiga, perusahaan yang menawarkan tidak jelas karena tidak ada izin dari lembaga resmi Bapepam-LK, Bank Indonesia, dan Bappebti. Mereka biasanya pakai izin lain-lain tapi tidak ada izin resmi dari lembaga tersebut. Kalau tidak ada izin berarti tidak legal. Waspadai iming-iming nilai besar yang berkaitan dengan nilai keagamaan. Misalnya ini ditawarkan keuntungannya bias dipakai naik haji, atau investasi ini sesuai dengan ayat kitab suci dan yang menawarkan mengaku-ngaku sebagai pemuka agama atau tokoh masyarakat. Ada juga modus menggandeng orang terkenal atau selebritas yang belum tentu mengerti tentang investasi. Jadi harus dicek dulu di lembaga resmi. Jangan sampai teriming-iming dengan artis. Saat ini juga marak investasi berbasis online. Bagaimana Anda mencermatinya? Apalagi ini. Investasi online, yang tidak jelas kantornya. Kantornya jelas saja masih belum menjamin, karena kantor bisa saja sekedar sewa. PT tidak jelas baru didirikan kemudian orangnya kabur bawa uangnya. Selama ini apakah banyak laporan yang masuk ke BBJ? Kami di BBJ itu self regulatory organization. Jadi yang kami urus adalah anggota bursa kami saja karena kami bukan pemerintah atau BUMN. Tidak ada wewenang untuk mengatur yang bukan anggota. Kalau di dalam bursa ada banyak proteksi dalam sistem perdagangan ini. Apa saja proteksinya? Misalnya, perusahaan pialangnya bukan sembarangan dan harus melalui proses penelitian. Tempatnya dilihat dan juga ditelusuri apakah memiliki wakil pialang bersertifikasi atau tidak. Izin harus lengkap, server jelas harus terkoneksi ke bursa. Mereka harus punya rekening khusus untuk menampung dana nasabah. Dana nasabah hanya ditransfer ke rekening tersebut dan ada infonya di website bursa. Rekening khusus tidak boleh dipakai untuk operasional perusahaan karena itu adalah dana milik nasabah. Produk juga harus resmi dan standar di bawah pengawasan Bappebti. Perusahaannya juga secara reguler diaudit. Bagaimana jika ditemukan kecu rangan atau kasus broker resmi yang 'nakal'? Ya, memang dengan adanya perlindungan saja masih ada oknum yang nakal. Tapi paling tidak, kalau ada pengaduan bisa diaudit secara khusus. Kalau memang ditemukan hal yang salah dilihat salahnya apakah oleh oknum atau perusahaan. Kalau oknum salah dikejar. Kalau perusahaan salah diberi surat peringatan. Peringatan tidak diindahkan ya perusahaan ditutup. Bisa dijelaskan tips awal sebelum melakukan investasi? Pesan saya 6B belajar dan belajar. Pertama, belajar instrumen investasi agar jangan 'beli kucing dalam karung'. Kedua, belajar mekanisme investasi perdaganganya. Ketiga, belajar strategi investasinya. Keempat, belajar dengan simulasi terlebih dulu, minimal 1 bulan. Ini saya rasa juga belum cukup seharusnya antara 3 hingga 6 bulan. Kelima, belajar berinvestasi bertahap misalnya disebar dalam 12 bulan. Keenam, belajar mengendalikan emosi dan jangan mudah diiming-iming. Apa yang harus dilakukan masyarakat awam saat memulai berinvestasi? Pertama, pakai jalur resmi. Kedua, kalau diminta transfer ke rekening harus dikirim ke segregated account. Jadi kan bisa dipantau karena itu uang nasabah yang tidak boleh dipakai perusahaan. Ketiga, mulailah dengan transaksi di dalam bursa atau kontrak multilateral. Sangat dianjurkan transaksi sendiri jangan nitip ke orang lain seperti marketing. Usahakan harus bertemu dengan wakil pialangnya yang bisa menjelaskan risiko investasi. Kemudian apabila transaksi sudah selesai maka investor harus punya hak mengecek transaksi ke bursa. Kalau tidak tercatat ini kan bisa saja dimainkan. Kalau tercatat ini akan lebih mudah terpantau. Apa produk yang paling cocok untuk pemula berinvestasi? Tidak ada yang aman kalau kita tidak belajar. Kalau tidak tahu jangan berinvestasi dan jangan nitip-nitip. Kalau tidak mau belajar jangan investasi. Jangan langsung nyemplung tapi lakukan simulasi terlebih dulu. Dengan simulasi Anda bisa bandingkan antara kejadian di lapangan dengan teori. Jika simulasi sudah jalan, mulai lakukan transaksi sedikit-sedikit. Kalau kemampuan ini sudah cukup, baru ditambah pelanpelan. Kemudian harus ada risk management, kapan Anda mesti cut loss keluar dari market. (ra)

Tidak ada komentar: