gW suka BANGET ketidakPASTIan

gW suka BANGET ketidakPASTIan

Kamis, 28 Januari 2010

reksa dana terkait obligasi 2010 ...280110

Meneropong Obligasi di Tahun Harimau
Kamis, 07 Januari 2010
Oleh : Dede Suryadi
Tahun 2010, inflasi dan suku bunga diprediksi bakal naik. Hal ini akan berpengaruh terhadap pasar obligasi. Bagaimana prospek surat berharga ini pada Tahun Harimau nanti?

Menjelang akhir 2009, sejumlah perusahaan telah berancang-ancang menerbitkan obligasi di tahun 2010. Berdasarkan riset SWA, sedikitnya sudah ada 19 perusahaan yang akan meluncurkan obligasinya di Tahun Harimau itu. Mereka, di antaranya, Bank Panin (meluncurkan obligasi senilai Rp 1,5 triliun), PT Indosat Tbk. (Rp 1,5 triliun), PT Pertamina (Rp 1 triliun), Bank Tabungan Negara (Rp 1,5 trilun), PT Perusahaan Listrik Negara/PLN (Rp 1,5 triliun) -- lihat Tabel: Obligasi yang Akan Terbit di 2010.

PLN ini akan menerbitkan obligasi dengan nama Obligasi PLN XI Tahun 2010 dan Sukuk Ijarah PLN IV Tahun 2010 yang masing-masing bernilai Rp 1 triliun dan Rp 500 miliar. Obligasi konvensional dan sukuk ijarah itu masing-masing memiliki jangka waktu tujuh tahun dan sepuluh tahun. PT Danareksa Sekuritas, PT Bahana Securities dan PT Mandiri Sekuritas bertindak selaku penjamin pelaksana emisinya.

Masa penawaran awal obligasi dan sukuk ijarah ini adalah pada Desember 2009 (book building), sedangkan pencatatan atas seluruh obligasinya pada Bursa Efek Indonesia direncanakan pada 13 Januari 2010. Marciano Herman, Direktur PT Danareksa Sekuritas, optimistis obligasi PLN ini akan diminati banyak investor. Alasannya, proyeksi permintaan listrik dan rasio elektrifikasi untuk 7-10 tahun ke depan sangat menjanjikan. Selain itu, PLN memiliki rekam jejak yang baik dan tidak pernah gagal bayar (default) untuk penerbitan kesepuluh obligasi sebelumnya, sehingga risiko obligasi PLN XI Tahun 2010 dan Sukuk Ijarah PLN IV Tahun 2010 relatif kecil.

Sampai saat ini, PLN telah menerbitkan obligasi dan sukuk ijarah senilai Rp 9,1 triliun, yang semua kewajiban pembayarannya dijalankan selalu tepat waktu. Pefindo memberikan peringkat idAA- (double A minus; stable outlook) untuk obligasi dan idAA-sy (double A minus syariah; stable outlook) untuk sukuk Ijarah. PLN berencana menggunakan dana obligasi terkumpul untuk investasi pembangunan transmisi dan distribusi setelah dikurangi biaya-biaya lainnya.

Menjelang akhir 2009 sampai 2010 memang akan banyak perusahaan yang menerbitkan obligasi. Dana yang diraih dari obligasi itu selain untuk ekspansi usaha juga akan digunakan untuk refinancing obligasi yang akan jatuh tempo.

Beberapa issuer yang akan menerbitkan obligasi itu adalah perusahaan besar dan sejumlah BUMN dengan rating yang bagus. Makanya, dilihat dari sisi kualitas kredit, perusahaan yang akan menerbitkan obligasi tersebut adalah perusahaan dengan kualitas kredit bagus. Dari sisi imbal hasil (return) atau kupon, obligasi yang akan diterbitkan diharapkan akan memberikan kupon yang menarik mengingat pasar obligasi korporasi baru mulai bergairah sehingga supaya obligasi ini laku dijual, imbal hasil kemungkinan masih premium.

Bursa Efek Indonesia memprediksi total penerbitan obligasi korporasi pada 2010 akan mencapai Rp 35 triliun atau naik 9,3% dibanding total penerbitan obligasi 2009 yang sekitar Rp 32 triliun. Kenaikan ini memang lebih rendah dibandingkan sebelumnya. Pasalnya, tahun 2008 nilai obligasi yang diterbutkan sekitar Rp 14 triliun berarti terjadi peningkatan 130% di 2009.

Ada beberapa faktor yang akan berpengaruh tarhadap pasar obligasi di 2010. Diramalkan, pemerintah akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) sejalan dengan meningkatnya harga minyak dunia. Efeknya, kalau harga BBM meningkat, inflasi juga naik. Pastinya, ketika inflasi meningkat, suku bunga bank pun akan terkerek.

Pihak Bank Indonesia memperkirakan inflasi di tahun 2010 dan 2011 berada pada kisaran 5%, dengan plus-minus 1%. Adapun pada 2009 inflasi lebih rendah di kisaran 4,5% plus-minus 1%. Namun, perekonomian Indonesia di tahun 2010 akan tumbuh mencapai kisaran 5,0%-5,5% dan pada 2011 menjadi 6,0%-6,5%. Artinya, pencapaian ini lebih dtinggi dibanding pertumbuhan ekonomi di 2009 sebesar 4,3%. Pertumbuhan yang lebih tinggi tersebut sejalan dengan tingkat pemulihan perekonomian dunia serta semakin kondusifnya pasar keuangan dan perbankan yang disertai dengan terjaganya kondisi fundamental domestik.

Adler Manurung, pengamat pasar modal, berpandangan, selain masalah inflasi dan suku bunga, yang harus dilihat juga oleh perusahaan yang akan menerbitkan obligasi adalah seberapa besar pemerintah akan mengeluarkan surat utang negara (SUN). Ia mencatat, tahun 2009 SUN yang diterbitkan pemerintah mencapai Rp 144 triliun. Sementara, di 2010 pemerintah menurunkan targetnya menjadi Rp 104,4 triliun. “Berarti di sini ada peluang bagi obligasi korporasi untuk dibeli pasar. Artinya, tahun depan (2010 – Red.) masih ada prospek,” katanya menegaskan.

Dengan melihat kondisi itu, Adler menyarankan kepada para issuer segera menerbitkan obligasinya sebelum pemerintah menerbitkan SUN dan menaikkan BBM. “Ya, paling tidak sampai Maret-lah,” ungkapnya memberi saran. Alasannya, kalau pemerintah sudah meluncurkan obligasinya, akan susah bagi para issuer perusahaan menjual obligasinya karena investor lebih membidik obligasi pemerintah yang dianggap lebih menarik.

Lalu, bagaimana respons investor? Abiprayadi Riyanto, Presiden Direktur PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), mengatakan bahwa para investor atau fund manager tentu akan memilih obligasi dari perusahaan dengan rating dan industri yang bagus. Kalau obligasi pemerintah, sudah pasti akan jadi pilihan.

Obligasi pemerintah merupakan obligasi yang memiliki tingkat risiko rendah dan imbal hasilnya masih bagus, kendati akhir-akhir ini imbal hasilnya semakin kecil. Hal ini disebabkan oleh animo yang sangat besar dari para investor dan fund manager, sehingga harganya naik. Semakin tinggi harganya, imbal hasil yang bisa dinikmati akan berkurang. “Obligasi Pemerintah Indonesia juga sangat diminati investor asing dengan perkiraan kepemilikan asing pada obligasi pemerintah saat ini adalah Rp 108 trilliun,” Abi menambahkan.

Strategi MMI dalam berinvestasi di obligasi tergantung pada jenis produknya. Ada banyak sekali produk reksa dana MMI yang berinvestasi di obligasi. Beberapa reksa dana khusus hanya berinvestasi pada obligasi pemerintah, dan sebagian yang lain investasinya kombinasi antara obligasi pemerintah dan obligasi korporasi. Sesuai dengan karakteristik reksa dana itu sendiri, yaitu merupakan instrumen investasi jangka panjang, maka pemilihan obligasi dilakukan dengan pertama kali melihat kualitas kreditnya, yaitu rating obligasi tersebut. Setelah itu, dilihat besarnya imbal hasil. Selanjutnya, dilihat pula apakah issuer merupakan perusahaan yang tumbuh dengan baik atau tidak. Pertumbuhan perusahaan akan menghasilkan tambahan keuntungan, yaitu berupa capital gain.

Besarnya obligasi yang akan dibeli sangat bergantung pada subscription investor pada reksa dana pendapatan tetap yang dijual MMI. Makin besar dana kelolaan berarti semakin besar pula pembelian obligasi yang dapat dilakukan. Seperti disebutkan sebelumnya, kualitas kredit yang tecermin pada tingkat rating obligasi yang diterbitkan sangat penting. “Kemudian kami harus mengerti karakteristik industrinya supaya pertumbuhan perusahaan dan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya dapat dianalisis,” papar Abi.

Imbal hasil obligasi korporasi biasanya dihitung menggunakan formula yield obligasi pemerintah plus spread. Besarnya spread akan sangat bergantung pada tingkat rating obligasi yang akan diterbitkan. Rating akan diberikan oleh lembaga pemeringkat; salah satunya yang sering digunakan adalah Pefindo. “Spread dari beberapa obligasi korporasi yang diterbitkan menjelang akhir tahun 2009 ini cukup menarik buat investor,” ungkap Abi lagi. Meski demikian, di Tahun Harimau nanti, pasar obligasi sepertinya akan tertekan akibat naiknya suku bunga akibat tekanan inflasi.


Riset: Dumaria Manurung majalah swa

Tidak ada komentar: